Jumat, 31 Agustus 2012

MALING


( Cerpen ini adalah cerpen pertamaku yang dimuat di Colosseum Radar Bromo - sekarang  Ruang Publik Radar Bromo . Dimuatnya cerpen ini melecutkan semangatku untuk menulis lagi setelah mati suri menulis selama 5 tahun )

Setidaknya aku bukan maling ayam seperti seorang lelaki ceking yang meringkuk di pojok sel. Asyik menekan-nekan memar di kedua kakinya. Juga di sepanjang kedua lengannya. Wajah serta lehernya. Yang aku yakin, semuanya bekas tendangan kaki warga yang menangkapnya. Bengkak dan merahnya, membuat aku meringis.
Setidaknya aku juga bukan maling keperawanan gadis tetangga, seperti lelaki bertato yang tidur mendengkur sejak tadi. Sepertinya, dia puas sekali dengan tindak kejahatan yang dilakukannya dua hari yang lalu. Dan tampak jelas,  dia juga  masuk ke dalam sel ini dengan kenikamatan, alias hampir tidak ada luka di tubuhnya.
Dan, aku juga bukan maling uang rakyat, seperti seoarang anggota dewan yang duduk dia lantai menyandar di tembok sel yang dingin, dengan baju masih rapi dan necis. Tampak sekali dia tidak nyaman dengan ruangan pengap, kotor, dan bau keringat berkolaborasi dengan daki dari masing –masing penghuninya.
Tapi, dengan berada dalam sel ini, bukan berarti aku bukan maling. Aku juga maling, tapi tidak seperti mereka bertiga.
“Kamu cuma pinjam uang ?” tanya si maling ayam, penghuni pertama sel, sebelum aku dan si lelaki bertato.
Aku mengangguk ringan. Si Maling ayam  memandangiku dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Ya … dan aku berniat  mengembalikannya ….. kapan-kapan …”
Si maling ayam tertawa kering. Aku yakin, dia pun pasti sama denganku. Hanya meminjam ayam untuk sementara, dan kalau sudah punya ayam, pasti akan dikembalikannya.
Bukankah, pada dasarnya, manusia tidak akan menjadi maling kalau dia tidak sedang membutuhkan ?
Si lelaki bertato masuk keeesokan harinya sambil memelintir cambangnya yang tidak lebat. Dia tersenyum, puas tapi getir.
“Kau juga berniat mengembalikan apa yang kau curi ?” tanya si maling ayam polos.
“He… he …. Tentu saja tidak. Tidak akan ada gantinya, kecuali aku dikawinkan sama dia … he … he … “
Dia kembali terkekeh, puas tapi getir. Aku memandangnya jijik. Aku sendiri, walau cintaku ditolak oleh Sutin, aku tidak pernah terpikir untuk menghamililnya. Aku masih punya rasa hormat pada wanita tentang satu hal itu.
Aku cuma meminjam uang dari koperasi tempatku bekerja. Aku cuma ingin menyenangkan hati Lik Mi, janda tua yang membesarkanku. Dia selalu merengek-rengek bila melihatku menghitung  uang kreditan dari nasabah yang belum kusetor ke koperasi. Dia selalu mengungkit-ungkit masa kecilku yang ditinggal begitu saja oleh emak dan bapakku. Kurus, kering, korengan, tidak terurus. Kalau saja tidak ada dia, aku pasti sudah membusuk di tempat sampah. Dia selalu menghitung-hitung biaya yang dia keluarkan untuk menyekelohkanku, dan belum ada yang kukembalikan padanya.
Dan wajah keriputnya begitu bercahaya saat uang setoran satu minggu itu ada di tangannya. Dia menatapku takjub seolah melihat malaikat yang turun dari langit. Dan omelannya pun tidak terdengar lagi sampai beberapa hari,  bahkan sampai hari ini, karena tentu saja aku sudah meringkuk dalam sel.
“Cuma lima juta ?” cibir si necis, sang maling uang rakyat.
Aku mengangguk. Si necis tergelak. Aku hanya diam. Aku yakin, yang dia maling pasti ratusan kali lipatku. Dan dia bisa tertawa begitu enaknya. Tapi di ruang pesakitan ini, bukan saatnya lagi aku membicarakan hal itu dengan berapi-api seperti biasanya dengan sesama teman, sambil minum kopi hangat di warung.
“Lek Mi pasti akan datang ….. menebusku ….” gumamku pelan, “aku tahu, dia sangat sayang padaku, dan tidak bisa hidup sendirian.”
***
Si necis keluar dalam tiga hari, entah kenapa. Mungkin dia bebas atau pindah sel ke polres. Si lelaki bertato menyusul siang harinya. Katanya, dia jadi dikawinkan sama gadis yang telah dia maling keperawanannya. Tinggal si maling ayam. Siapa yang mau menebus dia ? Ternyata, emaknya menebus dia sehari kemudian. Aku yakin, di rumahnya emaknya menggelar syukuran sembari menyembelih ayam.
Seorang lelaki datang tergesa siang itu, menghampiri selku. Pak RT.
“Jok….. lek Mi  mati …. “ bisiknya dari balik jeruji sel, “semalam dia dirampok.”
Aku menatap ke luar sel. Wajah bercahaya Lek Mi tiba-tiba memudar dalam pandanganku. Kulihat ada seorang lelaki dipapah dua polisi menuju ke arah selku. Sepertinya, timah panas telah menembus betisnya.
Pak RT kembali berbisik, “Dia rampoknya ….”

1 komentar:

  1. Maaf kak, mau tanya. Apa ada pemberitahuan kalau tulisannya ditolak oleh radar bromo? Dan jangka waktu bahwa cerpen tersebut ditolak berapa hari atau minggu ya? Terimakasih

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya ....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...