Tampilkan postingan dengan label Lomba Blog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba Blog. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 September 2012

Aku dan PLN : Lebih Menyenangkan Bila Tak Pernah Padam

Kalau sudah berbincang tentang listrik, ingatanku langsung melayang pada 3 momen.

Pertama adalah ketika aku bekerja di sebuah PLTD milik sebuah perusahaan swasta bernama di Tulang Bawang - Lampung. Di perusahaan terpadu tambak udang ini, aku bekerja di Laboratorium QA & EC Power House. Tempat bertenggernya 22 mesin diesel Wartsila yang masing-masing berkapasitas 3 MW. Aku bahkan masih ingat, headset yang kugunakan tiap hari tidak begitu mengurangi bisingnya mesin raksasa itu. Dan air mineral di dalam botol yang senantiasa beriak ketika diletakkan di meja kantor, akibat getaran mesin diesel yang beroperasi. Juga aura hangat ketika melintas di barisan trafo di belakang gedung. Dan pemandangan yang akrab adalah, para operator mesin yang sedang overhoul alias membongkar mesin. Tangan dan wajah mereka yang belepotan oli dan baju yang basah karena keringat. Yang jelas, situasi yang selalu terekam dalam ingatanku adalah gerah dan bising.

Kedua, masih di perusahaan yang sama. Salah seorang temanku bekerja di bagian jaringan. Saat memperbaiki jaringan, terjadi miskomunikasi dengan Power House. Walhasil, tubuh bos dari temanku yang masih nangkring di tiang listrik, sempat bercahaya ketika arus listrik mendadak mengalir. Tubuh itu langsung melorot turun dan pingsan. Ingatan yang masih jelas di kepalaku adalah, profesi mereka adalah profesi yang bertaruh dengan nyawa. Dan kesalahan komunikasi adalah hal yang dimaklumi terjadi sebagai human error, mengingat operator di Power House adalah manusia, bukan malaikat.

Gambar diambil dari sini

Ketiga, adalah sebuah pemandangan indah di kala malam, kurang dari 100 km sebelah timur kotaku. The Java Power, sebuah pembangkit listrik tenaga uap, PLTU Paiton. Setiap traveller yang melewati jalur pantura dari Probolinggo menuju Situbondo pasti melewati PLTU ini. Dan selalu, decak kagum yang terlontar melihat kemegahannya, terutama di malam hari. Jujur, walau gak kerja di sana dan juga bukan pemiliknya, aku sangat bangga dengan PLTU yang gemerlapnya melebihi pasar malam ini.. 

Ternyata, kusadari, aku tidak hanya bergantung pada listrik dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memasak, pompa, menyeterika, penerangan, kipas angin, komputer, charge ponsel dan lain-lain. Tapi, aku juga dekat dengan sumber listrik bahkan pernah bergelut di sana. Jadi, aku sangat memahami ketika tiba-tiba listrik padam, tanpa pemberitahuan dari PLN. Pasti ada troubleshooting yang terjadi di lapangan. Dan aku tahu, itu bukan hal yang mudah dan dapat ditangani dalam waktu singkat. Orang-orang yang bekerja di lapangan, aku sungguh percaya, mereka tak ingin ada trouble, sehingga mereka harus turun ke lapangan dan mengecek trafo atau tiang listrik, dan menuntaskan masalah sesegera mungkin. Sementara para pelanggan tak mau aliran listrik terputus selama berjam-jam.

Tapi, walau aku sudah pernah nyemplung di dunia perlistrikan (walau cuma mengamati dari dekat ...hehehe), tetap saja aku merasa tidak nyaman bila listrik padam tanpa pemberitahuan. Jadinya berasa kembali ke era 30 tahun yang lalu, ketika listrik belum masuk ke desaku. Memasak nasi ala tradisonal yang tidak bisa disambi dengan pekerjaan lain, karena nasinya bisa gosong kalau gak diaduk. Seterika yang harus ditunda hingga listrik menyala. Dan malam hari, penerangan harus menggunakan lilin, yang tentu saja tidak memadai untuk anak-anakku belajar. Dan yang lebih gawat lagi adalah, aku gak bisa menghidupkan komputer. Jadi kalau listrik padam seharian, alamat aku hanya mondar mandir di dalam rumah, gak ada kerjaan.

Saking seringnya listrik padam, jadinya aku sampai hafal jam-jam listrik mati dan kapan hidup lagi. Jika jam 8  sampai 10 pagi sudah padam, alamat hidup lagi paling cepet jam 3 sore dan paling lama menjelang maghrib. Katanya, kalau padam model seperti ini, ada maintenance. Kalau padam tengah malam mendadak, hidup sekelebat dan padam lagi, alamat jadi candle light sleep deh. Katanya, kalau seperti itu pertanda ada trafo yang rusak dan gak bisa nyala lagi. 
Apakah benar begitu, PLN ?

Seperti yang kuceritakan di atas, aku memahami setiap pemadaman yang terjadi. Mungkin karena aku hanya ibu rumah tangga, jadi yaaahhh ... aku tidak mendapat pemberitahuan resmi dari PLN tentang pemadaman. Kalau aku bekerja di kantor atau sebuah perusahaan, pasti ada pemberitahuan dari PLN tentang pemadaman bergilir. Yang jadi pertanyaanku adalah, bila ada kerusakan di jaringan, dan listrik terpaksa padam cukup lama, apa ya yang dilakukan oleh karyawan kantor yang pekerjaannya sangat tergantung pada ketersediaan listrik ? 

Dan aku juga memahami, kalau tarif dasar listrik alias TDL, tidak ubahnya seperti BBM. Naik terus gak pernah turun :D. Mungkin bila semua orang sebelumnya pernah bekerja di PLTD seperti aku, pasti gak bakal protes dengan kenaikan TDL. Lha melihat para karyawannya seperti itu kerjanya, siapa yang tega mereka hanya dibayar seuprit, padahal sudah berjasa membuat malam kita tidak candle ligt terus.

Tapi, sebagai konsumen, dan bertepatan juga dengan HUT PLN yang ke-67, boleh dong aku berharap, di depan lilin yang menyala, agar kinerja PLN ke depan lebih bagus lagi. Katanya sekarang sedang menggalakkan anti korupsi, ayo dong dukung konsumennya juga anti korupsi. Jangan biarkan konsumen berlama-lama membuang jam kerja hanya karena listrik padam. Korupsi waktu dong namanya. 

Sebagai masyarakat awam, aku hanya bisa  make a wish buat PLN.

Pertama, tambah dong tenaga 'super ahli' yang bisa menangani troubleshooting di lapangan dalam hitungan detik saja ( maunya begitu ... hehehe ), hingga listrik tidak perlu padam berjam-jam. Tapi akan lebih menyenangkan lagi bila tak pernah padam.

Kedua, para masyarakat non kantoran seperti saya, juga ingin mendapat pemberitahuan bila ada pemadaman berkala. Di daerah perkampungan, terkadang pemberitahuan via mesjid atau muholla lebih efektif dan efisian menjangkau semua lapisan masyarakat. Jadi, kita sudah mempersiapkan segala kebutuhan yang membutuhkan listrik lebih awal dan siap memanfaatkan waktu tanpa listrik dengan pekerjaan lain yang lebih bermanfaat.

Ketiga dan terakhir, doaku buat PLN, semoga tercapai tekadnya untuk menjadi instansi yang bersih dari segala bentuk korupsi dan semoga PLN semakin profesional dalam melayani masyarakat, setia masyarakat dan terangi Nusantara. Aamiin.



Sabtu, 15 September 2012

Gift From Mr.Kim, Aida MA

Mr. Kim Tae Won

Belum pernah megang bukunya, apalagi baca isinya. Cuma lihat covernya doang. Terus aku bisa cerita apa ya tentang Mr. Kim Tae Won ? Ada-ada saja nih mbak Aida MA. bikin acara. Hihihi ...

Hmmm ... lihat siluetnya dulu dah.

Mr. Kim adalah seorang pekerja keras. Di Korea, dia mempunyai sebuah usaha Bakery yang lumayan besar. Dari sinilah dia menghidupi dua orang istri ( weekk ... duuuuuaaaa, kayak iklan mie instan ajah........kekeke ) dan kelima orang anak lelakinya.

Mr. Kim memang seorang lelaki yang mempesona. Kalau versi barat, mirip-mirip Harrison Ford-lah. Rambutnya agak ikal dan matanya tidak begitu sipit. Hidungnya lumayan mancung dan dia punya senyum terindah se-Seoul. Senyum itu yang berhasil menaklukkan hati kedua wanita yang kini menjadi istrinya dan tentu saja para pelanggan Bakery-nya selalu bertambah karenanya. Hingga para pelanggan menjuluki Bakery Mr. Kim sebagai Toko Senyum, saking terkenalnya senyum Mr. Kim ( jadi penasaran sendiri nih .... )

Walaupun sudah berumur, Mr. Kim masih kelihatan muda, karena dia rajin berolahraga dan suka makan sayur ( hayooo ... yang sudah merasa tua contoh nih Mr. Kim ) Dia seorang lelaki berbadan atletis tapi berjiwa lembut. Kelembutan hatinya bersenyawa dengan roti-rotinya yang terkenal empuk dan lembut di mulut. Namun sayang, kelima anak dari kedua istrinya, ternyata menjadi anak-anak yang buruk akhlaknya dan keras perangainya. Hingga Mr. Kim tak hendak mewariskan usaha Bakery-nya pada satupun anaknya. Kecuali bila istrinya melahirkan satu orang anak perempuan, yang dia yakini pastilah lemah lembut perangainya. Kedua istrinya menolak karena mereka sudah berumur. Maka  Mr. Kim berniat mencari istri lagi yang bisa melahirkan anak perempuan.

Hingga suatu ketika, datanglah Wika ke tokonya. Gadis belia itu tampak kelaparan karena baru saja kecopetan hingga tak ada uang untuk membeli makanan. Sementara dia tidak mengenal satu pun orang di Korea, karena dia baru seminggu tiba dari Indonesia. Wika sedang mencari bapak kandungnya yang tinggal di Seoul.
Terbetik di benak Mr. Kim yang berjiwa lembut itu, untuk menolong Wika dan menjadikannya istri. 

Nah lho ? (Maaaaaap Mbak Aidaaa, kebablas nih imajinasinya ....kekeke ).

Lalu bagaimana kisah ini selanjutnya ? Biar lebih jelas, ayo dukung saya supaya bisa ngedapetin buku ini, jadi ceritanya gak ngelantur. Chayooo !



Rabu, 12 September 2012

Reviving Moment - Gadis Istimewa dari Rahimku

Judul di atas, bukan untuk menonjolkan tentang kehebatan putriku atau menghibur diriku. Tapi judul yang kuambil dalam rangka Giveaway di blog Monilando ini, adalah bentuk kekagumanku pada Pencipta putriku.
Mau tahu bagaimana putriku hingga aku menyebutnya gadis yang istimewa ?

Putriku yang genap 12 tahun di 25 Juni 2012
Ini foto putriku, cantik bukan ? Semua ibu pasti akan mengatakan putrinya cantik :D. Namanya Fathin Nisa Elfathiyya. Putriku ini menderita autisme. Dia adalah putri kedua dari keempat putra-putriku.

Autisme yang dia derita aku ketahui ketika dia berumur dua tahun. Saat itu, seorang teman menyarankan untuk membawa ke seorang psikiater anak. Terapi yang diberikan adalah terapi obat. Selama dua tahun, putriku mengkonsumsi obat. Dan obat-obat itu harganya tidak murah. Tabunganku terkuras habis, bahkan sebidang tanah yang pernah aku rencanakan untuk dibangun rumah di atasnya pun terjual demi pengobatan putriku.

Bagi anak seusia dia, minum obat adalah siksaan terberat. Bagi anak autis, minum obat adalah siksaan berat bagi ibunya. Dia adalah seorang anak kecil dengan tenaga luar biasa. Untuk meminumkan obat padanya, tidak bisa dengan bujuk rayu atau iming-iming hadiah. Aku harus mendekap tubuhnya, mengunci kakinya, dan mendongakkan kepalanya. Orang lain ( ibu atau suamiku ) yang memasukkan obat ke dalam mulutnya. Itu pun dengan rangkaian teriakan dan tangisan. Setelah minum obat, dia akan terus menangis. Bahkan jika tantrum, bisa mencapai satu jam. Terus menerus menangis histeris dan membanting-banting tubuhnya. Hingga aku harus melepaskannya di ranjang agar dia tidak melukai dirinya sendiri.

Banyak teman mengatakan, walau memiliki anak tidak normal, wajahku tidak menunjukkan kalau aku stress. Maksudnya, aku tetap saja tersenyum-senyum dan bercanda lepas bila berkumpul dengan teman-temanku. Siapa bilang aku tidak stress ? Lebih tepatnya, aku tertekan. Jadi bila ada lengkung di bibirku, bukan berarti aku sedang gembira. Aku hanya mencoba berdamai dengan takdir. Dan itu tidak mudah.

Setiap kali mengajak putriku bertamu, baik itu ke rumah teman atau kerabat, tuan rumah selalu dengan reflek mengunci kamar-kamar mereka dan mengganjal lemari es mereka dengan kursi. Tentu saja, karena putriku akan langsung mengeksplorasi suasana baru di mana pun dia berada. Jujur, hatiku benar-benar tertohok. Apalagi kadang spontan mereka berkata, "Ada Fathin ... ada Fathin !". Seolah kalimat itu adalah warning untuk menyelamatkan semua barang. Dan mereka semua tak pernah tahu, bahwa air mata membanjiri batinku, bukan sepasang mataku.

Sedih luar biasa. Tidak ada orang yang mengharapkan kehadiran anakku !

Dari beberapa literatur yang aku baca, kebanyakan isinya menghibur para orang tua dengan anak autisme. Bahwa mereka adalah anugerah istimewa. Istimewa apanya ? Dia tak diharapkan di mana pun ! Dan berkali-kali aku berusaha berprasangka baik pada orang-orang di sekelilingku, tapi selalu kembali pada kenyataaan. Here I am. Sampai kapan pun, aku dan anak autisku, tak akan bisa kemana-mana. Di rumah saja, jauh lebih baik. Bagi aku, anakku dan orang-orang di sekitarku.

Tapi, pemikiran itu perlahan berubah. Seiring bertambahnya usianya, aku ingin dia bersekolah. Aku menyadari, aku dan suami akan semakin menua dan dia akan menjadi dewasa. Dia harus bersekolah dan mengenal dunia tempat dia hidup sekarang, bukan dunianya sendiri. Walau aku tidak tahu, bagaimana kelak dia menghadapi masa remaja dan dewasanya ? Apakah dia bisa mandiri dalam segala hal ? Adakah yang mau menikah dengannya ?

Tapi saat dia kumasukkan ke sebuah TK, tak ada anak yang mau bermain dengannya. Karena perilakunya tidak dipahami oleh teman-temannya. Tidak bisa diajak berkomunikasi. Gurunya pun merasa, berhadapan dengan anakku begitu menyulitkan. Dan, telingaku pun harus memerah tiap hari karena mendengar keluhan wali murid lainnya, yang iri kenapa Fathin boleh berkeliling kelas sementara anak mereka tidak boleh. Kenapa Fathin boleh tidak mengerjakan, sedangkan anak mereka tidak boleh. Tapi aku mencoba bertahan.

Dan anakku menempuh pendidikan TK selama 4 tahun. Dua tahun terakhir, aku sendiri yang menjadi gurunya karena saat itu aku mulai bekerja menjadi Guru TK di sebuah TK yang baru didirikan. Selepas itu, aku bingung, mau disekolahkan di mana anakku ? Tubuhnya semakin besar, tapi pola pikirnya masih seperti batita. Walau komunikasi antara aku dan dia hanya satu arah, tapi aku yang paling tahu bahwa dia sangat ingin masuk SD. Memakai baju putih merah.

Fathin saat perpisahan di SDLB
Untuk masuk ke sekolah umum, jelas tidak mungkin. Tidak ada SD yang siap menerima anak seperti Fathin. Akhirnya aku masukkan dia ke SDLB. Sungguh sebuah sekolah yang tidak tepat bagi anak autis seperti Fathin. Karena sepulang dari sekolah, dia semakin aneh. Malah menirukan gerakan dan cara bicara teman-temannya yang bisu tuli.




Akhirnya, aku memindahkan dia ke SDIT, sebuah sekolahi inklusi, atas saran beberapa teman.


Dan, sejak bersekolah di sinilah, aku perlahan merasakan keistimewaan itu. Subhanallah....

Ya, dalam setiap perilakunya, aku semakin yakin bahwa Allah tidak pernah salah menciptakan makhlukNya dan tidak pernah luput memberikan hikmah dalam setiap kejadian.

Semenjak bersekolah di SDIT yang memang kental dengan pembiasaan Islaminya, aku tidak pernah mengira bahwa putriku menjadi gadis yang selalu sholat tepat waktu. Tidak hanya itu dia selalu menunggu-nunggu waktu sholat. Pertanyaan sehari-harinya di antar waktu sholat adalah, "Ibu, sudah adzan sholat ?"
Duh, aku sendiri sebagai ibunya hampir tidak pernah menanyakan adzan sudah berkumandang atau belum, apalagi mempersiapkan diri menunggu waktu sholat. Begitu adzan berkumandang, dia langsung berwudhu' dan menggelar sajadah.
Putri cantikku lebih tahu, apa destinasi akhir dari hidup ini dan apa modal utama yang bisa menyelamatkannya di akhirat kelak.

Kini, senyum yang hadir di wajahku, bukan lagi sarana untuk mencoba berdamai dengan takdir. Aku bersyukur, Allah memilihku untuk melahirkan gadis istimewa dari rahimku. Yang di setiap akhir sholat, dia bahkan bisa mendoakan dirinya sendiri supaya sembuh. Menghadapi masa balighnya nanti, aku yakin DIA yang akan memudahkan semuanya.




Dan menjadi pemenang kedua, infonya ada di sini



Minggu, 26 Agustus 2012

Pikiran Tidak Ruwet Lagi dengan Klik-IT

Sebenarnya aku tidak begitu mengerti dengan urusan per-kabel-an. Yang jelas, kalau sudah menyangkut urusan listrik dan kabel, selalu aku serahkan pada suami. Kadang juga beliau tidak sempat, jadi ya nunggu bapak mengunjungi rumahku. Beliau piawai dalam hal ini. Soalnya aku punya pengalaman mengerikan dengan benda bernama kabel dan listrik yang mengalir di dalamnya. Saat menyeterika, tahu-tahu kabel meletus dan mengeluarkan api pijar. Panik, gak tahu apa yang harus diperbuat. Jadi bisanya cuma teriak minta tolong. Apa semua wanita seperti aku ya bila terlibat urusan kabel dan listrik ?

Ada sebuah tawaran mereview sebuah produk untuk lomba blog. Sebenarnya bukan spesialisasiku, tapi terus terang saja nih, aku mupeng banget sama hadiahnya....hehehe. Dan kok ya kebetulan, lebaran kemarin aku berkunjung ke rumah kakakku. Dia seorang programmer. Dan lihat apa yang kutemukan di bawah meja kerjanya !

Satu steker dengan multitasking ... hehehe

Kakakku seorang programmer, dan dia jebolan Teknik Elektro sebuah PTN berkualitas di Surabaya. Sudah jelas, dia tahu apa bahaya kabel berseliweran di bawah meja kerjanya. Dan melihat pemandangan ini, aku jadi beranggapan, pekerjaan dengan komputer itu begitu ruwet begitu melihat kabel-kabel itu.

Pemandangan tepat di bawah meja komputer



Aku yakin, bahkan tikus pun gak berani lewat di bawah meja kerjanya. Apalagi komputer beliau ini selalu ON alias 24 jam hidup. Meskipun dia keluar rumah, komputer selalu online karena kepentingan pekerjaannya.





Belum lagi pemandangan yang ini. Beuh ... memang sih semua kabel ini tersembunyi di balik taplak penutup piano yang menjuntai hingga ke lantai. Tapi kalau terjadi arus pendek seperti yang aku alami ? 
Wassalam kan semuanya ?  Dan istri kakakku, sama dengan aku. Tidak begitu familiar dengan kabel dan listrik. Jadi kalau para lelaki beranggapan itu sudah aman, ya kami menurut saja, walau mata ini gataaaal dan hati ini kerap was-was melihat kabel-kabel berseliweran itu.

Kabel TV, kabel speaker, kabel piano bla .. bla .. bla ...

Nah, setelah melihat pemandangan di atas, jadinya aku tertarik dengan slogan sebuah produk. Klik-IT dengan produk terbarunya. Mudah pasangnya, rapih hasilnya. Produk itu adalah sebuah stop kontak dengan design  bentuk dan warna yang tampak elegan dan kokoh. Gambarnya seperti di bawah ini.



Dilengkapi dengan switch on/off “Single Throw, Double Pole” di setiap stop kontaknya, jadi kalau tidak dipakai tinggal tekan “OFF” dan listrik pun berhenti mengalir. Gak perlu cabut kabel lagi untuk menghentikan aliran listrik. Selain aman, juga sangat mudah dan praktis. Selain dapat dipasang di mana saja ( di tembok, kaca atau lantai keramik ) dan dalam posisi apa saja ( menggantung juga bisa ), memasangnya pun sangat mudah. Bisa dilakukan oleh wanita ! Wah, cocok buat saya. Tidak perlu lagi mengandalkan laki-laki, hehehe.

Tinggal Taruh, Tekan, Tancap alias 3T


Harganya masih terjangkau lo. Satu set berisi 10 meter kabel, 4 stop kontak, 18 kabel holder, releasebale cable ties dan kertas manual. Klik-IT adalah produk asli putra/i Indonesia. Wah, belum memakai saja sudah bangga kan ?

Kabelnya terbuat dari tembaga murni bersertifikasi SNI HV03VVH2-F 2x0.5 Sqmm 60227 dan sudah RoHS Free atau bebas dari bahan beracun yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan sekitar. Sanggup menahan beban sebesar 1500watt/rangkaian kabel. Terminalnya dari kuningan 99% jadi berdaya hantar sangat tinggi terhadap aliran listrik.

Cable Holdernya terbuat dari bahan transparan, jadi kalau dipasang di dalam rumah tidak akan mengganggu pemandangan, alias tetap bagus. Dan Cable Holdernya juga bisa dipakai untuk gantungan kunci atau dasi, hehehe. 

Releaseable cable ties gunanya untuk merapikan kabel Klik-iT yang tidak terpakai atau kabel dari perangkat elektronik yang terlalu panjang, dapat di lepas dan di pasang kembali. Jadi gak usah pakai gunting lagi dan dapat digunakan berkali-kali.

Kalau sudah begini, tinggal highly recommended deh buah kakakku yang programmer itu. Dan kayaknya biar aku atau istrinya aja yang masang :). Biar pikiran kami sebagai wanita tidak ruwet lagi.




Postingan ini diikutsertakan pada 









Kamis, 09 Agustus 2012

Kapok Jualan Takjil


Ramadhan pasti gak lepas dari takjil. Dan takjil bisa didapatkan dengan mudah. Mau yang gratis ? Ngabuburit saja di mesjid atau musholla. Pasti dapat. Mau takjil yang beraneka ragam ? Stand takjil bertebaran dimana-mana. Tinggal sedia kocek tebal kalau mau beli aneka takjil. Mau diantar sampai ke pangkuan tangan ? Tinggal telpon aja ke Layanan Pesan Antar, asal ada pulsa.  Mau yang sesuai selera, ya buat sendiri dong ... hehehe.

Dan, Ramadhan 2009 adalah Ramadhan pertama aku berjualan takjil. Gak ada rencana sebelumnya, karena di setiap Ramadhan, keluargaku selalu membuat takjil sendiri, gak pernah beli. Asal muasalnya adalah, TK tempat aku mengajar, tiba-tiba punya niat untuk jualan takjil. Hasil penjualan akan digunakan untuk kas TK. Walhasil, semua guru wajib menjaga stand takjil.

Dan, rencana pun dibuat dengan matang. Wali murid yang membuat kue, dan guru yang menjaga stand. Lokasi yang dipilih pun sangat strategis. Pas di depan pintu keluar karyawan/buruh Pabrik PT. Kertas Leces ( yang waktu itu masih beroperasi 100 % ). Kabarnya, stand takjil di sana selalu ludes, habis, tandas dagangannya, diserbu para karyawan.

Dan, hari H pun dimulai. Di hari pertama berjualan takjil, aku sendiri gak yakin tumpukan kue dari wali murid di dua meja stand kami bakal laku. Sebab di kanan kiri kami, juga ada penjual takjil dan mereka adalah pedagang lama, yang tidak hanya berjualan di bulan puasa saja. Mereka bahkan sudah mangkal bertahun-tahun di sana. Tapi Bismillah saja deh, toh niat kami demi kebaikan. Menambah kas TK dan akan digunakan sebagian untuk memberi bingkisan lebaran bagi penduduk sekitar TK yang kurang mampu. Jadi kami harus bersemangat ! 

Dan ..... menunggu detik demi detik karyawan keluar dari pintu gerbang. Dan bruuulllll .... seperti gerombolan semut yang ditiup, karyawan pabrik yang keluar langsung menyerbu stand-stand takjil. Tentu saja termasuk stand takjil kami yang terletak tidak jauh dari pintu gerbang. Dan satu hal yang tidak aku perkirakan sebelumnya, mayoritas karyawan itu laki-laki. Gak kebayang kan maluuuuuuuuuuunya !!!! Terutama bagi kami para guru-guru TK yang pemalu ( uhuk ...) dan bening-bening ini ( hueekk .... ). Dan herannya yang menyerbu stang kami adalah laki-laki. Duh, kok pembelinya gak ada yang ibu-ibu sih ?

Dan bertransaksi dengan laki-laki itu kurang menyenangkan ! Jujur saja, nyodorin uang saja pakai mesem-mesem, dan yang ditanya pun macam-macam. Rumahnya di mana kek, naik apa datang ke situ kek, kok rajin jualan kek .... huaaah ! Dalam hati aku menjerit, suamikuuu help me ! Besok aku harus bawa anak kayaknya.

Hari pertama benar-benar membuatku mati kutu karena malu. Dan sudah bisa ditebak, esok hari, guru yang bertugas berjualan mulai berguguran. Siapa yang tahan diserbu semacam itu ? Kami di sekolah biasa diserbu laki-laki imut bin menggemaskan yang gak keberatan sama sekali bila dicubit pipinya, hehehe .... Lah ini ?

Tapi demi kas TK dan bingkisan lebaran untuk kaum Dhuafa, lanjut !

Ternyata tidak semudah itu. Hanya yang kuat malu yang bertahan menjaga stand. Alias yang sudah punya suami seperti aku. Guru yang lain mulai mengajukan daftar alasan supaya tidak menjaga stand. Dan, yang lebih membuat kesal adalah, wali murid mulai berguguran juga menyetorkan takjilnya. Aku maklum juga, siapa sih yang gak capek membuat kue tiap hari ? Apalagi niatan awal memang bukan buat bisnis, tapi menambah kas. Jadi, biar kue laku, harga dibuat sedikit lebih murah.

Akhirnya, direschedule lagi. Guru yang tidak menjaga stand, harus buat kue. Eh malah tidak ada yang jaga. Akhirnya aku dan satu teman yang setia berjaga saja yang membuat kue dan menjaga stand. Huhuhu ....  Terpaksa deh kukeluarkan jurus andalanku, getuk. Paling murah dan mudah membuatnya. Dan, tingkat ke-laku-an alias ke-laris-an kue-kue kami mulai berkurang. Karena ya itu tadi, tidak ada variasi kue di meja kami. Hadeehh. Sepertinya, rencana ini tidak bisa diulang lagi Ramadhan tahun depan. Kapoook.

Kini tiap Ramadhan, aku selalu teringat kisah ini setiap ngabuburit dan berjalan melewati stand takjil. Mupeng juga melihat stand yang ludes takjilnya, pasti dapat duit banyak, hehehe. Yang jelas, aku kini gak jadi guru TK lagi dan kudengar TK-ku gak lagi membuka stand takjil. Memang kalau mau berjualan takjil, harus diluruskan dulu niatnya dan diikat dengan kencang. Karena puasa Ramadhan dan ibadah lain di dalamnya juga membutuhkan energi dan waktu tidak sedikit. Sayang kan kalau Ramadhan terlewat dengan amalan kosong di dalamnya. Kalau bisa berjalan seiring dengan jualan takjil, bisa dobel untung. Kalau tidak, ya seperti kisahku di atas tadi.

Kalau mau berjualan takjil, pikir-pikir dulu deh !



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...