Tampilkan postingan dengan label Cerpen Dimuat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Dimuat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 September 2012

MELAMAR NENENG


( Cerpen ini dimuat di Radar Bromo, lupa tanggalnya ...hihihi )

Mugi sudah membulatkan tekad melamar Neneng. Seorang gadis cantik ang tinggal di  kecamatan Wonoasih. Menjadi kasir di sebuah koperasi. Tepat di hadapan bengkelnya yang kerap sepi. Dia sudah tidak tahan lagi melihat Neneng yang sering digoda teman laki-lakinya. Dia tak rela melihat Neneng yang marah besar bila teman-teman sekantornya menggodanya. Lalu para lelaki itu tertawa senang.
Mugi sebenarnya ingin menolong layaknya pahlawan. Tapi apalah daya. Neneng tidak ada ikatan dengannya. Mugi hanya kerap menyampaikan salam. Itupun lewat satpam.
Semakin hari, Mugi semakin geregetan. Baginya Neneng adalah istri idaman. Berjilbab rapi dan rupawan. Setiap hari, menaiki motor bebeknya dan selalu menjadi karyawan pertama yang datang. Sudah setahun ini, Mugi mengamati Nenang dari bengkelnya. Dan dia pun tak tahan untuk mengirim salam setiap hari. Pada satpam koperasi yang kerap melepas lelah seraya minum kopi, di bengkelnya yang selalu sepi.
“Neneng itu anak tunggal, “ cerita Mamat, sang satpam koperasi, “bapaknya kerja di Surabaya, ibunya tinggal di Bondowoso. Kalau mau melamar Nenang, kau harus menghadap bapaknya di Surabaya. Orang-orang di kantor gak ada yang berani ngelamar Neneng. Katanya, bapaknya sangar. ”
Mugi cengar-cengir. Orang sangar belum tentu hatinya sangar. Mugi yakin bisa menaklukkan hati bapaknya Neneng. Dia sudah terbiasa berhadapan dengan berbagai macam tipe orang. Yang terasa berat baginya adalah ongkos melamar ke Surabaya yang tidak murah. Dan untuk itu Mugi harus banting tulang demi mendapatkan Neneng. Maka, saat Pak Lek-nya memberi dana, tanpa pikir panjang, Mugi melapor pada Mamat, si mak comblang.
“Aku mau melamar Neneng. “
Mamat terkejut, tidak menyangka Mugi nekad melamar. Dipandanginya Mugi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rambutnya keramas seminggu sekali. Untunglah, bau kecutnya kalah oleh bau oli. Seragam kerjanya tentu saja baju kumal penuh noda oli yang sudah bolong di sana sini. Kakinya tak pernah menyapa alas kaki, meskipun hanya kelompen atau sandal jepit. Mugi hanya memakai sandal kalau Jum’atan ke mesjid. Itupun setelah sibuk mencari pinjaman ke sana sini. Saat itulah dia kelihatan rapih dan bersih. Meski istilah ganteng masih harus dipikirkan masak-masak untuk menyebutnya walau sekali.
“Aku akan mempertemukan kau dan Neneng, selesai Jum’atan, “ ucap Mamat bijak, walau dia sangsi Mugi akan diterima. Dia dan Neneng seperti bumi dan langit.
“Dukung aku, ya Mat. Kalau dia sudah kulamar, dia tidak akan digoda lagi sama orang-orang di kantormu. “
Mamat manggut-manggut, setuju dengan niat baik Mugi. Setidaknya, lelaki di hadapannya adalah lelaki yang sangat menghormati Neneng. Hanya nitip salam, tidak pernah menggoda seperti lelaki lain. Walau kere, tapi hatinya kaya. Buktinya, dia mentraktir Mamat minum kopi siang ini.
“Soal dana kawin, itu gampang dicari. Aku bisa ngutang sama kamu, kan Mat ?”
Mamat tersedak.
OoO
Tidak disangka, Mugi ternyata panas dingin begitu dipertemukan dengan Neneng. Padahal, setiap saat Mugi memantau Neneng dari seberang jalan. Pintu depan koperasi berkaca bening, tepat di depan kasir. Dan bengkel Mugi, pas lurus di seberang jalan. Bukankah dia sudah terbiasa melihat Neneng ? Mamat geleng-geleng kepala. Seingatnya, dia tidak se-grogi Mugi saat apel ke calon istrinya dulu. Pantesan selama ini Mugi hanya berani titip salam.
“Neng, Mugi mau melamar kamu, “ ucap Mamat, tandas.
Neneng terkejut. Mamat sama sekali tidak pantas menjadi mak comblang. Sama sekali tidak ada kata-kata pembukaan apalagi kata-kata manis yang menyanjung Mugi. Mugi merutuk dalam hati. Sementara baju kokonya sudah basah oleh keringat dingin. Sarungnya pun, walau tak melorot, berkali-kali dinaikkannya.
Neneng menatap Mugi sekilas. Tak pernah dia berharap, bahkan dalam mimpinya sekalipun, akan dilamar di depan cash registre. Beberapa pramuria terkikik di balik rak minuman. Beruntung bagi Mugi, teman-teman kantor Neneng masih belum pulang dari Jum’atan. Kalau tidak, pasti dia ditertawakan habis-habisan.
“Aku … aku ….”
Mugi tersenyum gembira. Katanya, kalau gadis tidak bisa ngomong pas dilamar, pertanda dia menerima. Entah Mugi mendapat info dari siapa.
“Gini aja, Neng. Baiknya, Mugi ini kamu kasih alamat bapakmu. Biar dia sendiri yang melamar ke bapakmu, “ saran Mamat lagi, memperjelas keadaan, mempercepat pekerjaan.
Neneng menelan ludah. Mugi juga. Tapi kemudian Neneng mengangguk. Mengambil secarik kertas dan menuliskan alamat. Lengkap dengan naik bus kota dan angkot jurusan apa dan turun di mana.
Mugi mengambil kertas itu dan pamit dengan sopan setelah membetulkan peci dan sarungnya. Tinggal Neneng yang masih termangu, tidak percaya pada apa yang baru saja dialaminya. Diliknya Mugi yang sudah duduk di bengkelnya, tersenyum-senyum membaca kertas yang diberinya tadi.
“Apa benar, lelaki itu calon suamiku ?”
Pikiran Neneng menjadi kacau. Tiba-tiba dilamar orang yang tak terduga. Padahal dia mengira, salah seorang teman sekantornya yang akan melakukanya lebih dulu. Neneng bertekad sholat istikharoh semalam suntuk, sebelum menelpon bapaknya.
OoO
Akhirnya Mugi berhasil menemukan kantor tempat bapak Neneng bekerja, sebuah travel bus antar provinsi. Setelah salah naik angkot dan terpaksa bertanya ke lebih dari dua puluh orang. Terik dan ruwetnya Surabaya telah membuatnya kering. Air mineralnya tandas dan uangnya hanya cukup untuk ongkos pulang, tentunya tanpa keliru angkot dan bus kota.
Pak Gatot, lelaki gendut berkumis tebal itu memang layak disebut sangar. Menatap matanya saja, sudah membuat lutut Mugi gemetaran. Tapi tak mungkin niatnya dibatalkannya begitu saja. Dia sudah banyak berkorban. Walaupun ditolak, dia tidak akan patah arang. Setidaknya, dia sudah membuktikan pada Neneng, bahwa dia serius ingin meminang.
Pak Gatot tersenyum melihat secarik kertas milik Neneng. Rute bus kota dan angkot. Dia pun mengerti, kenapa Neneng memberi Mugi rute berputar-putar kota Surabaya hanya untuk menemui dirinya. Padahal kantornya bisa ditempuh hanya berjalan kaki lima menit saja dari Terminal Purabaya.
“Hm, Neneng sudah menelpon kemarin. Katanya Nak Mugi mau melamar Neneng ?”
Mugi mengangguk hormat.
“Nak Mugi kerja apa ?” tanya Pak Gatot dengan ramah.
Mugi merasa lega. Pak Gatot ternyata tidak sesangar wajahnya, seperti perkiraannya. “Saya kerja di bengkel, Pak. Punya saya sendiri. “
“Hmm. Sudah mantap mau menikahi anak saya. “
“Iya, Pak. “
“Kalau begitu, Nak Mugi harus melakukan sesuatu untuk saya. “
“Apa itu, Pak ?”
“Tolong antarkan bungkusan ini ke istri saya, ibunya Neneng di Bondowoso. Malam ini harus sudah sampai. Ini alamatnya dan ini ongkosnya. “
Mugi tertegun melihat amplop dan sebuah kotak mirip kardus sepatu yang dibungkus kertas sampul, tepat di hadapannya. Bahkan, dia pun diberi ongkos.
“Tapi, dompet Nak Mugi ditinggal saja di sini. KTP-nya saja yang dibawa. Dan ini alamat rumah saya di Bondowoso.”
Mugi menelan ludah. Berkali-kali.
OoO
Mugi mengumpat berkali-kali dalam hati. Merutuki kebodohannya tanpa suara. Uang di amplop itu hanya cukup untuk membawanya ke Probolinggo, kotanya sendiri. Mugi merasa, ini sebuah peringatan halus, bahwa lamarannya ditolak. Dia harus kembali ke kotanya, kembali mengadu nasib di bengkel sepeda motornya yang selalu sepi.
“Tapi, aku harus mendapatkan Neneng, “ tekadnya membaja, apalagi membayangkan senyum manis Neneng pada setiap pengunjung koperasi. Dia ingin memiliki senyum itu setiap hari. Akan menjadi pelepas lelahnya setelah menutup bengkel.
Maka dia berdiri di depan terminal Bayuangga, terminal Probolinggo. Melambai-lambai pada truk-truk yang lewat, berharap mendapat tumpangan. Perutnya sudah melilit, kelaparan. Dan kerongkongannya kering kerontang. Sementara matahari mulai tergelincir ke barat, dan sebentar lagi akan ditelan malam. Mugi melirik lelaki di sebelahnya, yang sedang menunggu bus. Lelaki perlente dengan baju dan celana necis. Dasi dan tas koper. Dia sibuk menelpon dengan handphone-nya. Andai lelaki ini yang melamar Neneng, pasti dia bisa sampai di Bondowoso dengan tetap segar bugar.
Mugi mengeluarkan handphonenya, model paling lawas yang dibelinya dari seorang teman. Bahkan tak ada pulsa di dalamnya. Mugi putus asa, tak bisa meminta tolong pada Mamat. Dia hanya bisa berdoa, semoga Tuhan mendatangkan malaikat penolong baginya.
Sebuah bus jurusan Bondowoso lewat di hadapannya. Mugi tak berani mengayunkan tangan untuk memberhentikannya. Namun, seraut wajah menatapnya dari balik kaca jendela bus, di deretan bangku paling depan. Neneng ! Segera Mugi menghadang truk yang berjalan pelan di belakang bus yang ditumpangi Neneng. Mugi langsung melompat naik dan berdiri di jendela sopir.
“Mas ? Ke Bondowoso ?”
“Kraksaan, Mas. “
“Aku numpang ya, Mas. Tolong. Aku harus mengejar calon istriku !” pinta Mugi dengan tampang memelas. Sebenarnya dia tidak perlu melakukannya, karena wajahnya sudah mengenaskan.
Sopir itu mengangguk. Mugi langsung membuka pintu dan duduk dengan lega. Berkali-kali dia mengucap syukur. Allah telah mengirim sebuah pertolongan. Wajah Neneng yang telah memompa semangatnya. Dipeluknya bungkusan dari Pak Gatot itu erat-erat. Dia harus sampai ke Bondowoso malam ini juga.
OoO
Rumah bercat putih itu tampak bergoyang ke kiri dan ke kanan. Apalagi bila Mugi mengerjapkan matanya, rumah itu tampak menjadi dua atau tiga, berjejer saling tumpang tindih. Langkah Mugi terseok-seok. Sudah lewat tengah malam, dan dia telah menempuh berkilo-kilo meter dari pinggir kota Bondowoso. Syukurlah, dari Kraksan ke Situbondo, dia mendapat tumpangan seorang tukang ojek. Dia pun sudah banyak bertanya pada tukang-tukang becak yang sudah mendengkur di becaknya. Atau satpam bank yang menatap curiga padanya. Ahirnya dia sampai di rumah Neneng.
“Neneng, aku sudah tak sanggup lagi …” batin Mugi dalam hati. Bahkan membatin pun Mugi sudah tak ada tenaga lagi.
Perlahan, dia membuka pintu pagar dengan langkah lunglai. Memencet bel di tembok, lalu ndelosor di lantai. Terdengar ayam berkokok di kejauhan. Sebentar lagi subuh.
Pintu terbuka, dan seorang wanita separuh baya terkejut melihat Mugi, lalu memanggil-manggil anaknya.
“Neng ! Neneng ! Lihat siapa yang datang !”
Mendengar nama Neneng disebut, Mugi kontan bisa bersimpuh dengan punggung tegak. Tak kuat lagi dia mengangkat dengkulnya. Dengan hormat dia menyerahkan bungkusan titipan Pak Gatot pada wanita di hadapannya. Andai dia masih kuat bicara, dia pasti berucap, sendiko dawuh…
Neneng muncul di teras, melotot tak percaya melihat Mugi bersimpuh di hadapan ibunya. Barulah dia percaya, bahwa mengapa bapaknya setuju menerima Mugi jadi suaminya. Sementara sang ibu membuka bungkusan dari suaminya, dan membaca surat yang ada di dalamnya.
“Bu, ini uang buat biaya kawin anak kita. Yang ngantar ini calon mantu kita. “
Mugi langsung terkapar. Dia merasa bagai di surga. Sempat dia memaki dalam hati pria gendut berkumis tebal itu. Mengapa hanya mengongkosinya lima belas ribu, sementara bungkusan yang dipeluknya sejak dari Surabaya itu berisi berjuta-juta.
OoO

Kamis, 13 September 2012

VEGETARIAN


Dimuat di : Radar Bromo, 31 Oktober 2010

Jaka adalah teman yang baik tapi tidak menyenangkan. Dia baik dalam segala hal namun tidak menyenangkan dalam urusan makan. Teman yang berada dalam kesulitan apapun bentuknya, dia selalu menjadi orang pertama yang menawarkan bantuan. Dia bisa sangat dermawan untuk urusan makanan, terutama bila makanan itu tidak masuk dalam daftar makanan vegetariannya.
“Darimana kamu mendapat protein ?” bisikku saat makan siang di kantin kantor.
Di hadapan Jaka hanya ada nasi, sayur-sayuran mentah, dua iris tempe goreng dan pepes tahu. Tentu saja semuanya dia bawa dari rumahnya. Diletakkan dalam kotak bekal makanan yang memenuhi standar kesehatan. Begitu juga dengan bekal minumnya. Air bening ( bagiku air putih adalah susu ) yang juga berada dalam botol minuman berstandar kesehatan. Aku yakin, istrinya adalah orang yang paling sering dibuatnya pusing tujuh keliling.
“Protein dari kedele lebih bagus dari daging di hadapanmu itu. “
“Bagus buat dompet ?”
Jaka tersenyum. Seperti biasa, di mana-mana dia begitu percaya diri dengan pola hidupnya. Setahuku, semua vegetarian seperti itu. Begitu bangga dengan pola hidup sehatnya.
“Memang. Bagus buat dompet. Sekarang dan masa yang akan datang. “
“Maksudmu ?”
“Kalau aku sudah seusia Pak Herman, aku tidak akan bolak-balik masuk rumah sakit. Kesehatan mahal harganya. “
Aku mengangkat bahu. Terlintas raut wajah Pak Herman dengan mulut agak miring akibat stroke yang menyerangnya sebulan yang lalu. Sekarang, atasan kami itu terbaring tidak lagi di rumah sakit. Padahal baru dua minggu yang lalu dia tampak sehat dan sudah masuk kantor.
“Sebaiknya kau perhatikan pola makanmu, Rus, “ ucap Jaka sambil menikmati sayur kol mentahnya sambil melirik ke arah piringku yang belum kusentuh, “mumpung masih muda, masa depan kita masih panjang. “
Aku selalu merasa mual melihat Jaka bila sudah melahap sayur mayur mentahnya. Aku teringat hewan peliharaan mertuaku. Apa enaknya makan sayur mentah ? Menyedihkan. Bahkan melihat Jaka mengunyahnya dengan lahap, sempat menghilangkan selera makanku. Padahal paha ayam bumbu kecap dan sambal bajak yang kini berada di hadapanku adalah menu favoritku di siang hari yang terik ini. Dan sebotol minuman bersoda dingin sebagai pendampingnya.
Hhhh … apa peduli Jaka ? Harusnya aku juga tidak peduli dengan menu makan siangnya yang menyedihkan. Bagiku yang penting bisa makan enak dan enak makan.
OoO
Prasmanan. Tentu saja ritual makan yang menggairahkan bagi semua undangan. Hani, seorang staff TU yang baru setahun bekerja di kantor kami, menggelar resepsi pernikahannya di sebuah hotel. Cukup mewah. Tidak mengherankan, karena walaupun Hani cuma seorang TU, bapaknya adalah pemilik hotel ini.
“Bagaimana Jaka ?” bisik istriku saat para undangan yang sudah memberi selamat kepada kedua pengantin, dipersilahkan untuk menikmatai hidangan.
“Memangnya kenapa dia ?” tanyaku balik bertanya.
“Dia mau makan apa di sini ?”
Aku menebar pandanganku ke meja-meja tempat semua makanan serba lezat itu dihidangkan. Tidak ada satupun selera Jaka ada di sana. Semuanya adalah seleraku. Walaupun jam enam tadi pagi aku sudah sarapan, tapi melihat semua hidangan itu, aku menjadi kelaparan. Padahal masih jam sepuluh, belum waktunya makan siang. Apa peduliku …. ini pesta, kan ? Jaka ada benarnya. Mumpung masih muda dan masa depan panjang, maka manfaatkan sebaik-baiknya sebelum masa tua datang. Yaitu, saat dokter memberikan list daftar makanan yang terlarang untuk dikonsumsi.
“Mungkin dia akan makan ini ….” bisikku pada istriku sambil menunjuk ke deretan daun selada yang menghiasi tepi beberapa piring lauk pauk
Istriku tertawa geli. Dia menoleh ke belakang, mencari sosok Jaka dan istrinya.
“Kasihan dia, Mas … “
“Tidak usah dipedulikan. “
Lalu aku dan istriku mengambil tempat duduk di tepi kolam ikan. Rupanya Jaka dan istrinya menyusul. Aku dan Jaka memang teman dekat. Maka tak heran kami selalu tampak bersama di kantor.
Rupanya istri Jaka bukan seorang vegetarian. Kulihat lima tusuk sate di piringnya, sepotong ayam goreng, beberapa sendok nasi. Sama sekali tidak ada sayur. Dan seperti perkiraanku, Jaka mengambil beberapa helai daun selada dan dua iris tomat.
“Jaka … kamu menyingung perasaan Hani, “ ucapku bercanda, “makanan di pestanya tidak ada yang enak. “
Jaka tersenyum seperti biasa, “Ini yang super enak, Rus ! Coba deh !”
Aku menggeleng dan memutar badanku. Tidak tega, tidak sampai hati, tidak ingin kehilangan selera makan bila berhadapan dengan Jaka.
Di mata aku dan istriku, alangkah tersiksanya hidup Jaka dengan pola makan vegetariannya. Bahkan di sebuah pesta tempat kita bebas makan sepuasnya, hanya dia yang tampak terpenjara dengan sayur mayurnya.
OoO
Himbauan Jaka atau mungkin lebih tepat rayuan tak ayal membuatku tertarik untuk mencoba.
“Mengkonsumsi sayuran mentah akan memberikan vitamin dan nutrisi segar pada tubuh kita, Rus. Lihat saja kulitku. Bersih dan sehat kan ?”
Sejak dulu aku memang heran dengan kulit Jaka yang tampak bersih. Apalagi kulitnya kuning langsat, tidak seperti kulitku yang sawo matang. Kukira dulu dia rajin menggunakan lotion untuk pria atau sejenisnya. Apalagi, di usia kami yang menjelang empat puluh, wajahnya tampak masih kencang, alias jauh dari keriput. Ternyata itu rahasianya.
“Karena tidak beresiko terkena berbagai penyakit degeneratif, maka lebih panjang umur.”
Aku tertegun. Panjang umur ? Sepertinya nasehat itu lebih cocok untuk Pak Herman yang kondisinya sedang kritis sejak kemarin. Usia beliau sudah lima puluh lima. Tahun depan sudah pensiun. Tapi, bisa jadi dia akan pensiun lebih dulu kalau serangan jantungnya kemarin berhasil mengalahkannya.
“Umur tidak ditentukan oleh makanan, Jaka. Tapi oleh takdir. Kalau sudah saatnya mati, ya pasti mati. Tidak bisa ditangguhkan. “
Jaka tersenyum.
“Siapa bilang aku tidak percaya takdir. Tapi takdir bisa berubah tergantung usaha dan doa kita, kan Rus ?”
Aku mengangkat bahu. Lalu pandanganku jatuh di atas kotak bekal makanan Jaka. Kali ini irisan wortel mentah, mentimun dan tahu yang dibuat mirip paha ayam.
“Cobalah wortelnya. Manis. “
Jaka mengulurkan kotak bekalnya. Aku hendak mencomot paha ayam palsu itu, penasaran dengan rasanya. Tapi kasihan Jaka, nanti dia makan tanpa lauk. Di kantin tidak akan ada lauk seperti ini. Akhirnya aku mencomot seiris wortel. Perlahan, kumasukkan dalam mulutku. Mengunyah … mengunyah … mengunyah … dan m-e-n-e-l-a-n.
“Bagaimana ?” tanya Jaka yang mengamatiku sejak tadi.
Perutku tiba-tiba mual, karena tadi sempat membayangkan telingaku menjadi lebar dan panjang seperti kelinci.
“E-n-a-k …” jawabku terbata.
Sebotol minuman bersoda seketika menjadi penawar rasa wortel yang getir bagiku. Jaka tertawa kecil. Aku merutuk dalam hati, bersumpah tidak akan menuruti anjuran Jaka lagi. Selera makanku menjadi hilang, karena perut sudah kenyang oleh sebotol minuman bersoda.
“Kalau kamu membiasakannya, kamu bisa panjang umur, Rus. Coba juga kecambah mentah. Itu lebih bagus lagi. “
“Bisa panjang umur ?”
“Tentu saja. “ jawab Jaka optimis.
OoO
Lembur membuat mengantuk di pagi hari. Tapi membuat para istri senang saat menerima gaji. Tak apalah, toh aku tidak perlu lembur setiap hari. Hanya seminggu menjelang akhir bulan ini. Jaka mengeluh.
“Sebenarnya kita tidak perlu lembur di akhir bulan. Kalau saja Pak Herman tidak menumpuk tugas-tugas kita dan baru membaginya kemarin … “
“Dia hanya membantu kita. Menambah penghasilan. Hehehe … jalani saja, Jaka. Apalagi Pak Herman sakit sebulan ini. Makanya sekretarisnya tidak tahu kalau masih banyak tugas yang belum diserahkan pada kita. “
“Iya sih … tapi sepertinya, bulan ini kita lebih sering lembur gara-gara kita dia sakit. “
Aku mengangguk-angguk. Sebenarnya berusaha mengusir kantuk. Sudah hampir jam dua belas malam. Memang sudah waktunya berlayar di pulau kapuk bersama istri tersayang.
“Jaka … aku tidak kuat lagi nih. Aku harus pulang !”
Mataku sudah sangat berat, seperti digantungi berkas-berkas tebal di hadapanku. Di ruangan kami, ada lima orang yang terpaksa kerja lembur. Aku menoleh ke arah Jaka. Pantas dia tidak merespon. Dia sudah tertidur di hadapan komputernya.
“Jaka … aku mau pulang dulu !”
“Hmm …  “ sahutnya samar. Rupanya dia masih mendengarku.
Sebelum pulang, aku mampir dulu di sebuah depot dekat kantor yang masih buka. Memesan kopi jahe, berharap bisa membuatku terjaga sampai rumah. Berkendara sepeda motor dalam kondisi mengantuk bukanlah hal yang kusukai. Berjalan lambat tambah mengantuk, berjalan cepat malah khawatir. Kuharap jahe yang dimemarkan yang berada dalam gelas kopiku dapat membantuku melek sepanjang jalan. Aku mengunyah jahe itu. Seketika mataku melotot. Pedas. Sempat teringat wortel mentah Jaka, tapi segera kuusir jauh-jauh ingatan itu.
OoO
Aku berharap suasana kantor di pagi hari tampak segar, walau aku tidak bisa menjamin hal itu terjadi. Karena di ruanganku, semalam lembur semua. Aku tidak tahu mereka lembur sampai jam berapa, karena aku pulang  lebih dulu.
Ruangan sepi. Kemana semua orang. Hanya ada sekretaris Pak Herman, wajahnya kusut. Sepertinya dia habis menangis.
“Ada apa Bu ?” tanyaku penasaran.
Dia menyusut air matanya. Aku curiga, jangan-jangan perkiraan kami benar-benar terbukti. Pak Herman benar-benar meninggal ?
“Semalam … ada yang kecelakaan, Pak Rus. “
“Apa ? Siapa ?”
“Pak Jaka. “
Aku segera melompat mendekati wanita itu. Dia semakin terisak.
“Lalu di mana di sekarang ? Bagaimana kondisinya ?”
“Barusan polisi yang menelpon. Dia sudah …. meninggal. “
Innalillahi ….
Aku langsung terduduk lemas. Pasti dia sangat mengantuk saat naik menyetir sepeda motor. Bukankah Jaka yakin dia akan berumur panjang dengan pola makannya ? Lalu mengapa dia mati begitu cepat ?  Aku tidak dapat menemukan jawabannya dengan cepat, karena berbagai lintasan ingatan tentang semua sayur mayur mentah yang telah dilahap Jaka begitu bersemangat.
OoO


Sabtu, 08 September 2012

RAYAP


( Cerpen ini pernah dimuat di Colosseum Radar Bromo )

Jeritan istriku yang sedang berada di dapur terdengar sampai ke ruang tamu. Koran yang sejak satu jam yang lalu menemani acara minum kopiku langsung kulempar begitu saja. Dan laksana terbang, aku bergegas berlari ke dapur. Pasti, istriku mengalami kejadian yang luar biasa, karena pekik ngerinya masih berlanjut.
“Dik ! Ada apa ?” seruku ikut histeris.
Istriku memeluk dirinya sendiri. Posisi yang biasa dia lakukan bila dia merasa ngeri. Mimik wajahnya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dia menunjuk ke arah lemari yang berada di bagian bawah tempat kompor gas. Pintu lemari itu terlepas dari engselnya dan ambruk ke lantai. Serpihan kayu dan tanah berhamburan ke mana mana.
“Kenapa lemarinya ?” tanyaku bergegas sambil mengguncang badannya. Tubuh istriku gemetar dan bisa kurasakan bulu-bulu di tangannya merinding.
“Lihat sendiri !”
Dan wanita yang sangat kucintai itu pun berlari meninggalkan dapur.
Dengan langkah jantan, itikad untuk selalu melindungi belahan jiwa, aku mendekat ke arah lemari. Bisa jadi, ada sesuatu yang mengerikan yang tadi muncul dari dalam lemari, yang membuat pintu lemari ini sampai terlepas dan sekaligus membuat istriku sangat ketakutan.
Dan umpatan pun akhirnya terlontar dari dalam mulutku. Seluruh bagian dalam lemari itu telah penuh dengan tanah yang didempulkan oleh pelakunya. Sementara mahkluk-makhluk putih berkeliaran dari sela-sela pintu lemari yang ambruk. Aku menekan sebagian kusen pintu itu. Dan kurasakan dalamnya bukan lagi kayu. Tapi tanah. Rayap telah bersarang di lemari kayu ini dan sudah memakan habis semua kayunya. Entah sudah berapa lama.
OoO
“Bagaimana mungkin kamu sampai tidak tahu kalau ada rayap di situ, Dik ? Kalau dia baru sedikit saja membuat sarang, kan lemari itu masih bisa diselamatkan ?”
“Mas ini bagaimana sih ? Mas kan tahu aku paling takut sama binatang-binatang menjijikkan seperti itu. Mana mungkin aku berani menyentuhnya. “
Aku mendengus, “Kan ada aku, Dik ! Aku suamimu. Tidak akan kubiarkan apapun membuatmu ketakutan seperti tadi pagi. ”
“Mas …. Sebenarnya, tiap hari aku selalu membuka lemari itu, karena sebagian perabotan dapur aku simpan di situ. Tapi bukankah, selama tiga minggu ini kita tinggal di rumah Bapak karena ibu masuk rumah sakit ? Dan Mas yang tiap hari pulang ke sini. Kenapa Mas tidak menengok ke dalam lemari itu ?”
Aku mendengus lagi. Mana tahu aku kalau rayap itu bakal menghabiskan lemari itu ?
“Tugas Mas lo …. “
“Apa ?”
“Mengusir rayap-rayap itu. Atau lemari di dapur habis semua. “
Aku hanya mengangguk. Tenang saja, aku adalah pemimpin di keluarga ini. Jadi, aku yang akan menyelesaikan semua masalah di rumah ini. Termasuk masalah mahkluk kecil bernama rayap itu.
OoO
Perburuan di mulai keesokan harinya. Saat istriku kembali menjerit, karena pintu kusen kamar mandipun ternyata sudah habis dimakan rayap. Tanpa sengaja, saat keluar dari kamar mandi, sikut istriku terantuk kusen, dan rontokan tanah keluar dari dalam kusen yang ternyata sudah kosong isinya.
Senjataku hanya golok dan semprotan obat nyamuk yang berisi minyak tanah. Istriku kuungsikan ke rumah mertua. Aku sendiri yang akan menghadapi rayap-rayap itu sampai rayap terakhir, bahkan mungkin raja rayapnya berhasil kumusnahkan.
Rumah ini adalah rumah peninggalan almarhum orang tuaku. Sebagai anak tunggal, hanya aku satu-satunya yang mengenal seluk beluk rumah ini, karena memang sejak aku dilahirkan dan dibesarkan di rumah ini.
Dari dulu aku memang tidak pernah peduli dengan urusan rumah. Mungkin saja, sebelumnya, saat bapak dan ibuku masih ada, mereka sering bertempur dengan rayap, tanpa kuketahui kapan. Sekarang, generasi telah berganti. Aku yang bertempur melawan rayap.
Semua kusen di seluruh rumah kuperiksa. Tanda-tanda rayap yang lihai menyembunyikan aksinya, kuamati dengan cermat. Beberapa kusen pintu rumahku ternyata sebagian sudah menjadi korban. Entah karena usia rumah ini sudah lama, atau aku yang kurang peduli mengurus rumah. Bahkan bagian belakang lemari baju istrikupun sudah separuh yang dilahap binatang kecil itu. Untung saja, istriku tercinta tidak ada di tempat. Kalau iya, dia pasti histeris dan pingsan. Bahwa ternyata selama ini, dia begitu dekat dengan rayap-rayap itu. Mereka berjalan beramai-ramai di dalam kayu, memakan habis dalamnya, bahkan mungkin sambil terbahak-bahak karena di empunya telah berhasil dikelabuinya.
Satu liter minyak tanah sudah kuhabiskan untuk menyemprot semua kayu bekas sarang rayap. Seperti halnya mereka yang tidak peduli dan tidak pilih-pilih, kayu mana yang akan mereka makan dan mereka jadikan sarang, aku pun tidak peduli dengan mereka yang menggeliat-geliat, berlarian ke sana ke mari, menghindari pertempuranku.
“Kau pasti bangga pada Mas, Dik ! Aku sudah berhasil membantai semua rayap di rumah kita ! Tidak ada lagi rayap !” gumamku bersemangat.
Semua rayap yang sudah mati itupun kukumpulkan jadi satu. Beberapa saat, aku sempat menikmati mereka yang masih menggeliat. Lalu bersama bekas sarang mereka, serpihan kayu dan tanah liat yang sudah kering, aku buang ke tempat pembuangan sampah. Tempat yang layak bagi mereka.
OoO
Pertempuranku dengan rayap yang menuai sukses besar, terdengar seantero kampung. Ini pasti karena saking bangganya istriku pada suaminya. Jadi dia bercerita ke para tetangga saat berbenja tentang kepiawaianku memberantas rayap. Rumah kami sudah bebas rayap.
“Mas … istri Pak Kodir tadi minta tolong supaya Mas memberantas rayap di rumahnya. Kasihan Mas. Pak Kodir kan masih lumpuh karena stroke, jadi siapa lagi yang bisa. Anak-anak mereka tidak ada kota ini. Mau kan Mas ?”
“Mereka kan bisa pakai kuli, dik. Masa aku ?“
“Mereka minta tolong, Mas. Mereka maunya Mas Nukin, yang sudah mereka percaya. Kalau membayar kuli, mereka khawatir dibohongi. Mau ya Mas .. “
Rayuan istriku kurenungkan beberapa saat, dan aku pun mengangguk dengan mantap. Senangnya bisa membantu tetangga. Apalagi urusan rayap yang sepele.
Istrikupun ikut senang. Dia ikut membantuku memberantas rayap di rumah Pak Kodir. Bahkan, dia sudah berani menyapu rontokan tanah bekas rayap. Tapi bila ada rayap yang panik dan keluar dari rontokan tanah itu, dia pun dengan panik langsung memukul-mukulkan sapunya berkali-kali pada sang rayap. Ternyata, dia lebih sadis dari aku. He.. he ..
Sukses di rumah Pak Kodir, membuat reputasiku pun semakin melambung. Aku dan istriku sering dimintai tolong oleh orang-orang untuk membasmi rayap di rumah mereka. Kalau mereka menggunakan jasa kuli, pasti keluar ongkos. Tapi, bila mereka meminta tolong aku dan istriku, yang sekarang jadi tim pembasmi rayap yang kompak, tak akan mau aku menerima sepeserpun dari mereka. Membantu sudah merupakan kesenangan bagiku. Dan tentu saja, aku semakin piawai dan ahli dalam bidang pembasmian rayap. Semakin waspada dan jeli mengamati berbagai kayu dan kusen tetangga yang seolah tidak dimakan rayap, tapi sebenarnya menjadi sarang rayap. Bahkan aku mulai menyarankan mereka untuk memakai berbagai jenis obat pencegah rayap. Dan istriku mulai mencoba berjualan beberapa jenis obat pembasmi rayap.
OoO
Malam itu, aku merebahkan tubuhku di samping istriku. Ini hari yang melelahkan. Seharian tadi, kami berdua membasmi rayap di rumah tetangga sebelah. Kerusakannya sangat parah. Dia telah kehilangan seluruh kusen pintu rumahnya, tanpa disadarinya. Maklum, dia hanya seorang nenek tua yang tinggal seorang diri.
“Mas … sepertinya bisnis obat pembasmi rayap cukup menguntungkan ya Mas ?”
“Yah .. syukurlah. Selain membantu tetangga, kan juga membantu ekonomi kita. Lumayan, buat persiapan kalau kita punya anak nanti. “
“Tapi  …. Kusen-kusen kita jadi bolong-bolong. Kapan kita ganti Mas ?”
“Sabar dulu, dik. Kita kumpulkan dulu uangnya. Soal mengganti kusen, aku bukan ahlinya. Aku hanya ahli mencari sarang rayap. “
Istriku tertawa geli dan mencubit lenganku mesra.
“Mas Nukin… tetangga bilang, katanya Mas baik sekali mau membantu mereka membasmi rayap. Berarti mereka sayang kita ya Mas ?”
Aku berusaha sedikti tersenyum. Mataku sudah berat.
“Tapi … aku merasa, masih ribuan lagi yang membenci kita Mas ?”
Aku mengeryitkan kening. Apa maksud istriku ?
“Aku yakin, masih banyak ribuan rayap yang belum Mas basmi. Dan kadang aku merasa was-was, mereka akan membalas dendam pada kita…. “
Aku terkekeh di sela kantukku. Mana mungkin, makhluk kecil yang buta itu punya rasa benci pada kami, apalagi membalas dendam. Wajahku saja dia tidak bisa melihatnya. Lagipula, salah mereka sendiri memakan kayu di rumah orang.
Oahmmm …. Sepertinya aku akan tidur lama. Aku butuh istirahat karena sangat ngantuk dan capek.
OoO
Jam tiga dini hari, Pak RT dan beberapa warga bergegas menuju rumah Nukin, salah seorang warganya yang beberapa minggu terakhir menjadi populer di kampungnya sebagai pembasmi rayap.
Hatinya menjadi pilu saat melihat rumah Nukin. Tidak ada bencana alam, gempa apalagi tsunami. Tapi rumah Nukin hancur. Seluruh atapnya ambruk, dan sebagian temboknya runtuh tertimpa atap. Beberapa warga berusaha menyingkirkan pecahan genteng dan serpihan kayu yang habis dimakan rayap. Tidak ada suara Nukin dan istrinya dari dalam reruntuhan rumah, membuat mereka panik.
Ternyata, Nukin tidak sehebat seperti perkiraan orang. Ada yang luput dari perhatiannya. Kuda-kuda rumahnya, habis dimakan rayap. Dan malam itu, rayap-rayap membalaskan dendamnya pada Nukin dan istrinya.
OoO



Jumat, 31 Agustus 2012

MALING


( Cerpen ini adalah cerpen pertamaku yang dimuat di Colosseum Radar Bromo - sekarang  Ruang Publik Radar Bromo . Dimuatnya cerpen ini melecutkan semangatku untuk menulis lagi setelah mati suri menulis selama 5 tahun )

Setidaknya aku bukan maling ayam seperti seorang lelaki ceking yang meringkuk di pojok sel. Asyik menekan-nekan memar di kedua kakinya. Juga di sepanjang kedua lengannya. Wajah serta lehernya. Yang aku yakin, semuanya bekas tendangan kaki warga yang menangkapnya. Bengkak dan merahnya, membuat aku meringis.
Setidaknya aku juga bukan maling keperawanan gadis tetangga, seperti lelaki bertato yang tidur mendengkur sejak tadi. Sepertinya, dia puas sekali dengan tindak kejahatan yang dilakukannya dua hari yang lalu. Dan tampak jelas,  dia juga  masuk ke dalam sel ini dengan kenikamatan, alias hampir tidak ada luka di tubuhnya.
Dan, aku juga bukan maling uang rakyat, seperti seoarang anggota dewan yang duduk dia lantai menyandar di tembok sel yang dingin, dengan baju masih rapi dan necis. Tampak sekali dia tidak nyaman dengan ruangan pengap, kotor, dan bau keringat berkolaborasi dengan daki dari masing –masing penghuninya.
Tapi, dengan berada dalam sel ini, bukan berarti aku bukan maling. Aku juga maling, tapi tidak seperti mereka bertiga.
“Kamu cuma pinjam uang ?” tanya si maling ayam, penghuni pertama sel, sebelum aku dan si lelaki bertato.
Aku mengangguk ringan. Si Maling ayam  memandangiku dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Ya … dan aku berniat  mengembalikannya ….. kapan-kapan …”
Si maling ayam tertawa kering. Aku yakin, dia pun pasti sama denganku. Hanya meminjam ayam untuk sementara, dan kalau sudah punya ayam, pasti akan dikembalikannya.
Bukankah, pada dasarnya, manusia tidak akan menjadi maling kalau dia tidak sedang membutuhkan ?
Si lelaki bertato masuk keeesokan harinya sambil memelintir cambangnya yang tidak lebat. Dia tersenyum, puas tapi getir.
“Kau juga berniat mengembalikan apa yang kau curi ?” tanya si maling ayam polos.
“He… he …. Tentu saja tidak. Tidak akan ada gantinya, kecuali aku dikawinkan sama dia … he … he … “
Dia kembali terkekeh, puas tapi getir. Aku memandangnya jijik. Aku sendiri, walau cintaku ditolak oleh Sutin, aku tidak pernah terpikir untuk menghamililnya. Aku masih punya rasa hormat pada wanita tentang satu hal itu.
Aku cuma meminjam uang dari koperasi tempatku bekerja. Aku cuma ingin menyenangkan hati Lik Mi, janda tua yang membesarkanku. Dia selalu merengek-rengek bila melihatku menghitung  uang kreditan dari nasabah yang belum kusetor ke koperasi. Dia selalu mengungkit-ungkit masa kecilku yang ditinggal begitu saja oleh emak dan bapakku. Kurus, kering, korengan, tidak terurus. Kalau saja tidak ada dia, aku pasti sudah membusuk di tempat sampah. Dia selalu menghitung-hitung biaya yang dia keluarkan untuk menyekelohkanku, dan belum ada yang kukembalikan padanya.
Dan wajah keriputnya begitu bercahaya saat uang setoran satu minggu itu ada di tangannya. Dia menatapku takjub seolah melihat malaikat yang turun dari langit. Dan omelannya pun tidak terdengar lagi sampai beberapa hari,  bahkan sampai hari ini, karena tentu saja aku sudah meringkuk dalam sel.
“Cuma lima juta ?” cibir si necis, sang maling uang rakyat.
Aku mengangguk. Si necis tergelak. Aku hanya diam. Aku yakin, yang dia maling pasti ratusan kali lipatku. Dan dia bisa tertawa begitu enaknya. Tapi di ruang pesakitan ini, bukan saatnya lagi aku membicarakan hal itu dengan berapi-api seperti biasanya dengan sesama teman, sambil minum kopi hangat di warung.
“Lek Mi pasti akan datang ….. menebusku ….” gumamku pelan, “aku tahu, dia sangat sayang padaku, dan tidak bisa hidup sendirian.”
***
Si necis keluar dalam tiga hari, entah kenapa. Mungkin dia bebas atau pindah sel ke polres. Si lelaki bertato menyusul siang harinya. Katanya, dia jadi dikawinkan sama gadis yang telah dia maling keperawanannya. Tinggal si maling ayam. Siapa yang mau menebus dia ? Ternyata, emaknya menebus dia sehari kemudian. Aku yakin, di rumahnya emaknya menggelar syukuran sembari menyembelih ayam.
Seorang lelaki datang tergesa siang itu, menghampiri selku. Pak RT.
“Jok….. lek Mi  mati …. “ bisiknya dari balik jeruji sel, “semalam dia dirampok.”
Aku menatap ke luar sel. Wajah bercahaya Lek Mi tiba-tiba memudar dalam pandanganku. Kulihat ada seorang lelaki dipapah dua polisi menuju ke arah selku. Sepertinya, timah panas telah menembus betisnya.
Pak RT kembali berbisik, “Dia rampoknya ….”
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...