Senin, 23 Juli 2012

Tutorial Membuat Rengginang Mekar

Hari Raya, Idul Fitri, bisa dipastikan Rengginang akan menjadi salah satu hidangan di meja. Walau di luar Hari Raya, produk makanan ringan ini mudah didapat di mana-mana. Dan bagi teman-teman yang ingin membuat sendiri Rengginang, saya akan membagi resep rengginag warisan leluhur yang berbudi pekerti luhur :D.




Sebenarnya proses pembuatan Rengginang sangat mudah. Hanya membutuhkan ketelatenan dan sinar matahari tentu saja. Bagi usaha besar, tentu tidak masalah membuat Rengginang di musim hujan, karena mereka bisa menggunakan pengering untuk mengeringkan Rengginang. Bagi yang ingin membuat Rengginang  dalam skala kecil, sebaiknya konsultasi dulu dengan Team Prakiraan Cuaca. Hehehe.

Oke deh, langsung saja kita masuk ke Tutorial Membuat Rengginang.
Pertama, kita siapkan dulu bahannya. Sebelum pergi ke pasar, catet dulu semua keperluan pembuatan Rengginang.

BAHAN UTAMA :

  • 1 kg beras ketan ( beras ketan yang berkualitas bagus akan menghasilkan Rengginang yang lebih mekar, tapi tentu saja lebih mahal harganya )
  • 1 bonggol bawang putih
  • 1 sendok makan garam halus beryodium ( biar yang makan Rengginang jadi cerdas )
  • air 250 mL ( tergantung jenis ketannya. Kalau ketannya lemas, air bisa dikurangi )

BAHAN TAMBAHAN :
Beberapa orang menyukai bahan tambahan untuk menimbulkan sensasi berbeda saat makan  Rengginang. Beberapa bahan tambahan yang bisa dipakai :

  • Penyedap Rasa
  • Ikan Teri
  • Terasi
  • Lorjuk


Di resep yang akan saya bagikan ini, saya hanya akan memberikan bahan tambahan penyedap rasa saja. Soalnya lebih guampaaannng ....
Yuk, lanjut !

ALAT DAN BAHAN

  • Panci untuk merendam beras ketan
  • Dandang untuk mengukus ketan
  • Centong kayu untuk mengaduk ketan
  • Ulekan atau blender untuk menghaluskan bumbu
  • Baskom untuk mengaduk beras ketan
  • Tempeh dari anyaman bambu atau plastik, terserah, untuk menjemur Rengginang
  • Penggorengan untuk menggoreng Rengginang, jangan lupa sama sutilnya.
  • Kompor jangan sampai ketinggalan di rumah tetangga, hahaha.


Nah, setelah semua siap, sekarang saatnya membuat Rengginang. Saya sendiri lebih suka membuatnya di bulan Ramadhan. Kenapa coba ? Karena, jam-nya cocok dengan masa perendaman Rengginang.

CARA MEMBUAT :

  1. Cuci dan rendam beras ketan selama lebih kurang 5- 6 jam. Kalau bulan Ramadhan, saya rendam selepas taraweh dan ditiris ketika hendak sahur. Pas kan ?
  2. Setelah 6 jam, tiriskan, dan kukus pakai dandang.
  3. Ngukusnya 30 menit saja. 
  4. Sembari mengukus, haluskan bawang putih
  5. Setelah itu, angkat beras ketan dan taruh di baskom. 
  6. Masukkan bumbu yang sudah dihaluskan plus bahan tambahannya plus air. Lalu aduk rata.
  7. Kukus lagi 30 menit.
  8. Rengginang siap dicetak di atas tempeh
  9. Setelah itu dijemur.
Terkadang, Rengginang yang kita buat tidak mekar saat digoreng di atas penggorengan dengan bantuan sutilnya. Itu disebabkan oleh teknik menjemur. Jangan kuatir, saya berikan juga teknik menjemurnya.

TEKNIK MENJEMUR
Setelah Rengginang dicetak di atas tempeh, jemur pas saat matahari baru terbit, di atas genteng. Kesalahan utama yang membuat hasil Rengginang tidak sesuai dengan keinginan adalah karena dijemur di bawah pohon ( ya iyalah pantas gak kering ) atau dijemur di halaman rumah dan siangnya sudah habis dimakan ayam. Ngasih makan ayam, mahal amattt.... !
Nah, pas bedug, balik rengginangnya agar sisi yang menempel di tempeh kering.
Bila cuaca mendung, alamat Rengginang tidak kering dalam sehari dan jadinya kurang mekar, atau malah keras saat digoreng. Makanya, jangan lupa kontak Team Prakiraan Cuaca ya.

Bila teknik-teknik di atas dipenuhi, Insya Allah akan didapatkan Rengginang yang mekar saat digoreng. Asalkan digoreng pakai minyak goreng.

Demikian, resep warisan leluhur yang saya bagikan, agar teman-teman semua menjadi Rengginanger tulen !





Minggu, 01 Juli 2012

Legenda Dustone


Legenda Dustone
Oleh : Syila Fatar

Arkesya menutup buku tuanya perlahan. Tapi debu tetap beterbangan, membuat Gaye dan Maye bersin. Arkesya tersenyum. Dua cucunya itu masih saja memelototinya. Berharap masih ada kelanjutan dari kisah yang dibacanya tadi. Karena bagi mereka berdua, Arkesya selalu menyimpan akhir kisah yang mereka nantikan.
“Sudah malam, tidurlah …” ucap Arkesya seraya membelai kepala keduanya.
“Cerita kakek belum selesai. Siapa pahlawan yang akan menghancurkan Dustone ? Dia sangat jahat. Seharusnya dia musnah.”
Arkesya tersenyum mendengar protes cucunya. Ditatapnya dua pasang mata yang membulat menatapnya penuh harap. Tapi, kisah ini memang tak pernah berakhir bahagia, meski Arkesya sendiri mengharapkannya. Ayahnya, yaitu buyut kedua cucu di hadapannya, pun tak pernah bisa menceritakan akhir kisah Dustone. Buku tua dari kulit papyrus itu hanya diam membisu, menyerap semua rasa penasaran para pembacanya.
“Tidak ada yang bisa menghancurkan dia. Setelah puas, dia akan kembali ke tanah, bersama manusia-manusia itu. Dan manusia yang tersisa harus melanjutkan hidupnya. Belajar untuk tidak lagi menjadi serakah.”
“Tapi dia akan muncul lagi kan, Kek ?” tanya Gaye, “kita harus siap ketika dia muncul. Aku akan membabatnya dengan pedangku. Akan kutendang kakinya hingga dia jatuh terjengkang. “
“Aku akan menyelamatkan dunia !” pekik Maye.
Arkesya terkekeh. Selalu saja kedua cucunya itu memintanya tentang kisah-kisah heroik dari buku tuanya. Dan mereka paling suka dengan kisah Dustone. Kisah yang mengerikan bagi Arkesya, karena kisah ini adalah kisah satu-satunya yang tak berakhir dengan kegagahan para pahlawan. Dan itu sangat selalu mengecewakan kedua cucu kesayangannya. Sehingga mereka selalu meminta dibacakan kisah ini berulang-ulang.
“Lagi ! Lagi ! Cerita lagi ! Kali ini aku akan mencari kelemahannya !” teriak Maye.
“Hmm, dongeng konyol itu lagi ?”
Suara berat itu membuat Gaye dan Maye langsung bangkit dari ranjang kakeknya, menyisakan bunyi berderit ranjang tua itu. Arkesya tersenyum. Sesosok lelaki tinggi besar menutupi cahaya terang yang menerobos melalui pintu.
“Kenapa ayah masih saja menceritakan dongeng itu ? Dongeng yang tak pernah berakhir dengan bahagia. Membuat mereka mati rasa.”
Arkesya tersenyum, “Ini bukan dongeng, Tundrey. Ketika kecil, kau pun seperti kedua anakmu. Selalu meminta diulang-ulang setiap malam. Kau sudah lupa ?”
Tundrey meraih bahu kedua putranya, meminta mereka segera masuk ke kamarnya. Keduanya memprotes tindakan ayahnya, tapi kilatan tajam mata Tundrey membuat mereka menunduk dan melangkah pergi. Tidak ada yang berani membantah ayah.
“Ayah, tolong jangan ceritakan kisah itu lagi, “ pinta Tundrey, “itu terlalu mengerikan bagi mereka. Ayah mungkin tidak tahu, sampai sekarang saja, aku masih membayangkan kengerian bila Dustone bangkit lagi. Aku tidak bisa membayangkan bila hal itu terjadi, manusia hanya tinggal segelintir saja. Itu menyakitkan.”
“Hmm, maka untuk itulah kisah ini selalu dituturkan dari generasi ke generasi. Agar mereka berpikir, untuk mencari jalan menghancurkan Dustone. Atau, bangsa manusia akan punah. Jangankan dirimu, aku saja yang tak lagi mampu berjalan, hanya bisa membayangkan kisah itu kala terjadi. Ramalan itu, kau harus percaya. Bahwa Dustone akan muncul di generasi Maye dan Gaye. Kau harus siap-siap.”
Tundrey meninggalkan ayahnya yang masih memeluk buku tua itu. Entah sudah berapa generasi, buku tua itu selalu dibaca menjelang tidur.  Tapi herannya, debu selalu saja menghiasi sampulnya. Tundrey ingat, dia selalu bersin ketika Arkesya menutup buku itu. Mungkin karena ini tentang kisah Dustone. Yang menanamkan pada anak-anak kecil, tentang musnahnya manusia oleh Dustone.  Oleh legenda debu dan batu. Tanpa ada yang bisa menghalangi dan mencegahnya terjadi. Tapi Arkesya selalu berkata, manusai tidak akan musnah. Karena Dustone membutuhkannya untuk bisa bangkit lagi.
OoO
Tundrey gelisah membaca laporan harian satelit  yang baru diterimanya. Gurun itu bergerak dan memadat. Ingatannya berkelebat pada Dustone. Tapi, bisa jadi ini karena tabiat bumi yang semakin tidak stabil pasca letusan beberapa gunung berapi setahun terakhir. Pergeseran lempeng terjadi di banyak bagian bumi. Tundrey meminta laporan geografis dari beberapa gurun dan sabana. Dan laporan dari Gurun Sahara yang benar-benar membuat jantungnya berdegup kencang. Padatan gurun itu semakin cepat, dan membentuk pola tertentu.
“Tyar, aku ingin bertemu Presiden.”
Tyar, sekretarisnya mengangguk cepat. Seperti dugaannya, ada masalah dahsyat yang diramalkan akan terjadi. Isu itu sudah tersebar di masyarakat. Bahkan banyak komik beredar mengisahkan Dustone.  Koran-koran memberitakannya setiap hari. Sungguh konyol bila harus mempercayai dongeng sebelum tidur seperti Dustone. Tapi, pergerakan gurun itu, mengarah ke sebuah kesimpulan besar. Tyar semula tidak mengira, Tundrey akan mengaitkannya dengan dongeng itu. Tapi, isu itu beredar begitu kencang, lebih kencang dari tornado yang memporak porandakan satu negara bagian. Dongeng yang tidak pernah bisa dibuktikan. Pemerintah tidak bisa mengabaikan isu ini begitu saja, karena sudah begitu meresahkan.
“Presiden siap menerima anda sore ini, pak. “
Tundrey mengangguk. Sepertinya, dia harus meminjam buku Arkesya.
OoO
Kloryeal memainkan bibirnya dengan jempol dan telunjuknnya. Menunjukkan dia berpikir keras. Tundrey bukan Menteri Pertahanan yang bodoh. Prestasinya tak terhitung menyelamatkan bumi ini dari ancaman bencana, baik itu dari bumi sendiri maupun dari luar planet. Prediksi dan perhitungannya selalu matang dan akurat. Isu sekecil apa pun adalah bukti penting bagi Tundrey.
“Aku pernah mendengar kisah ini. Kakekku yang menceritakannya. Ini adalah tradisi dari generasi ke generasi. Tapi, beritahu aku satu hal, Tundrey. Kenapa kamu sekarang lebih percaya pada dongeng ?”
Tundrey mengangguk hormat dan menyerahkan laporannya. Kloryeal mengernyitkan kening, dan mulai tampak panik.
“Pergerakan di gurun dan perpadatan tanahnya, membentuk pola. Coba anda perhatikan, Tuan Presiden. Polanya sudah membentuk sosok Dustone.”
Kloryeal menggigit bibir, menandakan dia mulai gelisah. Akal sehatnya, seperti halnya Tundrey mulai terpengaruh dongeng itu. Dongeng itu, apakah akan terbukti ramalannya ? Tidak ada manusia yang berharap itu akan terjadi.
“Ini tidak mungkin, “ gumamnya, “kirim orang terbaik kita ke sana untuk memastikan dan menangani hal ini. Setidaknya, bukan karena dongeng itu. Tapi, bisa jadi ini bencana dari perut bumi. Kita harus meredakan kegelisahan masyarakat terhadap isu santer itu. Rahasiakan hal ini dari publik. ”
Tundrey mengangguk hormat. Dia yakin, kalimat terakhir Presiden adalah indikasi kesetujuannya. Ini adalah Dustone. Terlepas dia dongeng atau ilmiah. Tapi ini tetap bencana.
OoO
Gaye dan Maye memamerkan keahliannya pada Arkesya. Mereka saling berpegangan tangan dan berputar. Semakin lama semakin cepat, hingga kolam air tempat mereka berdiri membentuk pusaran seperti angin tornado. Gaya dan Maye sudah bisa mengarahkan ujung air itu ke berbagai arah. Mereka bahkan melakukannya sambil tertawa. Terutama bila ujung air yang berputar cepat itu mengenai pepohonan dan mematahkan dahannya.
“Apa yang kalian lakukan ?”
Suara berat itu lagi. Dan … byurrr. Pusaran air itu pun pecah, meluruh bagai hujan. Membasahi Arkesya di kursi rodanya, dan Tundrey yang baru saja datang. Gaye dan Maye menunduk dalam, merasa bersalah melihat ayahnya basah kuyup. Apalagi, Tundrey masih memakai baju dinasnya. Sudah pasti lelaki itu akan marah besar. Dan seperti biasa, bila Tundrey marah besar, Gaye dan Maye akan dihukum, tidak bertemu air beberapa hari. Dan hal itu akan sangat menyiksa bagi keduanya. Gaye dan Maye tak bisa lepas dari air. Arkesya terkekeh seraya mengusap mukanya yang basah.
“Kalian mau membanjiri kota dengan tingkah kalian itu ?”
Nada amarah yang berusaha diredam. Gaye dan Maye dengan cepat tahu diri. Mereka kembali berputar, dan pusaran air kembali terbentuk dari air yang berserakan di mana-mana. Dan perlahan, mereka berdua menurunkan kecepatan pusaran air, hingga airnya meluruh perlahan, kembali mengisi kolam. Baju Tundrey kembali kering seperti semula. Air tadi telah terhisap pusaran dan kembali ke kolam.
Tundrey geleng-geleng kepala. Arkesya bertepuk tangan.
“Kalian berdua, masuk ruang hukuman !” bentak Tundrey.
Gaye dan Maye keluar dari kolam dan berjalan menundukkan kepala. Dalam 3 bulan terakhir, ini sudah kedua kalinya Tundrey memergoki Gaye dan Maye melakukan Circling. Dan selalu, membuat Tundrey basah kuyup. Tapi kali ini, mereka berhasil membuat Tundrey kembali kering. Dan herannya, kemajuan itu tidak membuat Tundrey memuji mereka. Padahal, Gaye dan Maye telah belajar melakukannya selama dua bulan, dengan bimbingan Arkesya.
OoO
Makan malam hanya dihadiri Tundrey dan Arkesya. Gaye dan Maye harus makan malam di kamar hukuman. Sebuah kamar berukuran 10 x 10 yang terbuat dari kaca. Mereka tidak boleh keluar selama beberapa hari dan Tundrey dapat mengawasi mereka dengan mudah. Kamar hukuman itu tepat terletak dia atas kolam ikan. Jadi, Gaye dan Maye akan merasa sangat tersiksa karena milihat air tapi tak bisa menyentuhnya. Hal ini akan membuat mereka jera melakukan Circling lagi selama beberapa hari. Tapi, bila Tundrey bekerja, mereka akan melakukannya lagi, diam-diam.
“Seharusnya, kau bangga pada Gaye dan Maye. Hanya mereka di planet ini yang mewarisi pengendalian air. Malah sekarang mereka bisa mengeringkan air.”
Tundrey hanya menatap ayahnya sekilas, lalu melanjutkan makan malamnya. Dia berpura-pura tidak mendengar kalimat ayahnya.
“Tundrey, kita harus mendatangkan seorang guru khusus bagi mereka.”
Tundrey membanting sendoknya, mengejutkan Arkesya. Rupanya, Tundrey masih marah atas kejadian tadi.
“Aku tidak akan melakukannya, ayah, “ ucap Tundrey manahan emosi, “aku tidak akan membuat mereka mengalami nasih seperti ibunya. Sudah cukup aku kehilangan Meiya. Aku tidak mau kehilangan Gaye dan Maye !”
Kedua anak kembarnya memang spesial. Tapi Tundrey tidak ingin, banyak orang mengetahui kelebihan mereka. Banyak pihak akan memanfaatkan keahlian tersebut. Apalagi bila orang-orang di Departemen Pertahanan mengetahuinya. Tundrey bisa kehilangan Gaye dan Maye, selamanya. Dia tidak akan punya hak lagi terhadap Gaye dan Maye. Bahkan mungkin tidak akan bisa lagi bertemu selamanya. Seperti halnya Meiya. Saat Presiden mengetahui Meiya memiliki kemampuan mengendalikan air, pemerintah memeras tenaganya untuk mengendalikan banjir di salah satu negara bagian. Memindahkan air bah sebanyak itu ke laut. Lalu menggerakkan kincir air untuk pembangkit listrik tenaga air laut di sebuah negara bagian yang mengalami krisis energi.  Dan Meiya pergi setelah kehilangan begitu banyak energi. Tidak sedikit orang seperti Meiya. Dimanfaatkan pemerintah karena mereka membutuhkan keistimewaannya. Tapi pemerintah selalu ingkar janji. Dan Tundrey tahu benar akan hal itu, karena dia berkecimpung di dalamnya. Dalam setiap tugas-tugasnya, dia kerap bertemu dengan anak-anak yang memiliki keistimewaan pengendalian. Tapi, Tundrey tidak pernah melaporkannya ke Departemen.
“Gaye dan Maye diperuntukkan untuk jaman ini, Tundrey. Kamu harus siap. Kamu tidak akan mengira, jiwa mereka penuh berisi kepahlawanan.”
“Itu karena ayah selalu mencekoki mereka dengan dongeng-dongeng konyol !”
Tundrey bangkit dari kursinya kesal. Pikirannya begitu kalut. Pergerakan gurun di Sahara itu semakin nyata. Dan Tundrey tidak yakin kali ini dia bisa bencana ini. Dustone. Gaye dan Maye. Dan Meiya. Tundrey tak ingin kehilangan miliknya yang paling berharga.
OoO
Tundrey mengguncang tubuh Arkesya perlahan. Dia membangunkan ayahnya tanpa ingin mengejutkannya. Arkesya membuka mata perlahan.
“Waktunya sudah tiba, ayah. Kita harus pergi.”
“Pergi ? Ke mana ?”
“Ayah, ikut saja. Para pembantu sedang mempersiapkan bekal untuk kita. Juga anak-anak.”
“Dustone. Ya kan ? Dia sudah bangkit. ”
Tundrey tidak menjawab. Tapi bunyi sirene meraung-raung di luar adalah jawaban bagi Arkesya. Presiden memerintahkan evakuasi. Beberapa pesawat antariksa sudah dipersiapkan untuk evakuasi sebagian besar penduduk bumi. Juga kapal-kapal besar untuk berlayar di samudra. Dan itu, tidak mencukupi. Hanya orang-orang kaya yang mampu membayar biayanya. Orang-orang yang tidak mempunyai uang untuk menyelamatkan jiwa mereka, berlarian ke hutan-hutan, berharap bisa selamat. Kisah itu akan kembali terulang.
“Tidak ada yang bisa selamat dari Dustone, Tundrey. Meskipun kita pergi ke tengah laut atau ke antariksa. Kita tetap harus kembali ke bumi. Kau tahu itu, kan ? Penduduk bumi tidak pernah mempersiapkan evakuasi dengan matang sebelumnya, padahal mereka sudah tahu ramalan itu akan terjadi. “
“Aku harap ayah tidak membuat Gaye dan Maye ketakutan. Kita hanya berlibur sementara.”
Tundrey mendorong kursi roda Arkesya. Di ruang tengah, Gaye dan Maye berdiri tegak menatap layar televisi selebar satu setengah meter. Dan dengan layar sebesar itu, keduanya bisa melihat liputan mengerikan itu disiarkan dengan sangat gamblang.
Dustone. Dongeng itu benar adanya. Dia telah bangkit dari gurun. Sekujur tubuhnya, adalah padatan debu dan batu, membentuk sosok mirip manusia raksasa. Tangannya menjamah manusia-manusia yang tampak seperti ujung kukunya, dan melemparkannya ke mulut besarnya. Dia tidak bermata. Hanya kepala dengan mulut terbuka lebar. Tempat dia memasukkan manusia-manusia yang dia tangkap dengan kedua tangannya. Langkahnya mendebam, mengguncang dan meruntuhkan gedung. Dia meraup begitu saja manusia-manusia yang berlarian seperti semut, lalu menelannya. Gedung-gedung itu dia patahkan, dia angkat ke udara dan mengguncang-guncangnya. Hingga manusia-manusia berjatuhan ke mulutnya. Tak satu pun luput. Dia begitu telaten menyibak hutan dan mencomot manusia yang histeris di dalamnya. Kendaraan dan pesawaat yang berlari menjauhinya, dia hantam dengan gumpalan batu dan debu hingga. Hingga tak ada yang selamat dari dia. Semua manusia ditelannya.
Tundrey langsung mematikan televisi.
“Nonton filmnya lain kali saja ya ?” kata Tundrey dengan senyum lebar.
“Itu bukan film, ayah. Itu berita !” protes Gaye.
“Dustone telah bangkit dan dia akan memakan kita semua !” teriak Maye.
Tundrey tahu dia tidak bisa membohongi si kembar. Tapi dia berusaha menutupi apa yang telah terjadi di muka bumi. Dia tidak ingin, si kembar mempunyai pikiran aneh tentang akhir kisah Dustone yang selama ini meraka harap dari buku tua dari papyrus itu.
“Ayo, semua masuk ke mobil. Kita akan pergi ke bulan !”
Gaye dan Maye diam mematung. Tundrey tak bisa lagi bicara.
“Sampai kapan kau akan membohongi mereka, Tundrey. Gaye dan Maye adalah bagian dari dongeng itu, “ ucap Arkesya seraya menangkup kedua tangannya ke dagunya, tanda dia hendak memberikan nasehat bijaksana.
“Tidak ! Tidak !” teriak Tundrey, matanya memerah, “kalian semua, ayo cepat naik.”
Para pembantu bergegas keluar dan naik ke dalam mobil yang sudah disiapkan Presiden. Tundrey adalah Menteri Pertahanan yang tak boleh ditelan oleh Dustone. Dia dan keluarganya harus diselamatkan seperti halnya Presiden.
“Ayah, kami akan menyelamatkan dunia, “ ucap Gaye dan Maye serempak, “kata kakek, hanya kami yang bisa.”
“Tidak, sayang … tidak…”
Tundrey menubruk kedua anaknya dan memeluknya erat. Dia tidak ingin kehilangan keduanya. Kekuatan mereka berdua sudah diramalkan. Dan kedukaan bagi Tundrey ketika mengetahui bahwa kemampuan mereka sudah semakin terasah.
“Ayah … tolong, hentikan !” pekik Tundrey pada Arkesya.
Arkesya terpaku di kursi rodanya. Ini adalah takdir bagi seorang pahlawan.
OoO
Tundrey dan beberapa pasukan berhasil memancing Dustone mendekati pantai. Tempat yang selalu dijauhi makluk mengerikan itu. Dan sesuai prediksi Tundrey, Dustone tidak berani mendekat, ketika jaraknya satu kilometer dari pantai. Tapi dia mulai melemparkan batu dan tanah di sekitar pantai. Batu dan tanah itu langsung memadat ketika menyentuh pantai, membuat langkah Dustone semakin maju mendekati garis pantai.
Gaye dan Maye berdiri di sebilah papan, yang tergantung di helikopter milik Departemen Pertahanan. Tubuh mereka terikat erat. Dan hanya Tundrey yang memperbolehkan dirinya mengendarai helicopter tersebut. Tak dipedulikannya teriakan Presiden di radionya. Bagaimanapun juga, Tundrey tidak akan mengorbankan kedua anaknya begitu saja. Setidaknya, dia pun harus ikut bersama Gaye dan Maye menjadi korban Dustone. Lemparan gumpalan batu dan debu dari Dustone berhasil dihindari oleh helikopter Tundrey dengan tangkas.
Gaye dan Maye mulai berputar.  Saat tangan Dustrone menyambar mereka berdua dan siap menelannya, kekuatan mereka menyambar air laut dan membentuk pusaran. Tundrey berusaha mempertahankan kendali helikopternya, di dalam pusaran air. Mereka tepat berada di atas mulut Dustrone yang terbuka. Dan dalam hitungan detik, Tundrey melepaskan tali penahan papan Gaye dan Maye. Kedua anaknya itu jatuh meluncur ke mulut Dustrone, dan pusaran air laut mengikuti mereka.
“Aku mencintaimu, Gaye … Maye !” bisik Tundrey.
Helikopternya berputar tanpa kendali, terkena pusaran air laut. Pusaran air laut itu tertarik oleh kekuatan Gaye dan Maye, masuk ke dalam mulut Dustrone. Terdengar suara bergemuruh yang dahsyat. Mulut Dustone mulai meleleh terkena air laut. Perlahan lelahan itu merambat ke seluruh kepala. Pusaran air laut semakin besar. Tundrey berhasil keluar dari pusaran air, dan mendaratkan helikopternya di tepi pantai. Masih dalam helikopter, Tundrey mengkomando untuk merudal Dustone. Rudal-rudal air mendera tubuh Dustone. Semula, rudal-rudal itu hanya tertelan oleh tubuh Dustone dan tak ada reaksi apa pun. Tapi, seriring dengan melelehknya kepala dan leher Dustone, kedua kaki raksasanya tak bisa lagi menahan beban tubuhnya. Rudal-rudal air membuat sebagian besar kakinya menjadi lumpur. Perlahan Dustone ambruk diiringi suara gemuruh. Dan pusaran air Gaye dan Maye menjadi hujan air laut, luruh, menyiram gurun.
Terdengar sorak sorai para tentara.  Legenda itu tak akan pernah lagi tertutur ke generasi selanjutnya. Dustone sudah musnah. Tundrey menatap debu dan batu yang berterbangan, yang kemudian luruh ke bumi. Yang dilakukannya kemudian hanya satu, menemukan Gaye dan Maye dalam reruntuhan batu itu. Maka dia pun berlari, diikuti para tentaranya, mengobarak-abrik lumpur dan batu. Dan sungguh aneh, sudah jutaan orang yang ditelan Dustone, tapi tak satu pun bekasnya ada dalam tubuhnya. Dustone benar-benar memusnakah manusia dalam gerusan debu dan batu di tubuhnya. Maka, tak heran, legenda itu tak pernah lekang oleh jaman. Tertutur dan ingin dilupakan, tapi tak pernah bisa terlupa.
Tundrey memukul-mukul lumpur di hadapannya.  Berteriak memanggil Gaye dan Maye. Legenda itu telah musnah, bersama kedua putra tercintanya. Keduanya terlahir dan pergi sebagai pahlawan.
OoO

 Cerpen ini diikut sertakan di Lomba Cerpen Fantasy Fiesta 2012



Selasa, 05 Juni 2012

Prosedur Penerbitan Naskah di Erlangga

Erlangga nerima naskah fiksi dan non fiksi lo. Berikut info resminya.
Kopas pastinya dari Erlangga :D, info lengkap dan tanya jawabnya ada di sini.


Kriteria naskah:

1. Naskah harus merupakan karya asli
2. Belum pernah dipublikasikan penerbit lain.
3. Memiliki jalan cerita yang menarik. 
4. Naskah ditulis dengan rapi (logis dan sistematis).
5. Memiliki peluang pasar yang baik.
6. Tidak menimbulkan kontroversi, terutama berhubungan dengan moral dan agama.
7. Tidak merupakan karya plagiat/pelanggaran hak cipta
8. Lengkapi dengan sinopsis
9. Sertakan kelebihan dan kekurangan naskah yang Anda miliki dibandingkan dengan buku-buku bertema serupa yang sudah beredar di pasar. 

Prosedur Pengajuan Naskah:

Jika naskah telah memenuhi kriteria di atas. Kirimkan naskah Anda dengan prosedur sbb:

Kirim naskah Anda (lengkap) berupa print out atau dalam bentuk CD ke: 
1. Departemen Editorial Penerbit Erlangga,
Jl. H. Baping No. 100, Ciracas
Jakarta Timur 13720
U.p.: Maya Yulianti/ Fikri Somyadewi.


Atau

Ke alamat email: naskah[at]erlangga.co.id

2. Sertakan informasi sbb:
• Surat pengantar.
• CV (Daftar Riwayat Hidup) dengan alamat lengkap, nomor telepon, dan alamat email yang dapat dihubungi.


Jika Redaksi menolak penerbitan naskah, kami akan memberikan kabar via surat, telepon, atau email. Bahan naskah tidak akan dikirimkan kembali kecuali disertai perangko yang mencukupi.

Apabila naskah layak terbit, kami akan memberikan kabar via surat dan telepon, dan dilanjutkan dengan pengajuan pembayaran.

Minggu, 03 Juni 2012

Rahasia Biar Punya Anak Anteng

Suatu ketika seorang teman yang sedang mengandung anak pertama berada dalam sebuah perjalanan bersamaku. Waktu itu, aku membawa si bungsu, Syifa, yang saat itu belum genap berusia dua tahun. Syifa memang anteng anaknya kalau diajak bepergian. Dan semua anakku rata-rata demikian. Jadi wajar bila kemudian, teman tersebut meluncurkan sebuah pertanyaan, yang sering aku terima dari teman-teman lain sebelumnya.

"Mbak, gimana sih caranya biar punya anak anteng ?"

Dalam hati aku menjawab, ya bikinnya harus anteng. Sstt !
Terus terang, selama ini bila aku mendapat pertanyaan seperti ini, aku tidak bisa menjawab. Biasanya, orang lain akan membantu menjawab dengan, "Lah, bapak ibunya saja anteng, pendiam. Anaknya sudah jelas anteng. "

Ya, itu mungkin ada benarnya. Faktor genetik. Sifat itu diturunkan, tapi sikap tidak diwariskan. Boleh jadi, aku dan suami yang tipikalnya pendiam, menurunkan sifat ini pada anak-anak kami. Jadi bila di luar rumah, anak-anak kami, selalu menjadi anak manis. Duduk manis, bila minta sesuatu bisik-bisik dulu, bila tidak dituruti juga diem, nangis pun hanya air mata yang meleleh dan dada kembang kempis. Alhamdulillah, aku selama ini tidak  kesulitan bila harus membawa si kecil ke mana-mana. Tinggal tak gendong ke mana-mana saja dah .... hehehe.

Kembali ke pertanyaan tentang bagaimana cara membuat anak menjadi anteng. Terus terang, ini perbincangan "rumah tangga" banget, jadi yang belum merit, lebih baik tutup muka pakai panci aja yak.

Aku bagi tipsnya di sini ya, tapi... tetep saja, tips ini tidak akan sama efeknya pada pasangan yang berbeda lo yaa... inget ! Tapi, bisa jadi, siapa tahu, wallahu alam, efeknya juga akan sama.

  1. Berdoa sebelum berbuat. Nah ini yang penting. Mempersiapkan keturunan, jangan lupa bersandar pada Sang Pencipta Keturunan. Jangan karena sudah nafsu, lupa deh berdoa. Alamat, syaiton nan terkutuk ikut berperan dalam proses pembuahan. 
  2. Berdoa juga setelah berbuat :D. Penjelasan sama dengan di atas.
  3. Bila Allah berkehendak si emak mengandung, maka jangan lupa, selama hamil :


  • Konsumsi jasad hanya dengan makanan yang halal dan baik. Makanan halal tentunya yang didapat dengan cara halal dan materinya juga halal (bukan yang diharamkan secara syariat). Dan makanan yang baik adalah makanan yang baik untuk kesehatan tubuh : bersih, tidak mengandung zat aditif ( pewarna, pengawet, penyedap, pengental dll ), tidak busuk atau basi, banyak mengandung vitamin dan protein, dan sudah dimasak.
  • Konsumsi hati hanya dengan memperbanyak tilawah dan berdzikir. Hindari iri dan dengki plus penyakit hati lainnya. Berprasangka baik pada Allah, bahwa anak kita kelak akan menjadi anak yang anteng :D
  • Konsumsi akal dengan memperbanyak pengetahuan tentang pendidikan anak, pola makan sehat, cara hamil sehat, teknik melahirkan yang menyenangkan, de el el deh. Pokoknya semua ilmu yang baik-baik aja. Gak perlu mempelajari ilmu pelet yak ...
Dan bapaknya jangan lupa, melakukan hal yang sama dengan emaknya. Jangan absen sholat malam ... hoiii bapak bapak ? Biasanya tuh beliau yang paling males melakukan hal ini....hihihi.

 4. Menjelang dan saat melahirkan nih, doa lebih kenceng lagi. Dan jangan lupa adzan dan iqomah saat si jabang bayi sudah menjerit-jerit saking sedihnya dia terlahir di dunia yang penuh dengan dosa dan nista ini.

5. Selama menyusui, baik emak atau bapak, tetepp melakukan hal dan hil sebagaimana selama hamil.

6. Pola asuh. Nah, ini adalah pembiasaan. Jadi, anak anteng itu anak yang tidak terlalu sering menonton tipi. Jadi sibukkan anak dengan permainan yang mengasah motorik halus dan kognitifnya. Seperti puzzle atau menggunting atau mengelem. Anak akan lebih asyik dengan permainan daripada hura-hura ... loh ?

Nah, Insya Allah kalau semua itu dilakukan, anak akan anteng. Tapi, baik aku dan suami pun banyak bolongnya melakukan hal-hal tersebut di atas. Jadi, suatu masa pun, anak-anak kami juga tidak bisa anteng, namanya juga anak-anak. Apalagi bila dia kita bawa ke sebuah acara atau kegiatan kita yang tempatnya tidak kondusif. Ramai dan banyak mainan, seperti di mall. Makanya, saya jarang bawa anak saya ke mall.

Rabu, 30 Mei 2012

Tentang Sebuah Ladang



        LADANG

Sebuah sore yang telah kupersiapkan dengan matang, akhirnya menjadi badai besar yang menghantam batinku. Tapi entah kenapa, jasad ini masih berdiri kokoh layaknya batu karang. Apakah karena sepasang mata lelaki yang teramat kucintai itu menatapku penuh kasih ? Seolah apa yang baru diucapkannya tidak menjanjikan sebuah hati akan terbagi.
”Aku tetap mencintai kamu, Dea. Seperti dulu, seperti sekarang. Seperti sebelum terlahir Angga dan Rina, seperti hari ini juga. ” ucapnya dengan senyum mesra.
Aku memalingkan wajah, sementara dengan lembut dia merengkuhku dalam dada bidangnya. Aku tidak mendengar degup jantungnya berdebar kencang. Dia sudah merencakan ini semua dengan matang. Bahkan ucapannya barusan tidak membuat jantungnya perlu berdetak keras. Ragu mulai menyergap batinku. Perlahan, aku mulai tidak mempercayai ungkapan mesranya. Apakah, dia bersandiwara ?
Sebuah pelabuhan baru, di tengah-tengah perjalanan pernikahanku ? Aku yakin, pernikahan indah ini tak pernah ada kata berakhir. Aku yakin, cinta kami begitu kuat, walaupun dua tahun terakhir, kami hanya bertemu di hari Sabtu dan Minggu.
”Aku tidak pernah berniat mengkhianati kamu, Dea. Sungguh. Aku hanya berusaha menjaga nama baik dan kerhormatan keluarga kita, ” bisiknya kemudian, seraya menciumi rambutku.
Aku memejamkan mata. Berusaha menahan rasa nyeri di dadaku yang tak
kunjung reda. Jika benar lelaki yang telah menikahiku selama lima belas tahun ini benar-benar masih mencintaiku, mengapa dia tidak bisa merasakan perih ini ? Bahkan aku sampai tak sanggup menggerakkan lidahku dan membalas lambaian tangan Angga di kejauhan. Sulungku yang tampan, bahkan tinggi badannya sudah melampauiku. Apakah dia juga harus berbagi hati seperti aku ? Ya, Tuhan ... aku tidak sanggup. Sore yang cerah ini begitu kelam. Sekelam brownis kukus buatanku yang tak tersentuh di hadapanku. Padahal, berjam-jam aku mempersiapkannya di hari istimewa ini. Hari ulang tahun pernikahanku yang kelima belas.
OoO
Bahkan aku tidak sanggup menyampaikannya pada Angga dan Rina. Mereka tidak akan bisa memahami tentang menjaga nama baik dan kehormatan keluarga. Kedua bocah itu bahkan tidak akan kubiarkan meraba isi hatiku melalui raut wajahku.
”Ayah tetap akan pulang hari Sabtu dan Minggu saja, bu ?” tanya Rina sambil melahap sarapannya.
Hari Senin, setelah badai di hari Minggu kemarin. Tidak ada mas Agra. Aku tidak yakin bisa melalui hari ini tanpa air mata.
”Tidak mungkin, lah !” sahut Angga, ”Makasar itu jauh dari Surabaya, tahu. Kalau setiap minggu ayah pulang, kasihan. Capek. Ya, kan bu ? Kata bapak dia akan pulang sebulan sekali.”
Aku mengangguk, tanpa berani menatap wajah Angga.
”Yah .... kalau sebulan sekali, bisa-bisa ayah lupa sama kita. Naik pesawat kan
tidak capek. Ayah bisa pulang Sabtu dan Minggu seperti biasa, kan Bu ?”
Aku tertegun. Ya, Rina benar. Lambat laun, Mas Agra akan dengan mudah melupakan kami di sini, terutama aku. Terlebih bila, Joan, sekretarisnya yang perawan tua itu benar-benar telah menjadi maduku. Tubuhnya masih langsing dan energik. Wajahnya selalu berpoles make up mahal, memalsu usia sebenarnya.
Entah apa yang sudah dilakukannya sehingga Mas Agra mengambil keputusan untuk menikahinya. Aku juga tidak habis pikir, apa yang dilihat Mas Agra pada diri Joan, gadis yang sudah berkepala empat itu. Wanita pemarah dan penggerutu. Apa benar, hanya demi kehormatan keluarga ini ?
Sebuah pesan pendek muncul di handphoneku. Dita, sahabat karibku. Dulu, suaminya adalah rekan kerja Mas Agra sebelum Mas Agra dipindah ke Kantor Cabang di Makasar.
”De... kamu harus kuat, say. Aku tidak salah, kan ....”
Kontan mataku kembali membasah. Dita pasti sudah mengetahui rencana Mas Agra dari suaminya. Bahwa, untuk menghindari fitnah yang beredar di kantor pusat, Mas Agra akan menikahi Joan, sekretarisnya yang sudah  mendampinginya selama survey di Makasar dua tahun terakhir. Bagaimana tidak, kadang mereka harus menginap di hotel yang sama.
Kini, keputusan perusahaan sudah ditetapkan. Mas Agra dan Joan akan ditempatkan di Makasar, dengan gaji tiga kali lipat. Sedangkan Mas Agra tidak bisa memboyong aku dan anak-anak, karena ibuku sudah tua dan sakit-sakitan, hanya bergantung pada aku, anak tunggalnya.
”Sebelum berangkat, jangan lupa pamitan sama nenek ya ?”
Angga dan Rina mengangguk patuh. Setelah membereskan meja makan, mereka berebut menciumku dan berhamburan menuju kamar neneknya.
Apakah melihat keriangan mereka sudah cukup membuat aku bahagia ? Tidak. Bagiku, bahagia adalah keutuhan hati Mas Agra di rumah ini, tanpa terbagi.
Teringat wajah cemas Dita saat pertama kali menyampaikan berita tak sedap tentang Mas Agra dan Joan, yang beredar santer di kantor. Tapi saat itu, aku  percaya pada Mas Agra, bahwa dia tidak akan pernah mengkhianati aku. Dia adalah lelaki yang jujur. Apapun pasti dia sampaikan padaku. Termasuk, keinginannya untuk menikahi Joan. Aku harus bertemu Dita hari ini.
OoO
Mas Agra mengernyitkan kening. Baginya permintaanku sangat aneh. Tapi, sejurus kemudian, senyumnya kembali melebar. Aku yakin, senyum ini yang telah dinikmati Joan selama dua tahun ini. Aku membalas senyumnya, walau terasa perih di dadaku.
”Sebuah ladang ?”
”Iya. Untuk mengisi hari-hariku selama satu bulan menunggu Mas pulang ....”
Mas Agra merengkuhku dalam pelukannya. Ah, aku masih tetap tak rela pelukan ini menjadi milik Joan.
”Tidak perlu seperti itu, Dea. Aku akan menelpon setiap hari ...”
”Itu pasti tidak sama ....” bisikku.
”Iya, aku tahu. Tapi bukankah aku bekerja demi masa depan kita ?”
”Apa Joan juga masa depan kita ?”
Mas Agra melepaskan pelukannya dan menyentuh kedua pipiku dengan telapak tangan kekarnya.
”Dea, bukankah kita sudah membicarakan hal ini ? Apakah hatimu masih berat ? Bukankah lebih baik bila aku menikah daripada senantiasa berdekatan dengan zina ?”
”Apakah itu untuk selamanya ?” tanyaku parau.
”Dea .... aku selalu mencintaimu, bukan Joan. ”
Aku kembali terisak.
”Hei, tunggu dulu. Bagaimana kamu membagi waktu antara mengurusi ladang dan ibu ? Bukankah ibu sekarang harus memakai kursi roda ?”
Aku tersenyum.
”Aku ingin kita berdua melihat ladang yang akan kita beli. Nanti Mas Agra akan tahu. ”
Sebuah kecupan di kening. Aku benar-benar menikmatinya kali ini.
OoO
Mas Agra geleng-geleng kepala. Dia tidak percaya dengan pemandangan di hadapannya. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.
”Ladang yang ini ?” tanyanya sekali lagi padaku.
Aku mengangguk mantap.
”Dea, kamu tidak salah ? Lihat saja, bahkan rumput pun enggan tumbuh di ladang kering kerontang seperti ini. Kenapa tidak ladang di sebelahnya saja ? Lihat, jagungnya gemuk-gemuk dan siap panen. Aku sanggup membelikan kedua ladang ini untuk kamu, Dea, bila kamu tetap memaksa memilih ladang
gersang ini.”
”Karena ladang gersang ini punya kisah. Apa Mas Agra mau mendengar ?”
”Kisah ?”
”Ya. Sebelum memutuskan membelinya, aku sudah menemui pemiliknya. Awalnya, ladang gersang itu milik adiknya. Semula, ladang itu sangat subur. Si adik adalah petani yang sangat rajin merawat ladangnya. Hasil panennya selalu melimpah, jauh melebihi ladang kakaknya yang ada sebelahnya. Sampai-sampai, si adik bisa menabung dan menggunakannya untuk merantau ke luar negeri. Karena, kabarnya, dengan sedikit bekerja di luar negeri, hasil yang didapat lebih besar dari bekerja keras di ladang sendiri. Maka si adik pun meninggalkan ladangnya. Tidak mengurusnya sama sekali, setelah selama ini, ladang itu telah menghidupinya. Suatu ketika dia pulang, dan melihat ladangnya telah gersang. Bahkan rumput enggan tumbuh di atasnya. Maka tidak ada lagi dalam hatinya keinginan untuk menyentuh ladangnya. Dengan mudah dia menjual ladangnya pada si kakak, pemilik ladang di sebelahnya. Tapi, si kakak tidak sempat mengurusnya, karena dia pun sibuk mengurus ladangnya sendiri.”
Aku melirik Mas Agra. Dia terdiam. Matanya tidak lepas dari ladang gersang di hadapan kami.
”Aku ingin mengembalikan ladang ini seperti sedia kala. Aku yakin, dia pasti bergembira menyambutku, bahkan mungkin jauh lebih bergembira dari ketika setiap hari pemilik ladang terdahulu mendatanginya. ”
Mas Agra masih terdiam.
”Mas, ayo kita temui si kakak pemilik ladang ini. Dia sudah menunggu kita hari ini, di rumahnya. Dia ingin segera melepas ladang ini, karena dia merasa tidak
sanggup mengembalikan kesuburan ladang ini seperti sedia kala. Padahal kuncinya sederhana saja, kita cukup merawatnya setiap hari, maka ladang ini akan kembali seperti sedia kala.”
Aku menggamit lengan Mas Agra. Mas Agra menahanku.
”Duduklah di sini bersamaku, Dea.”
Aku menatapnya tak mengerti. Tapi aku menurut saja, menjajarinya duduk di tepi tanggul jalan, menghadap ke kedua ladang itu. Aku berharap dia tidak berubah pikiran untuk membeli ladang itu.
OoO
Hari keberangkatan Mas Agra ke Makasar. Tapi dia tidak kunjung datang dari kantor. Padahal koper sudah kusiapkan dan anak-anak sengaja ijin tidak masuk sekolah untuk mengantar ayahnya ke bandara.
Berkali-kali kutelpon, tapi tidak diangkat. Aku gelisah, karena pesawat akan berangkat tiga jam lagi. Perjalanan ke Bandara Juanda saja akan memakan waktu satu jam.
”Ibu tidak ikut ke bandara ?” tanya Angga.
Aku tidak menjawab. Mana mungkin aku mengantar Mas Agra dan melepasnya bersama Joan ? Walaupun, sampai detik ini, Mas Agra belum menyinggung lagi kapan rencana dia akan melamar Joan.
”Ibu tidak akan mau berangkat ke bandara ....” ucap sebuah suara yang begitu kukenal.
”Ayah !”
Angga dan Rina menghambur ke pelukan ayahnya. Mas Agra melebarkan tangannya, mengundang aku dalam pelukannya. Aku mendekatinya perlahan.
”Aku akan mengantar ke bandara jika Mas menginginkannya....”
”Tidak. Aku mau kamu, aku dan anak-anak tetap di sini.”
”Maksud Mas ?”
”Kita berempat akan mengurus ladang itu. Bagaimana ?”
Aku mengernyitkan kening, tidak percaya dengan kata-kata itu. Seuntai senyum menawan Mas Agra memberikan penjelasan panjang lebar, melebihi sebuah kalimat. Seketika aku menghambur dalam pelukannya, menghujaninya dengan cinta, tanpa merasa malu di hadapan Angga dan Rina. Aku bahagia, lebih dari sebelumnya.
”Ayah tidak jadi ke Makasar ?” tanya Angga yang pandai membaca situasi.
”Tidak sayang. Ayah tidak mau jadi Kepala Cabang di sana, nanti ayah bisa lupa sama kalian ....”
”Horeee !”
Mas Agra kewalahan menerima pelukan dan ciuman Angga dan Rina. Aku memandangi mereka dan menyusut bulir bening di sudut mataku.
Terima kasih, Dita. Kamu memang sahabat terbaikku. Seharusnya, aku mendengarkan nasehatmu tentang ladang itu sejak dua tahun yang lalu. Tapi tak mengapa, pengalaman dua tahun terakhir, telah membuat cinta kami semakin kuat. Karena aku adalah ladang satu-satunya milik Mas Agra. Aku yakin, dia tidak ingin meninggalkan aku menjadi gersang.
OoO

Quote : 
Poligami adalah tentang beberapa ladang yang harus dirawat. Bila hanya karena melihat ladang lain lebih hijau, maka janganlah melakukannya. Karena pasti tidak akan sanggup mengurus semuanya.

Note :
Cerpen ini pernah aku ikutkan di Lomba Cerpen Femina, tapi gak lolos, hehehe. Maka cerpen ini aku sertakan dalam woro-woro bagi-bagi buku GADO-GADO POLIGAMI.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...