Jumat, 14 Oktober 2011

PENGANTIN PAWANG HUJAN

Cerpen ini tidak lolos di Lomba juga, tapi aku lupa lomba apa .. hehehe

Kang Sukardi punya hajat besar-besaran. Menikahkan putri semata wayangnya yang baru saja lulus kuliah. Di desa Meranti, hanya Wulan Sukardi saja yang kuliah sampai lulus dan menjadi sarjana. Dia adalah anak desa Meranti pertama yang mengharumkan nama desanya, juga nama bapaknya.
“Tidak sia-sia aku menjual sawah warisan kakekku di lereng bukit sana, Nik !” ujar Kang Sukardi pada istrinya. Telunjuk tangannya mengarah ke arah lereng bukit yang tidak jauh dari desa Meranti. Seorang pengusaha dari kota telah membeli sebagian besar sawah-sawah di lereng bukit milik penduduk di desa Meranti. Pengusaha itu menanaminya dengan pohon sengon.
“Iya, kang. Tidak apa-apa walaupun kita tidak punya sawah yang luas seperti dulu, yang penting Wulan bisa kuliah dan jadi sarjana ! Anak kita sudah jadi orang pintar, Kang !” sahut Ninik antusias, dengan raut wajah gembira.
Kang Sukardi mengangguk-angguk bangga. Pandangannya lalu beredar ke seluruh penjuru halaman rumahnya yang cukup luas.
Tiga hari lagi, perhelatan pernikahan Wulan akan digelar besar-besaran. Semua warga desa diundang oleh Kang Sukardi. Diniatkannya sekalian syukuran atas kesuksesan anaknya. Apalagi calon suami Wulan bukan orang biasa. Dia seorang lelaki ibukota yang katanya punya pabrik kardus. Untuk acara pernikahan nanti, lelaki itu telah memberikan uang belanja yang membuat mata Kang Sukardi membelalak, hidungnya kembang kempis, dan dadanya membusung. Ternyata, dia tidak salah menyetujui lelaki gagah itu hendak mempersunting anaknya. Lelaki itu benar-benar siap membahagiakan anaknya. Bahkan kabarnya, dia sudah membeli sebuah rumah yang kelak akan ditinggalinya bersama Wulan setelah menikah. Siapa bapak yang tidak bangga punya calon menantu seperti dia.
“Kang Kardi, kursi dan tendanya sudah datang !” teriak seorang tetangganya.
Kang Sukardi melihat sebuah truk memasuki halamannya. Muatannya penuh dengan kursi dan tenda yang disewanya untuk acara pernikahan putrinya. Senyumnya pun mengembang. Beberapa tetangga, tanpa dikomanda langsung bergotong royong menurunkan kursi. Sebagian sibuk membantu memasang tenda. Mereka tidak minta upah. Cukup seporsi makan siang dengan menu yang jarang dijumpai sehari-hari, segelas kopi dan sebatang rokok. Ibu-ibu sekampung sudah sibuk memasak sejak kemarin, dan siapa saja yang membantu persiapan pernikahan Wulan, dipersilahkan makan gratis di rumah Kang Sukardi. Dua ekor sapi milik Kang Sukardi sudah siap berkorban besok pagi. Kemeriahan sebuah pesta pernikahan, diukur dari jumlah sapi yang disembelih.
OoO
Seharian ini Wulan diperlakukan seperti Ratu. Tidak satupun pekerjaan diperkenankan oleh kerabatnya untuk dilakukannya. Meskipun itu hanya sekedar menyeduh teh.
Aku sedang dipingit … Sebuah pesan pendek pun terkirim ke Husin, sang calon suami yang juga sedang dipingit di rumah Bu De Win sejak kemarin.
Wulan menanti jawaban dengan berdebar. Semoga di sore yang masih terik ini, Husin tidak sedang tidur pulas.
Kasihan. Aku mau nanya, apa memang di desa ini tidak pernah hujan ? Sekarang musim hujan, tapi panasnya minta ampun …
Wulan tersenyum mendapat balasan dari Husin. Sama seperti Husin, Wulan pun merasakan kegerahan yang sama.
Tampaknya para sesepuh melancarkan jurusnya. Menghalau hujan agar menjauhi desa ini. Yah … supaya acara pernikahan kita berjalan lancar.
Wulan tertegun sendiri setelah pesan singkat terakhir terkirim. Di beberapa pojok rumahnya, sudah tersedia beberapa sesaji. Sesisir pisang dan sebutir kelapa. Untuk tolak bala katanya. Memang pisang dan kelapa bisa mengusir bahaya ? Kalau bahaya kelaparan iya.
Wulan lalu bangkit dari ranjang dan keluar dari kamarnya. Beberapa wanita berlalu lalang di dalam rumah. Bau kemenyan menyengat dari arah dapur. Wulan hanya bisa geleng-geleng kepala. Untuk hal seperti ini, ayah dan ibu tidak akan mempan dengan masukan seperti apapun.
“Apa itu Bu Dar ?” tanya Wulan pada salah seorang tetangganya yang membawa sebuah nampan yang berisi beraneka macam masakan. Di belakang Bu Dar ada empat ibu-ibu tetangganya, masing-masing membawa nampan yang sama.
“Kiriman untuk Kang Mo. “
“Siapa Kang Mo ?”
“Sudah jangan banyak tanya. Yang penting acara pernikahan kamu berjalan lancar. Tidak hujan. Sudah, masuk sana !”
Wulan diam. Namun sejurus kemudian, dia menghentikan langkah Bu Dar.
“Sebentar, Bu Dar. Saya lapar. Minta ayam gorengnya satu ya ? Terus pisangnya. Sama perkedelnya juga. “
“Wulan ! Jangan !”
Tapi Bu Dar kalah gesit. Wulan sudah mengaduk-aduk isi tumpeng itu dan membawa beberapa makanan ke kamarnya.
OoO
Hujan turun dengan deras sejak selepas Isya’. Bahkan diiringi petir dan kilat menyambar-nyambar. Wulan mendengar hiruk pikuk orang di dapur yang kewalahan karena sebuah tenda di dapur rubuh.
“Pasti karena sesajinya kumakan tadi. Habis …. Lapar !” gumam Wulan sambil cekikikan.
Wulan … barusan Bu De didatangi Kang Mo. Katanya, aku penyebab hujan lebat ini. Kok bisa ?
Wulan terperangah membaca pesan singkat Husin.
Memangnya apa yang dikau lakukan sejak tadi sore ? Kupikir aku penyebabnya, karena tadi sore sesaji untuk Kang Mo kumakan …
Husin menjawab dengan cepat. Sejak sore aku kegerahan, makanya aku terus tilawah sampai maghrib. Memangnya tilawah bisa mendatangkan hujan ? Setahuku sholat istisqo’ itu yang tujuannya minta hujan. Bu De melarangku tilawah.
Wulan tepekur.
Aku yakin … dikau malah semakin melakukannya kan ?
Wulan mendengar keributan di luar kamarnya. Dia bergegas keluar kamar. Bapak dan ibunya tampak panik.
“Sudah … cepat berangkat ke sana. Kalau tidak, bisa-bisa kampung kita banjir !”
“Berangkat ke mana, Pak ?” tanya Wulan spontan.
Kang Sukardi dan istrinya terkejut melihat Wulan yang muncul tiba-tiba. Mereka menjadi salah tingkah.
“Kamu di kamar saja, Wulan. Cepat tidur dan besok bangun pagi. Periasnya akan datang sesudah subuh. Cepat masuk !” perintah ibunya.
Tapi Wulan sudah bisa membaca situasi kepanikan yang sedang terjadi di rumahnya. Beberapa sesaji tampak disiapkan kembali. Wulan masuk ke dalam kamarnya, tapi memasang telinganya dengan tajam.
Apa yang harus aku lakukan ? Aku tidak ingin kemusyrikan menghiasi pernikahan kita. Mereka kembali mengirim sesaji ke Kang Mo untuk menghentikan hujan. Bahkan… harus menambah biaya yang lebih besar lagi. Karena kegagalan sore ini adalah ulah klien ????
Tilawah. Jawaban pendek Husin menenangkan hati Wulan. Dia segera mengambil wudhu dan meraih mushafnya.
OoO
Akad nikah berlangsung di pagi yang cerah, disinari matahari yang turut bergembira. Tanah becek tidak menjadi halangan bagi para undangan untuk hadir dan memberikan doa keberkahan bagi kedua mempelai. Semua orang yang panik semalaman, tersenyum bahagia, walau wajah-wajah lelah tidak bisa dihapus begitu saja.
Akhirnya Wulan dan Husin tidak perlu lagi berbincang lewat handphone. Mereka sedang asyik bercanda di kamar pengantin mereka dan sesekali tersipu karena digoda oleh beberapa kerabat yang melongok ke dalam kamar.
Pesta pernikahan akan digelar selepas maghrib. Dan sepanjang siang, matahari bersinar cerah, memberikan harapan yang cerah juga bahwa nanti malam acara akan berlangsung meriah.
“Aku mau mandi. Gerah. Apalagi ba’da asar kita akan didandani lagi. Abang tidak mandi ?”
“Kamu dulu, setelah itu aku. “
Hujan tiba-tiba datang selepas Husin dan Wulan mandi. Keributan kembali terjadi di luar kamar pengantin mereka.
“Sepertinya, setiap hujan turun … di desa ini selalu ribut ya ? “ canda Husin.
Wulan tersenyum. Sebuah ketukan di pintu kamar mengurungkan niat keduanya untuk berkenalan lebih jauh. Wulan bangkit membuka pintu.
“Wulan ! Kamu tadi mandi ya ?” tanya ibunya dengan nada tinggi.
“Iya. Katanya ba’da asar mau dirias. “
“Kamu ini bagaimana ? Gara-gara pengantinnya mandi, hujan turun lagi !”
Husin hampir saja terbahak, tapi segera ditahannya.
“Kok bisa ?” tanya Wulan heran.
“Pengantin tidak boleh mandi sampai acara selesai !” teriak beberapa kerabat yang berdiri di belakang ibunya.
“Hiih .. bau dong ! Lagipula hawanya gerah ! “
Ibu mendesak masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.
“Wulan … Husin. Ibu minta tolong. Satu kali ini saja. Ibu tidak peduli kalian mau menganggap ibu ini apa. Tapi tolong jangan membuat bapak dan ibumu ini malu.
Sekarang, mana celana dalammu Wulan. “
“Celana dalam ?”. Wulan menoleh ke arah suaminya.
“Celana dalam yang kaupakai sebelum mandi. Celana dalam diikat di sapu lidi dan dilempar ke atas genteng. Hanya itu satu-satunya cara menghentikan hujan. Ayo cepat mana celana dalammu !”
Husin segera bangkit dari duduknya.
“Bu … saya punya cara yang lebih ampuh !” ucap Husin sopan.
OoO
Semua tetangga, kerabat, dan ibu-ibu yang sibuk di dapur tampak bersih karena sudah mandi dan berwudhu, lalu melaksanakan sholat Asar berjamaah yang diimami oleh Husin.
Hujan perlahan berhenti dan matahari kembali bersinar selepas doa panjang yang dilantunkan Husin dan diamini oleh semua jamaah.
“Husin … ternyata kamu lebih sakti dari Kang Mo, “ kata Kang Sukardi sambil menepuk pundak menantunya.
“Ah, bapak ini bisa saja. Bukankah tadi kita semua yang berdoa supaya Allah memberikan kemudahan dan kelancaran acara kita ini. Ya kan Pak ?”
“Tidak, Nak. Kamu memang tidak ada duanya. Bapak bangga padamu, “ ucap Kang Sukardi lagi, sambil tersenyum bahagia.
“Pak … sebenarnya, yang membuat acara menjadi tidak lancar dan banyak kendala adalah diri kita sendiri, Pak. “
“Masa ?”
“Iya Pak. Selama ibu-ibu itu memasak di dapur, apa mereka pernah meninggalkan semua kesibukan itu untuk sholat ? Bahkan suara adzan saja tidak terdengar karena suara musik yang keras, kan Pak ? Dan juga, banyak makanan yang mubadzir tidak dimakan, seperti pisang dan kelapa yang ada di pojok-pojok rumah. Itu yang menyebabkan acara kita kacau, Pak !”
Kang Sukardi mengangguk-angguk. Dia semakin bangga pada menantunya.
“Hei … Bu Dar ! Nanti kalau anakmu kawin, tidak perlu repot-repot ! Ada menantuku yang pandai ini !” teriak Kang Sukardi pada Bu Dar.
Husin dan Wulan geleng-geleng kepala. Tidak mudah memang untuk merubah mereka. Tapi bukankah perubahan harus dimulai saat ini, dari diri sendiri dan dari hal yang paling kecil ? Wallahu ‘alam bishowab.
OoO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya ....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...