Jumat, 14 Oktober 2011

JODOH DARI PEDALAMAN

Cerpenku ini tidak lolos di Lomba FF Perjodohan Hasfa Publisher ..... :)

Bulan depan aku berangkat ke Amerika. Beasiswa S-2 yang akan aku jalani telah membuat bangga Bapak dan Ibuku. Belum lagi status cumlaude yang kusandang waktu wisuda kemarin.
“Nak … tinggal satu hal lagi yang ibu inginkan dari kamu. “
“Apa itu Bu ? Dengan senang hati aku akan melaksanakannya, Bu. “ ucapku hormat pada beliau.
“Ibu ingin sebelum kamu berangkat ke luar negeri, kamu menikah. Lalu bawa istrimu bersamamu. Ibu tahu bagaimana kehidupan anak muda di Amerika sana. Ibu tidak ingin kamu terjerumus, Nak.”
Aku mengangguk setuju. Aku pun menginginkan hal yang sama. Seorang pendamping yang dapat aku jadikan teman dalam suka dan duka, menjadi sahabat bertukar pikiran.
“Bapak dan Ibu akan mencarikan jodoh buatmu. Jodoh yang pantas bersanding denganmu.”
Aku tersenyum bahagia. Aku yakin, ibu akan mencarikan aku jodoh yang tepat. Mereka pasti menginginkan yang terbaik bagi putranya. Aku pun berimajinasi pada sosok wanita yang semampai, cantik, putih, menawan, pintar dalam segala hal.
OoO
Hari perjodohan yang dinanti telah tiba. Kini dihadapanku duduk seorang gadis jelita, diapit oleh kedua orang tuanya. Imajinasi yang menjadi kenyataan. Dia tertunduk malu, membuatku semakin gemas padanya. Sekali dia menatapku, hatiku langsung berdebar-debar.
Namanya Tini. Adrian dan Tini ? Pasangan nama yang kurang serasi. Tidak masalah. “Apa Nak Adrian benar-benar mau memperistri Tini ?” tanya bapak Tini ragu.
Aku menoleh ke ibu. Ibu tersenyum dan mengangguk padaku.
“Ya, Pak. Saya berniat memperistri Tini. Dan saya akan membawa Tini ke Amerika. “ jawabku mantap.
“Ke Amerika ? Bagaimana ini ? Anak saya ini tidak bisa membaca dan menulis. Dia tidak pernah sekolah ….”
Aku tercekat. Aku menoleh ke arah ibu. Tapi ibu tersenyum tanpa beban.
“Tidak masalah, Pak. Anak saya ini pinter. Dia yang akan mengajari Tini. Bahkan sampai Tini nanti jadi sarjana. Ya kan Adrian ?”
Mataku berkunang-kunang. Ya Tuhan … tolong aku !
OoO
Bagiku, bapak dan ibu sudah kelewatan. Bagaimana bisa dia menjodohkan aku dengan seorang wanita cantik tapi buta huruf ? Tidak masalah bagiku bila dia dari keluarga miskin. Tapi buta huruf ?
“Ibu … tolong dipertimbangkan lagi. Aku tidak bisa menikah dengan Tini. Kami sangat jauh berbeda ….” pintaku.
Sebenarnya aku berharap, bapak - sebagai seorang lelaki - memihakku. Tapi itu mustahil, karena bapak sendirilah yang melakukan survey mencari sosok wanita seperti Tini. Dan beliau mendapatkan gadis berusia 20 tahun itu, tinggal di pedalaman dan buta huruf. Aku tidak mengeri apa sebenarnya jalan pikiran kedua orang tuaku. Mereka menyekolahkan aku sampai sarjana, tapi menjodohkan aku dengan seorang wanita buta huruf. Sungguh tidak masuk akal.
“Adrian. Ibu tidak percaya dengan apa yang ibu lihat sekarang. Kamu ini sarjana. Cumlaude. Buktikan pada bapak dan ibu kalau kamu memang anak yang pinter. Ajari istrimu. Itu baru namanya suami. Bertanggung jawab pada istri. “
Aku tidak berdaya. Hari pernikahan telah ditentukan seminggu sebelum keberangkatan ke Amerika. Ibu yakin, aku bisa mengubah Tini menjadi wanita idamanku. Aku pun akhirnya pasrah. Modalku hanya restu ibuku..
OoO
Tidak pernah ada yang salah dalam sebuah perjodohan, karena keberkahan pernikahan tergantung pada niat awal sebelum menikah. Restu Orang Tua adalah modal utama, yang akan melancarakan tugas dan tanggung jawab masing-masing pasangan dalam bahtera pernikahan nantinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya ....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...