Ikutan FF2in1 @nulisbuku
Tidak ada yang tak menarik dari sosok manis di hadapanku. Bulu matanya lentik, pipinya begitu ranum kemerahan. Terlebih lagi, lengkung di bibirnya yang tak pernah pudar. Siapa pun yang pertama kali beradu pandang dengannya, pasti langsung terkesan dengan senyumnya yang selalu ceria. Seolah dia berasal dari dunia lain yang tak pernah mengenal masalah.
"Siapa namamu ?"
Sosok manis itu tersipu, semakin membuat aku gemas.
"Happy."
Bahkan namanya adalah refleksi dirinya sendiri. Sungguh tepat bila dia bernama Happy. Dia selalu tampak bahagia.
"Kenapa kau selalu menanyakan namaku ?" tanya Happy, "bahkan setiap kali kita bertemu. Apa kau selalu amnesia setiap hari ?"
Aku menggeleng, "Tentu saja tidak. Aku hanya ingin mendengar nama itu terucap dari bibirmu saja. Itu sudah sangat indah bagiku."
Happy menunduk dalam, "Tapi, Galang, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Setelah hari-hari yang kita lalui bersama sebulan ini. Aku harus mengatakan tentang diriku yang sebenarnya padamu."
Aku menggeleng. Manusia terkadang tidak menyukai kejujuran. Karena hal itu akan membuatnya merasa begitu sakit.
"Please ..." pinta Happy dengan mata memelas.
Aku tahu, dia ingin perjalanan kami berdua ke depan tidak menghadang karang. Dia ingin, masa lalu kami masing-masing terbeber di antara kami, kemudian kami saling melepaskannya ke udara. Setelah itu, barulah kami merasa tenang dan bahagia.
"Okelah, aku setuju."
Walau sebenarnya, ada secuil masa lalu yang aku tak ingin Happy mengetahuinya. Tentang masa kecilku. Di mana aku dikenal sebagai cowok paling kuper dan selalu jadi bulan-bulanan di sekolah. masa yang sangat memalukan bagiku saat itu. Walau terekam kuat di memoryku, aku sangat ingin menghilangkannya.
"Sebenarnya, aku bukan Happy yang kau kenal."
Aku mengernyitkan kening, "Maksudmu ? Kamu kembar ?"
Happy menggeleng, "Galang, Nama asliku Hendrawan."
Aku tercekat. Apalagi dengan suara Happy yang tiba-tiba membesar di ujung kalimatnya.
Rabu, 03 Oktober 2012
Jumat, 28 September 2012
Aku dan PLN : Lebih Menyenangkan Bila Tak Pernah Padam
Kalau sudah berbincang tentang listrik, ingatanku langsung melayang pada 3 momen.
Pertama adalah ketika aku bekerja di sebuah PLTD milik sebuah perusahaan swasta bernama di Tulang Bawang - Lampung. Di perusahaan terpadu tambak udang ini, aku bekerja di Laboratorium QA & EC Power House. Tempat bertenggernya 22 mesin diesel Wartsila yang masing-masing berkapasitas 3 MW. Aku bahkan masih ingat, headset yang kugunakan tiap hari tidak begitu mengurangi bisingnya mesin raksasa itu. Dan air mineral di dalam botol yang senantiasa beriak ketika diletakkan di meja kantor, akibat getaran mesin diesel yang beroperasi. Juga aura hangat ketika melintas di barisan trafo di belakang gedung. Dan pemandangan yang akrab adalah, para operator mesin yang sedang overhoul alias membongkar mesin. Tangan dan wajah mereka yang belepotan oli dan baju yang basah karena keringat. Yang jelas, situasi yang selalu terekam dalam ingatanku adalah gerah dan bising.
Kedua, masih di perusahaan yang sama. Salah seorang temanku bekerja di bagian jaringan. Saat memperbaiki jaringan, terjadi miskomunikasi dengan Power House. Walhasil, tubuh bos dari temanku yang masih nangkring di tiang listrik, sempat bercahaya ketika arus listrik mendadak mengalir. Tubuh itu langsung melorot turun dan pingsan. Ingatan yang masih jelas di kepalaku adalah, profesi mereka adalah profesi yang bertaruh dengan nyawa. Dan kesalahan komunikasi adalah hal yang dimaklumi terjadi sebagai human error, mengingat operator di Power House adalah manusia, bukan malaikat.
Ketiga, adalah sebuah pemandangan indah di kala malam, kurang dari 100 km sebelah timur kotaku. The Java Power, sebuah pembangkit listrik tenaga uap, PLTU Paiton. Setiap traveller yang melewati jalur pantura dari Probolinggo menuju Situbondo pasti melewati PLTU ini. Dan selalu, decak kagum yang terlontar melihat kemegahannya, terutama di malam hari. Jujur, walau gak kerja di sana dan juga bukan pemiliknya, aku sangat bangga dengan PLTU yang gemerlapnya melebihi pasar malam ini..
Ternyata, kusadari, aku tidak hanya bergantung pada listrik dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memasak, pompa, menyeterika, penerangan, kipas angin, komputer, charge ponsel dan lain-lain. Tapi, aku juga dekat dengan sumber listrik bahkan pernah bergelut di sana. Jadi, aku sangat memahami ketika tiba-tiba listrik padam, tanpa pemberitahuan dari PLN. Pasti ada troubleshooting yang terjadi di lapangan. Dan aku tahu, itu bukan hal yang mudah dan dapat ditangani dalam waktu singkat. Orang-orang yang bekerja di lapangan, aku sungguh percaya, mereka tak ingin ada trouble, sehingga mereka harus turun ke lapangan dan mengecek trafo atau tiang listrik, dan menuntaskan masalah sesegera mungkin. Sementara para pelanggan tak mau aliran listrik terputus selama berjam-jam.
Tapi, walau aku sudah pernah nyemplung di dunia perlistrikan (walau cuma mengamati dari dekat ...hehehe), tetap saja aku merasa tidak nyaman bila listrik padam tanpa pemberitahuan. Jadinya berasa kembali ke era 30 tahun yang lalu, ketika listrik belum masuk ke desaku. Memasak nasi ala tradisonal yang tidak bisa disambi dengan pekerjaan lain, karena nasinya bisa gosong kalau gak diaduk. Seterika yang harus ditunda hingga listrik menyala. Dan malam hari, penerangan harus menggunakan lilin, yang tentu saja tidak memadai untuk anak-anakku belajar. Dan yang lebih gawat lagi adalah, aku gak bisa menghidupkan komputer. Jadi kalau listrik padam seharian, alamat aku hanya mondar mandir di dalam rumah, gak ada kerjaan.
Saking seringnya listrik padam, jadinya aku sampai hafal jam-jam listrik mati dan kapan hidup lagi. Jika jam 8 sampai 10 pagi sudah padam, alamat hidup lagi paling cepet jam 3 sore dan paling lama menjelang maghrib. Katanya, kalau padam model seperti ini, ada maintenance. Kalau padam tengah malam mendadak, hidup sekelebat dan padam lagi, alamat jadi candle light sleep deh. Katanya, kalau seperti itu pertanda ada trafo yang rusak dan gak bisa nyala lagi.
Apakah benar begitu, PLN ?
Seperti yang kuceritakan di atas, aku memahami setiap pemadaman yang terjadi. Mungkin karena aku hanya ibu rumah tangga, jadi yaaahhh ... aku tidak mendapat pemberitahuan resmi dari PLN tentang pemadaman. Kalau aku bekerja di kantor atau sebuah perusahaan, pasti ada pemberitahuan dari PLN tentang pemadaman bergilir. Yang jadi pertanyaanku adalah, bila ada kerusakan di jaringan, dan listrik terpaksa padam cukup lama, apa ya yang dilakukan oleh karyawan kantor yang pekerjaannya sangat tergantung pada ketersediaan listrik ?
Dan aku juga memahami, kalau tarif dasar listrik alias TDL, tidak ubahnya seperti BBM. Naik terus gak pernah turun :D. Mungkin bila semua orang sebelumnya pernah bekerja di PLTD seperti aku, pasti gak bakal protes dengan kenaikan TDL. Lha melihat para karyawannya seperti itu kerjanya, siapa yang tega mereka hanya dibayar seuprit, padahal sudah berjasa membuat malam kita tidak candle ligt terus.
Tapi, sebagai konsumen, dan bertepatan juga dengan HUT PLN yang ke-67, boleh dong aku berharap, di depan lilin yang menyala, agar kinerja PLN ke depan lebih bagus lagi. Katanya sekarang sedang menggalakkan anti korupsi, ayo dong dukung konsumennya juga anti korupsi. Jangan biarkan konsumen berlama-lama membuang jam kerja hanya karena listrik padam. Korupsi waktu dong namanya.
Sebagai masyarakat awam, aku hanya bisa make a wish buat PLN.
Pertama, tambah dong tenaga 'super ahli' yang bisa menangani troubleshooting di lapangan dalam hitungan detik saja ( maunya begitu ... hehehe ), hingga listrik tidak perlu padam berjam-jam. Tapi akan lebih menyenangkan lagi bila tak pernah padam.
Kedua, para masyarakat non kantoran seperti saya, juga ingin mendapat pemberitahuan bila ada pemadaman berkala. Di daerah perkampungan, terkadang pemberitahuan via mesjid atau muholla lebih efektif dan efisian menjangkau semua lapisan masyarakat. Jadi, kita sudah mempersiapkan segala kebutuhan yang membutuhkan listrik lebih awal dan siap memanfaatkan waktu tanpa listrik dengan pekerjaan lain yang lebih bermanfaat.
Ketiga dan terakhir, doaku buat PLN, semoga tercapai tekadnya untuk menjadi instansi yang bersih dari segala bentuk korupsi dan semoga PLN semakin profesional dalam melayani masyarakat, setia masyarakat dan terangi Nusantara. Aamiin.
Pertama adalah ketika aku bekerja di sebuah PLTD milik sebuah perusahaan swasta bernama di Tulang Bawang - Lampung. Di perusahaan terpadu tambak udang ini, aku bekerja di Laboratorium QA & EC Power House. Tempat bertenggernya 22 mesin diesel Wartsila yang masing-masing berkapasitas 3 MW. Aku bahkan masih ingat, headset yang kugunakan tiap hari tidak begitu mengurangi bisingnya mesin raksasa itu. Dan air mineral di dalam botol yang senantiasa beriak ketika diletakkan di meja kantor, akibat getaran mesin diesel yang beroperasi. Juga aura hangat ketika melintas di barisan trafo di belakang gedung. Dan pemandangan yang akrab adalah, para operator mesin yang sedang overhoul alias membongkar mesin. Tangan dan wajah mereka yang belepotan oli dan baju yang basah karena keringat. Yang jelas, situasi yang selalu terekam dalam ingatanku adalah gerah dan bising.
Kedua, masih di perusahaan yang sama. Salah seorang temanku bekerja di bagian jaringan. Saat memperbaiki jaringan, terjadi miskomunikasi dengan Power House. Walhasil, tubuh bos dari temanku yang masih nangkring di tiang listrik, sempat bercahaya ketika arus listrik mendadak mengalir. Tubuh itu langsung melorot turun dan pingsan. Ingatan yang masih jelas di kepalaku adalah, profesi mereka adalah profesi yang bertaruh dengan nyawa. Dan kesalahan komunikasi adalah hal yang dimaklumi terjadi sebagai human error, mengingat operator di Power House adalah manusia, bukan malaikat.
![]() |
| Gambar diambil dari sini |
Ketiga, adalah sebuah pemandangan indah di kala malam, kurang dari 100 km sebelah timur kotaku. The Java Power, sebuah pembangkit listrik tenaga uap, PLTU Paiton. Setiap traveller yang melewati jalur pantura dari Probolinggo menuju Situbondo pasti melewati PLTU ini. Dan selalu, decak kagum yang terlontar melihat kemegahannya, terutama di malam hari. Jujur, walau gak kerja di sana dan juga bukan pemiliknya, aku sangat bangga dengan PLTU yang gemerlapnya melebihi pasar malam ini..
Ternyata, kusadari, aku tidak hanya bergantung pada listrik dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memasak, pompa, menyeterika, penerangan, kipas angin, komputer, charge ponsel dan lain-lain. Tapi, aku juga dekat dengan sumber listrik bahkan pernah bergelut di sana. Jadi, aku sangat memahami ketika tiba-tiba listrik padam, tanpa pemberitahuan dari PLN. Pasti ada troubleshooting yang terjadi di lapangan. Dan aku tahu, itu bukan hal yang mudah dan dapat ditangani dalam waktu singkat. Orang-orang yang bekerja di lapangan, aku sungguh percaya, mereka tak ingin ada trouble, sehingga mereka harus turun ke lapangan dan mengecek trafo atau tiang listrik, dan menuntaskan masalah sesegera mungkin. Sementara para pelanggan tak mau aliran listrik terputus selama berjam-jam.
Tapi, walau aku sudah pernah nyemplung di dunia perlistrikan (walau cuma mengamati dari dekat ...hehehe), tetap saja aku merasa tidak nyaman bila listrik padam tanpa pemberitahuan. Jadinya berasa kembali ke era 30 tahun yang lalu, ketika listrik belum masuk ke desaku. Memasak nasi ala tradisonal yang tidak bisa disambi dengan pekerjaan lain, karena nasinya bisa gosong kalau gak diaduk. Seterika yang harus ditunda hingga listrik menyala. Dan malam hari, penerangan harus menggunakan lilin, yang tentu saja tidak memadai untuk anak-anakku belajar. Dan yang lebih gawat lagi adalah, aku gak bisa menghidupkan komputer. Jadi kalau listrik padam seharian, alamat aku hanya mondar mandir di dalam rumah, gak ada kerjaan.
Saking seringnya listrik padam, jadinya aku sampai hafal jam-jam listrik mati dan kapan hidup lagi. Jika jam 8 sampai 10 pagi sudah padam, alamat hidup lagi paling cepet jam 3 sore dan paling lama menjelang maghrib. Katanya, kalau padam model seperti ini, ada maintenance. Kalau padam tengah malam mendadak, hidup sekelebat dan padam lagi, alamat jadi candle light sleep deh. Katanya, kalau seperti itu pertanda ada trafo yang rusak dan gak bisa nyala lagi.
Apakah benar begitu, PLN ?
Seperti yang kuceritakan di atas, aku memahami setiap pemadaman yang terjadi. Mungkin karena aku hanya ibu rumah tangga, jadi yaaahhh ... aku tidak mendapat pemberitahuan resmi dari PLN tentang pemadaman. Kalau aku bekerja di kantor atau sebuah perusahaan, pasti ada pemberitahuan dari PLN tentang pemadaman bergilir. Yang jadi pertanyaanku adalah, bila ada kerusakan di jaringan, dan listrik terpaksa padam cukup lama, apa ya yang dilakukan oleh karyawan kantor yang pekerjaannya sangat tergantung pada ketersediaan listrik ?
Dan aku juga memahami, kalau tarif dasar listrik alias TDL, tidak ubahnya seperti BBM. Naik terus gak pernah turun :D. Mungkin bila semua orang sebelumnya pernah bekerja di PLTD seperti aku, pasti gak bakal protes dengan kenaikan TDL. Lha melihat para karyawannya seperti itu kerjanya, siapa yang tega mereka hanya dibayar seuprit, padahal sudah berjasa membuat malam kita tidak candle ligt terus.
Tapi, sebagai konsumen, dan bertepatan juga dengan HUT PLN yang ke-67, boleh dong aku berharap, di depan lilin yang menyala, agar kinerja PLN ke depan lebih bagus lagi. Katanya sekarang sedang menggalakkan anti korupsi, ayo dong dukung konsumennya juga anti korupsi. Jangan biarkan konsumen berlama-lama membuang jam kerja hanya karena listrik padam. Korupsi waktu dong namanya.
Sebagai masyarakat awam, aku hanya bisa make a wish buat PLN.
Pertama, tambah dong tenaga 'super ahli' yang bisa menangani troubleshooting di lapangan dalam hitungan detik saja ( maunya begitu ... hehehe ), hingga listrik tidak perlu padam berjam-jam. Tapi akan lebih menyenangkan lagi bila tak pernah padam.
Kedua, para masyarakat non kantoran seperti saya, juga ingin mendapat pemberitahuan bila ada pemadaman berkala. Di daerah perkampungan, terkadang pemberitahuan via mesjid atau muholla lebih efektif dan efisian menjangkau semua lapisan masyarakat. Jadi, kita sudah mempersiapkan segala kebutuhan yang membutuhkan listrik lebih awal dan siap memanfaatkan waktu tanpa listrik dengan pekerjaan lain yang lebih bermanfaat.
Ketiga dan terakhir, doaku buat PLN, semoga tercapai tekadnya untuk menjadi instansi yang bersih dari segala bentuk korupsi dan semoga PLN semakin profesional dalam melayani masyarakat, setia masyarakat dan terangi Nusantara. Aamiin.
TRESNO JALARAN SOKO SURPRISE
Sepulang menjemput Nayla ( putri ke-3 ) ku, aku sudah curiga. Suami dan anakku itu tidak segera masuk rumah, tapi masih berbisik-bisik di depan pintu. Tak lama kemudian, Nayla masuk membawa sebuah bungkusan.
"Ayo tebak ! Siapa yang ulang tahun ?" ucapnya seraya tersenyum-senyum.
Aku menduga, ada teman ngajinya yang berulang tahun dan dia mendapat jatah kue.
"Gak tahu ..." jawabku polos.
"Masa ibu tidak tahu ?"
Aku mencoba menggali ingatan, dan aku yakin tidak ada yang berulang tahun bulan ini dan hari ini.
"Ibu ... Selamat Ulang Tahun !" seru Nayla dan menyerahkan bungkusannya padaku.
Aku keheranan sendiri, apalagi kemudian Nayla dan suamiku memeluk dan menciumiku. Waduh, ada apa ini sebenarnya ? Aku ulang tahun saja, gak pernah ada yang ingat apalagi ngasih surprise hadiah atau makanan. Lah ini, tahu-tahu dapat surprise dan 5 es krim cone pula. Jadi tambah curiga apa mau kedua orang ini ?
"Ibu kan ulang tahun hari ini, 28 September !" seru suamiku dengan percaya diri.
Ya ampuun, SALAAAAH !
"Bang, masa sih lupa tanggal lahir istrinya ?" protesku.
"Loh, kan bener ...28 .... waduh, salah ya ? "
Akhirnya, pecah deh tawa. Kasihan juga sebenarnya, sudah susah-susah belikan es krim, merancang surprise, salah pula tanggalnya. Tapi kami melahap es krim itu sama-sama sambil mendengarkan Nayla dan ayahnya saling menyalahkan. Dan Nayla membuka rahasia.
"Tadi itu aku dan ayah bingung mau ngasih hadiah apa ke ibu. Bedak apa novel ya ?"
Beuuuuu, jadi terharu bener. Dua orang itu tahu bener, apa yang kubutuhkan saat ini. Beli novel dan bedak ....hihihi.
Oke deh, bulan depan boleh diulang nih surprisenya. Terima kasih buat orang-orang terkasihku :D.
Jadi tambah tresno jalaran soko surprise.
Selasa, 25 September 2012
Gara-gara Status FB
Hari ini aku nyetatus dan membuat heboh teman-temanku. Aku sendiri gak nyangka, komen teman-temanku di statusku bisa seperti itu. Berikut link statusku tersebut, silakan mampir kalau gak percaya.
https://www.facebook.com/amalia.dewi.f/posts/426369770753053?ref=notif¬if_t=feed_comment
Jadi, kalau diurutkan status dan komen di statusku sendiri adalah :
1. Pagi-pagi sudah dilamar. Kuserahkan keputusan pada suami, dia mau menerima lamaran itu atau tidak, aku yang mikir-mikir jadinya. Kalau lamaran itu diterima, aku dan suami tidak bisa seperti dulu lagi ... hiks.
2. yang ngelamar akhwat. Jadi mumet nih, mudah2an suamiku bisa mengambil keputusan yang bijaksana.
3. Karena aku tidak mau memberikan jawaban, akhwat itu minta ijin menemui suamiku langsung di tempat kerjanya untuk meminta jawaban. Dan aku sedang deg2an menunggu suamiku pulang
4. Sebenarnya aku masih belum siap berbagi. Sudah kebayang gak bisa lagi full nulis dan merajut. Hiks, tengkyu temen2 atas motivasinya
5. Insya Allah jam 3 nanti suamiku pulang, semoga dia memberikan keputusan terbaik bagiku, bagi dia, juga bagi anak-anak kami. Doakan ya teman-teman .
6. maaaaapppp :D sudah menimbulkan persepsi berbeda. Kejadiannya emang bener tadi pagi aku dilamar buat kerja di sebuah instansi, tapi aku gak mau jawab, karena suami selama ini minta aku di rumah saja. Beliaunya, saking mendesaknya kebutuhan, akhirnya ke suami.
7. kalau yang dilamar ' lain', mana mungkin lah diriku bisa nyetatus, paling sudah ada yang diasah tuh di dapur, sendok atau centong gitu .... qiqiqi.
Jadi, teman-teman, ternyata kita terlalu reaktif terhadap sebuah berita. Terkait dengan berita di MetroTV kemarin tentang ROHIS. Menurut pendapatku, istilah ROHIS itu tidak dimunculkan oleh pihak Metro, tapi oleh orang-orang yang menangkap pemberitaan itu sebagai ROHIS. Akhirnya berita berkembang dan beranak pinak. Walau akhirnya MetroTV mengakui kesalahannya ... http://regional.kompasiana.com/2012/09/24/akhirnya-metro-tv-mengaku-salah/ ... tapi menurut saya, dia sudah sukses sebagai media.
Berhati-hatilah kita dalam menyikapi berita. Karena pihak media sangat piawai meracik bahasa agar supaya menimbulkan beragam persepsi. Dan persepsi yang terbentuk di masyarakat, kadang menjadi tidak terkendali dan memicu chaos. Kalau chaos tomat sih gak masalah. Tapi bila persepsi itu kemudian disetujui oleh masyarakat dan membentuk opini publik, maka kita akan turut andil dalam ghibah bahkan bisa menjurus ke namimah ( adu domba ).
Maka waspadalah ! Waspadalah !
Minggu, 23 September 2012
Kalau Aku Sudah Punya Anak
Listrik padam sejak jam 3 dini hari.
Selepas subuh, aku terpaksa memaksa nasi dengan cara tradisonal, maksudnya tidak menggunakan Magic Comp seperti biasanya. Kesempatan ini aku gunakan untuk mengajari Nayla, putri ke-3 ku. Nayla ini anak yang motorik kasar dan halusnya bagus. Dia pun suka diajari hal-hal baru yang berbau 'wanita'.
Saat aku mengaduk beras di atas panci, maka nasehat pun aku luncurkan. Dia yang menyorotkan lampu senter dan aku yang memasak.
"Nay, begini cara masak nasi yang sebenarnya. Direbus dulu, baru nanti dikukus. Dulu ibu waktu sekolah, membantu nenek memasak nasi seperti ini."
"Tidak pakai magic comp ya bu ?"
"Tidak. Seperti ini masaknya."
Nayla diam sejenak, lalu dia menggelandot di pingganggku.
"Ibu, kalau aku besok sudah punya anak, terus lampu mati, terus aku masak nasi seperti ini, terus aku bilang begiti, dulu ibu suka membantu nenek masak nasi seperti ini. Begitu ya bu ?"
Aku hampir terbahak.
Jadi yang dia tangkap adalah kalimatku saja. Tapi mudah-mudahan kelak kau akan menjadi ibu rumah tangga yang baik dan istimewa, Nak. Lebih baik dari ibumu ini, yang bisanya cuma mengetik kisah ini di blog.
Selepas subuh, aku terpaksa memaksa nasi dengan cara tradisonal, maksudnya tidak menggunakan Magic Comp seperti biasanya. Kesempatan ini aku gunakan untuk mengajari Nayla, putri ke-3 ku. Nayla ini anak yang motorik kasar dan halusnya bagus. Dia pun suka diajari hal-hal baru yang berbau 'wanita'.
Saat aku mengaduk beras di atas panci, maka nasehat pun aku luncurkan. Dia yang menyorotkan lampu senter dan aku yang memasak.
"Nay, begini cara masak nasi yang sebenarnya. Direbus dulu, baru nanti dikukus. Dulu ibu waktu sekolah, membantu nenek memasak nasi seperti ini."
"Tidak pakai magic comp ya bu ?"
"Tidak. Seperti ini masaknya."
Nayla diam sejenak, lalu dia menggelandot di pingganggku.
"Ibu, kalau aku besok sudah punya anak, terus lampu mati, terus aku masak nasi seperti ini, terus aku bilang begiti, dulu ibu suka membantu nenek masak nasi seperti ini. Begitu ya bu ?"
Aku hampir terbahak.
Jadi yang dia tangkap adalah kalimatku saja. Tapi mudah-mudahan kelak kau akan menjadi ibu rumah tangga yang baik dan istimewa, Nak. Lebih baik dari ibumu ini, yang bisanya cuma mengetik kisah ini di blog.
Langganan:
Postingan (Atom)

