Kamis, 13 September 2012

Yang Terdalam


Postingan ini diikutkan dalam #FF2in1 @nulisbuku 13 September 21.00 WIB
Tema : Yang Terdalam - Peter Pan

Senja itu, aku terpaku menatap tergelincirnya Sang Surya di ufuk barat. Semburat oranye mewarnai langit. Dan kurasakan bayang wajah lelaki itu memenuhi kepala dan dadaku. Sesak. Aku merasa percuma berdiri di pantai nan luas ini. Berharap rasa sesak itu menguar bersama angin yang mendingin.

Pras. Hanya nama itu yang bisa kugaungkan. Betapa hatiku sudah dia gali begitu dalam dan dia bersemayam di sana dengan nyaman. Kugelengkan kepala keras-keras. Sudah kucoba segala upaya untuk melebur nama itu di lautan. Menerbangkannya di setiap kepak sayap camar. Tapi usahaku selalu kandas. Karam.

Ijinkan aku mengenangmu Pras. Meski, selamanya kau tak akan berada di sisiku. Demi rasa yang sudah mendalam ini. Aku tidak akan membiarkan sedikit pun perih menodainya. Apakah aku salah ? Bila aku masih berharap menanti cintamu ?

Rabu, 12 September 2012

Reviving Moment - Gadis Istimewa dari Rahimku

Judul di atas, bukan untuk menonjolkan tentang kehebatan putriku atau menghibur diriku. Tapi judul yang kuambil dalam rangka Giveaway di blog Monilando ini, adalah bentuk kekagumanku pada Pencipta putriku.
Mau tahu bagaimana putriku hingga aku menyebutnya gadis yang istimewa ?

Putriku yang genap 12 tahun di 25 Juni 2012
Ini foto putriku, cantik bukan ? Semua ibu pasti akan mengatakan putrinya cantik :D. Namanya Fathin Nisa Elfathiyya. Putriku ini menderita autisme. Dia adalah putri kedua dari keempat putra-putriku.

Autisme yang dia derita aku ketahui ketika dia berumur dua tahun. Saat itu, seorang teman menyarankan untuk membawa ke seorang psikiater anak. Terapi yang diberikan adalah terapi obat. Selama dua tahun, putriku mengkonsumsi obat. Dan obat-obat itu harganya tidak murah. Tabunganku terkuras habis, bahkan sebidang tanah yang pernah aku rencanakan untuk dibangun rumah di atasnya pun terjual demi pengobatan putriku.

Bagi anak seusia dia, minum obat adalah siksaan terberat. Bagi anak autis, minum obat adalah siksaan berat bagi ibunya. Dia adalah seorang anak kecil dengan tenaga luar biasa. Untuk meminumkan obat padanya, tidak bisa dengan bujuk rayu atau iming-iming hadiah. Aku harus mendekap tubuhnya, mengunci kakinya, dan mendongakkan kepalanya. Orang lain ( ibu atau suamiku ) yang memasukkan obat ke dalam mulutnya. Itu pun dengan rangkaian teriakan dan tangisan. Setelah minum obat, dia akan terus menangis. Bahkan jika tantrum, bisa mencapai satu jam. Terus menerus menangis histeris dan membanting-banting tubuhnya. Hingga aku harus melepaskannya di ranjang agar dia tidak melukai dirinya sendiri.

Banyak teman mengatakan, walau memiliki anak tidak normal, wajahku tidak menunjukkan kalau aku stress. Maksudnya, aku tetap saja tersenyum-senyum dan bercanda lepas bila berkumpul dengan teman-temanku. Siapa bilang aku tidak stress ? Lebih tepatnya, aku tertekan. Jadi bila ada lengkung di bibirku, bukan berarti aku sedang gembira. Aku hanya mencoba berdamai dengan takdir. Dan itu tidak mudah.

Setiap kali mengajak putriku bertamu, baik itu ke rumah teman atau kerabat, tuan rumah selalu dengan reflek mengunci kamar-kamar mereka dan mengganjal lemari es mereka dengan kursi. Tentu saja, karena putriku akan langsung mengeksplorasi suasana baru di mana pun dia berada. Jujur, hatiku benar-benar tertohok. Apalagi kadang spontan mereka berkata, "Ada Fathin ... ada Fathin !". Seolah kalimat itu adalah warning untuk menyelamatkan semua barang. Dan mereka semua tak pernah tahu, bahwa air mata membanjiri batinku, bukan sepasang mataku.

Sedih luar biasa. Tidak ada orang yang mengharapkan kehadiran anakku !

Dari beberapa literatur yang aku baca, kebanyakan isinya menghibur para orang tua dengan anak autisme. Bahwa mereka adalah anugerah istimewa. Istimewa apanya ? Dia tak diharapkan di mana pun ! Dan berkali-kali aku berusaha berprasangka baik pada orang-orang di sekelilingku, tapi selalu kembali pada kenyataaan. Here I am. Sampai kapan pun, aku dan anak autisku, tak akan bisa kemana-mana. Di rumah saja, jauh lebih baik. Bagi aku, anakku dan orang-orang di sekitarku.

Tapi, pemikiran itu perlahan berubah. Seiring bertambahnya usianya, aku ingin dia bersekolah. Aku menyadari, aku dan suami akan semakin menua dan dia akan menjadi dewasa. Dia harus bersekolah dan mengenal dunia tempat dia hidup sekarang, bukan dunianya sendiri. Walau aku tidak tahu, bagaimana kelak dia menghadapi masa remaja dan dewasanya ? Apakah dia bisa mandiri dalam segala hal ? Adakah yang mau menikah dengannya ?

Tapi saat dia kumasukkan ke sebuah TK, tak ada anak yang mau bermain dengannya. Karena perilakunya tidak dipahami oleh teman-temannya. Tidak bisa diajak berkomunikasi. Gurunya pun merasa, berhadapan dengan anakku begitu menyulitkan. Dan, telingaku pun harus memerah tiap hari karena mendengar keluhan wali murid lainnya, yang iri kenapa Fathin boleh berkeliling kelas sementara anak mereka tidak boleh. Kenapa Fathin boleh tidak mengerjakan, sedangkan anak mereka tidak boleh. Tapi aku mencoba bertahan.

Dan anakku menempuh pendidikan TK selama 4 tahun. Dua tahun terakhir, aku sendiri yang menjadi gurunya karena saat itu aku mulai bekerja menjadi Guru TK di sebuah TK yang baru didirikan. Selepas itu, aku bingung, mau disekolahkan di mana anakku ? Tubuhnya semakin besar, tapi pola pikirnya masih seperti batita. Walau komunikasi antara aku dan dia hanya satu arah, tapi aku yang paling tahu bahwa dia sangat ingin masuk SD. Memakai baju putih merah.

Fathin saat perpisahan di SDLB
Untuk masuk ke sekolah umum, jelas tidak mungkin. Tidak ada SD yang siap menerima anak seperti Fathin. Akhirnya aku masukkan dia ke SDLB. Sungguh sebuah sekolah yang tidak tepat bagi anak autis seperti Fathin. Karena sepulang dari sekolah, dia semakin aneh. Malah menirukan gerakan dan cara bicara teman-temannya yang bisu tuli.




Akhirnya, aku memindahkan dia ke SDIT, sebuah sekolahi inklusi, atas saran beberapa teman.


Dan, sejak bersekolah di sinilah, aku perlahan merasakan keistimewaan itu. Subhanallah....

Ya, dalam setiap perilakunya, aku semakin yakin bahwa Allah tidak pernah salah menciptakan makhlukNya dan tidak pernah luput memberikan hikmah dalam setiap kejadian.

Semenjak bersekolah di SDIT yang memang kental dengan pembiasaan Islaminya, aku tidak pernah mengira bahwa putriku menjadi gadis yang selalu sholat tepat waktu. Tidak hanya itu dia selalu menunggu-nunggu waktu sholat. Pertanyaan sehari-harinya di antar waktu sholat adalah, "Ibu, sudah adzan sholat ?"
Duh, aku sendiri sebagai ibunya hampir tidak pernah menanyakan adzan sudah berkumandang atau belum, apalagi mempersiapkan diri menunggu waktu sholat. Begitu adzan berkumandang, dia langsung berwudhu' dan menggelar sajadah.
Putri cantikku lebih tahu, apa destinasi akhir dari hidup ini dan apa modal utama yang bisa menyelamatkannya di akhirat kelak.

Kini, senyum yang hadir di wajahku, bukan lagi sarana untuk mencoba berdamai dengan takdir. Aku bersyukur, Allah memilihku untuk melahirkan gadis istimewa dari rahimku. Yang di setiap akhir sholat, dia bahkan bisa mendoakan dirinya sendiri supaya sembuh. Menghadapi masa balighnya nanti, aku yakin DIA yang akan memudahkan semuanya.




Dan menjadi pemenang kedua, infonya ada di sini



Senin, 10 September 2012

Pola-pola Indah di Bumi

 Pernahkah mengamati dengan teliti, bahwa Allah menciptakan pola- pola indah di bumi ini ? Melihatnya dalam jarak dekat, kita akan dibuat takjub, bahwa pola-pola ini ada di sekitar kita, setiap harinya.

Sehelai bulu burung.
 Foto di atas adalah foto sehelai bulu burung yang diambil dari jarak sangat dekat. Sama sekali tidak mengira bukan, bahwa di antara kepak burung yang kerap melintas di atas kita,  terdapat pola yang demikian fantastis.

Kulit Gajah, seperti foto satelit bumi kita
Sedangkan pola abu-abu di sebelah ini, seperti gambaran permukaan bumi bila dilihat dari foto satelit.
Padahal hanyalah kulit yang keras, dari binatang berbelalai panjang. Gajah, itulah namanya ... hehehe.
Batik indah ini adalah kulit jerapah









Kalau lukisan yang indah ini, milik sang leher jenjang, jerapah.
Cocok buat motif baju kayaknya. Wah, bangga dong si jerapah punya motif seindah ini.









Kulit cheetah sang pelari super cepat
Si pelari nang lincah, cheeta juga punya pola batik di tubuhnya. Gak perlu sih memburunya, dan mengambil kulitnya untuk baju hangat. Kita contoh saja polanya yuk.
Mata seekor ikan











Dan tonjolan berwarna hitam itu adalah mata seekor ikan yang dijumpai di perairan negeri kita. Subhanallah, bener-bener lukisan alam tiada tara





Si belang ini pasti tak asing kan ?





 
Dan yang terakhir, si bolang eh si belang. Hitam-putihnya adalah paduan indah, meski sederhana. Jadi ingat gerombolan si berat dengan baju penjaranya. Hehehe, tapi si belang yang ini bukan penjahat lo.








Dan gambar-gambar indah yang lain dapat anda nikmati langsung di situsnya www.nationalgeography.com.

Janji Para Lelaki, Jangan Mudah Berjanji Bila tak Hendak Menepati


Novel ini mendapatkan Penghargaan Terbaik Nasional Festival Novel Menggugah 2009.
“Ini bukan kisah mimpi, tapi cerita memenuhi janji yang acap tak tertepati. Juga bergulat pada peneguhan jati diri : membawakan panji-panji dalam kafilah Paderi melawan kompeni “
Dua kalimat di cover depan novel ini telah membuatku menyeretnya ke kasir. Pasti ada yang hebat di dalamnya. Kalau tidak, mana mungkin akan memenangkan penghargaan. Ditambah settingnya di Minangkabau. Serasa menemukan jalan untuk semakin menyelami budaya suami sendiri J.
Sebelumnya, aku membayangkan akan berurai air mata membaca Janji Para Lelaki. Ternyata aku keliru. Menggugah di sini, tidak identik dengan air mata. Tapi membawa ke sebuah perenungan tentang makna menepati janji. Sungguh cocok dengan kejadian akhir-akhir ini, yang kerap aku alami. Alangkah mudahnya, melalaikan bahkan mengingkari janji. Padahal sudah berhijab rapi dan hafal sebuah hadits tentang kaum munafiqin, yang salah satunya bercirikan ingkar janji. Seharusnya, buku ini aku pinjamkan pada mereka-mereka yang kerap abai dan lalai pada janji.
Janji Para Lelaki mengisahkan tentang 3 orang lelaki. Syahdan, Sutan Matari dan Johan. Mengambil setting tanah Minangkabau di tahun 1803, semasa Paderi mengangkat senjata melawan Belanda. Tutur bahasanya, melayu banget.  Tak berbeda dengan Layar Terkembang atau Salah Asuhan yang pernah kubaca. Sehingga bagi orang jawa tulen seperti aku, kerap bertanya pada suami. Walau, kalau dibaca satu atau dua kali sebenarnya mudah dimengerti, tapi bertanya pada orang Minang asli, terasa lebih pas di hati.
Syahdan berjanji menikahi Marani. Tapi dia juga terikat janji pada ayahnya. Sebelum meninggal, ayahnya berwasiat agar Syahdan tidak menikah dulu sebelum menikahkan Salma, adiknya dan membelikan Salma sebidang tanah. Syahdan yang bekerja di lapau ( toko ) kain milik Sutan Matari, tidak bisa segera memenuhi janji karena gajinya tidak mencukupi. Sementara Marani diguna-guna oleh orang yang sakit hati karena lamarannya ditolak. Syahdan harus segera menikahi Marani, tapi Amaknya ( ibunya ) tidak mengijinkan sebelum membelikan Salma tanah sawah.
Sutan Matari semula adalah lelaki yang terlilit hutang. Dia menerima pinangan ayah Bulan, seorang lelaki cukup berada.  Sutan Matari menikahi Bulan dengan sebuah janji, bahwa dia akan menjaga Bulan dan toko kainnya. Namun Bulan ternyata seorang istri yang bertindak semena-mena pada Sutan Matari. Menjatah makan dan uangnya setiap minggu. Dan kerap mempermalukan Sutan Matari di depan umum. Sehingga Sutan Matari dikenal sebagai suami yang takut istri. Johan hadir untuk mengembalikan kehormatan Sutan Matari sebagai suami.
Johan berjanji pada Mamanya untuk selalu berpihak pada pribumi. Walau dia menjabat sebagai seorang Letnan Belanda, tapi dia selalu berusaha memenuhi janjinya. Karena dalam dirinya mengalir darah pribumi. Hal ini yang kerap menjadi olok-olok Moore, saingannya dalam merebut hati Mary, sang pujaan hati. Walau semua pejabat Belanda kerap member janji palsu pada pribumi, Johan tetap bersikukuh untuk berpihak pada pribumi. Baginya, Belanda hanya berperang melawan Paderi, bukan pribumi.
Ketiganya, Syahdan, Sutan Matari dan Moore saling berkaitan dalam kisah ini. Berbagai konflik yang muncul, membuat  tak bisa menebak bagaimana sang penulis akan mengakhiri novel ini.
Kelicikan Belanda, terpapar jelas. Bagaimana muslihat Johan menjadikan Sutan Matari sebagai mata-matanya, untuk memantau gerak-gerik di markas Paderi. Bagaimana pula Sutan Matari belajar dari Johan, untuk membujuk Syahdan menjadi anak buahnya. Padahal, Syahdan jelas-jelas anggota Paderi.
Setiap janji, memerlukan pengorbanan untuk dipenuhi. Dan setiap manusia, tidak sama cara berkorbannya. Terkadang, hanya karena materi, janji sudah lupa ditepati. Syahdan, tokoh utama di novel ini, bukanlah sosok sempurna. Inilah yang menarik di novel ini. Penggambaran karakter Syahdan begitu alami dan manusiawi. Bahwa walapun dia kokoh memegang syariat dan berdiri di jalan jihad Paderi, dia pun tanpa sadar tergelincir menjadi kaki tangan Belanda.
Secara keseluruhan, membaca novel ini membuat kita mengenal budaya Minangkabau beserta seluk beluk adat istiadatnya. Beberapa istilah yang digunakan, terdapat penjelasan lugas dan jelas. Sehingga membacanya serasa berada di tanah Minang. Semula saya berharap, segmen pertempuran Paderi melawan Belanda, terasa kuat ruh pertempurannya. Mengerikan dan menegangkan. Tapi hal itu tidak ditemukan dalam novel ini. Mungkin karena, Paderi hanya setting dari novel ini, jadi tidak perlu dibahas terlalu mendalam. Misi utama adalah menyadarkan para pembaca, alangkah sulitnya memenuhi janji. Maka jangan mudah berjanji, bila tak hendak menepati.







Sabtu, 08 September 2012

RAYAP


( Cerpen ini pernah dimuat di Colosseum Radar Bromo )

Jeritan istriku yang sedang berada di dapur terdengar sampai ke ruang tamu. Koran yang sejak satu jam yang lalu menemani acara minum kopiku langsung kulempar begitu saja. Dan laksana terbang, aku bergegas berlari ke dapur. Pasti, istriku mengalami kejadian yang luar biasa, karena pekik ngerinya masih berlanjut.
“Dik ! Ada apa ?” seruku ikut histeris.
Istriku memeluk dirinya sendiri. Posisi yang biasa dia lakukan bila dia merasa ngeri. Mimik wajahnya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dia menunjuk ke arah lemari yang berada di bagian bawah tempat kompor gas. Pintu lemari itu terlepas dari engselnya dan ambruk ke lantai. Serpihan kayu dan tanah berhamburan ke mana mana.
“Kenapa lemarinya ?” tanyaku bergegas sambil mengguncang badannya. Tubuh istriku gemetar dan bisa kurasakan bulu-bulu di tangannya merinding.
“Lihat sendiri !”
Dan wanita yang sangat kucintai itu pun berlari meninggalkan dapur.
Dengan langkah jantan, itikad untuk selalu melindungi belahan jiwa, aku mendekat ke arah lemari. Bisa jadi, ada sesuatu yang mengerikan yang tadi muncul dari dalam lemari, yang membuat pintu lemari ini sampai terlepas dan sekaligus membuat istriku sangat ketakutan.
Dan umpatan pun akhirnya terlontar dari dalam mulutku. Seluruh bagian dalam lemari itu telah penuh dengan tanah yang didempulkan oleh pelakunya. Sementara mahkluk-makhluk putih berkeliaran dari sela-sela pintu lemari yang ambruk. Aku menekan sebagian kusen pintu itu. Dan kurasakan dalamnya bukan lagi kayu. Tapi tanah. Rayap telah bersarang di lemari kayu ini dan sudah memakan habis semua kayunya. Entah sudah berapa lama.
OoO
“Bagaimana mungkin kamu sampai tidak tahu kalau ada rayap di situ, Dik ? Kalau dia baru sedikit saja membuat sarang, kan lemari itu masih bisa diselamatkan ?”
“Mas ini bagaimana sih ? Mas kan tahu aku paling takut sama binatang-binatang menjijikkan seperti itu. Mana mungkin aku berani menyentuhnya. “
Aku mendengus, “Kan ada aku, Dik ! Aku suamimu. Tidak akan kubiarkan apapun membuatmu ketakutan seperti tadi pagi. ”
“Mas …. Sebenarnya, tiap hari aku selalu membuka lemari itu, karena sebagian perabotan dapur aku simpan di situ. Tapi bukankah, selama tiga minggu ini kita tinggal di rumah Bapak karena ibu masuk rumah sakit ? Dan Mas yang tiap hari pulang ke sini. Kenapa Mas tidak menengok ke dalam lemari itu ?”
Aku mendengus lagi. Mana tahu aku kalau rayap itu bakal menghabiskan lemari itu ?
“Tugas Mas lo …. “
“Apa ?”
“Mengusir rayap-rayap itu. Atau lemari di dapur habis semua. “
Aku hanya mengangguk. Tenang saja, aku adalah pemimpin di keluarga ini. Jadi, aku yang akan menyelesaikan semua masalah di rumah ini. Termasuk masalah mahkluk kecil bernama rayap itu.
OoO
Perburuan di mulai keesokan harinya. Saat istriku kembali menjerit, karena pintu kusen kamar mandipun ternyata sudah habis dimakan rayap. Tanpa sengaja, saat keluar dari kamar mandi, sikut istriku terantuk kusen, dan rontokan tanah keluar dari dalam kusen yang ternyata sudah kosong isinya.
Senjataku hanya golok dan semprotan obat nyamuk yang berisi minyak tanah. Istriku kuungsikan ke rumah mertua. Aku sendiri yang akan menghadapi rayap-rayap itu sampai rayap terakhir, bahkan mungkin raja rayapnya berhasil kumusnahkan.
Rumah ini adalah rumah peninggalan almarhum orang tuaku. Sebagai anak tunggal, hanya aku satu-satunya yang mengenal seluk beluk rumah ini, karena memang sejak aku dilahirkan dan dibesarkan di rumah ini.
Dari dulu aku memang tidak pernah peduli dengan urusan rumah. Mungkin saja, sebelumnya, saat bapak dan ibuku masih ada, mereka sering bertempur dengan rayap, tanpa kuketahui kapan. Sekarang, generasi telah berganti. Aku yang bertempur melawan rayap.
Semua kusen di seluruh rumah kuperiksa. Tanda-tanda rayap yang lihai menyembunyikan aksinya, kuamati dengan cermat. Beberapa kusen pintu rumahku ternyata sebagian sudah menjadi korban. Entah karena usia rumah ini sudah lama, atau aku yang kurang peduli mengurus rumah. Bahkan bagian belakang lemari baju istrikupun sudah separuh yang dilahap binatang kecil itu. Untung saja, istriku tercinta tidak ada di tempat. Kalau iya, dia pasti histeris dan pingsan. Bahwa ternyata selama ini, dia begitu dekat dengan rayap-rayap itu. Mereka berjalan beramai-ramai di dalam kayu, memakan habis dalamnya, bahkan mungkin sambil terbahak-bahak karena di empunya telah berhasil dikelabuinya.
Satu liter minyak tanah sudah kuhabiskan untuk menyemprot semua kayu bekas sarang rayap. Seperti halnya mereka yang tidak peduli dan tidak pilih-pilih, kayu mana yang akan mereka makan dan mereka jadikan sarang, aku pun tidak peduli dengan mereka yang menggeliat-geliat, berlarian ke sana ke mari, menghindari pertempuranku.
“Kau pasti bangga pada Mas, Dik ! Aku sudah berhasil membantai semua rayap di rumah kita ! Tidak ada lagi rayap !” gumamku bersemangat.
Semua rayap yang sudah mati itupun kukumpulkan jadi satu. Beberapa saat, aku sempat menikmati mereka yang masih menggeliat. Lalu bersama bekas sarang mereka, serpihan kayu dan tanah liat yang sudah kering, aku buang ke tempat pembuangan sampah. Tempat yang layak bagi mereka.
OoO
Pertempuranku dengan rayap yang menuai sukses besar, terdengar seantero kampung. Ini pasti karena saking bangganya istriku pada suaminya. Jadi dia bercerita ke para tetangga saat berbenja tentang kepiawaianku memberantas rayap. Rumah kami sudah bebas rayap.
“Mas … istri Pak Kodir tadi minta tolong supaya Mas memberantas rayap di rumahnya. Kasihan Mas. Pak Kodir kan masih lumpuh karena stroke, jadi siapa lagi yang bisa. Anak-anak mereka tidak ada kota ini. Mau kan Mas ?”
“Mereka kan bisa pakai kuli, dik. Masa aku ?“
“Mereka minta tolong, Mas. Mereka maunya Mas Nukin, yang sudah mereka percaya. Kalau membayar kuli, mereka khawatir dibohongi. Mau ya Mas .. “
Rayuan istriku kurenungkan beberapa saat, dan aku pun mengangguk dengan mantap. Senangnya bisa membantu tetangga. Apalagi urusan rayap yang sepele.
Istrikupun ikut senang. Dia ikut membantuku memberantas rayap di rumah Pak Kodir. Bahkan, dia sudah berani menyapu rontokan tanah bekas rayap. Tapi bila ada rayap yang panik dan keluar dari rontokan tanah itu, dia pun dengan panik langsung memukul-mukulkan sapunya berkali-kali pada sang rayap. Ternyata, dia lebih sadis dari aku. He.. he ..
Sukses di rumah Pak Kodir, membuat reputasiku pun semakin melambung. Aku dan istriku sering dimintai tolong oleh orang-orang untuk membasmi rayap di rumah mereka. Kalau mereka menggunakan jasa kuli, pasti keluar ongkos. Tapi, bila mereka meminta tolong aku dan istriku, yang sekarang jadi tim pembasmi rayap yang kompak, tak akan mau aku menerima sepeserpun dari mereka. Membantu sudah merupakan kesenangan bagiku. Dan tentu saja, aku semakin piawai dan ahli dalam bidang pembasmian rayap. Semakin waspada dan jeli mengamati berbagai kayu dan kusen tetangga yang seolah tidak dimakan rayap, tapi sebenarnya menjadi sarang rayap. Bahkan aku mulai menyarankan mereka untuk memakai berbagai jenis obat pencegah rayap. Dan istriku mulai mencoba berjualan beberapa jenis obat pembasmi rayap.
OoO
Malam itu, aku merebahkan tubuhku di samping istriku. Ini hari yang melelahkan. Seharian tadi, kami berdua membasmi rayap di rumah tetangga sebelah. Kerusakannya sangat parah. Dia telah kehilangan seluruh kusen pintu rumahnya, tanpa disadarinya. Maklum, dia hanya seorang nenek tua yang tinggal seorang diri.
“Mas … sepertinya bisnis obat pembasmi rayap cukup menguntungkan ya Mas ?”
“Yah .. syukurlah. Selain membantu tetangga, kan juga membantu ekonomi kita. Lumayan, buat persiapan kalau kita punya anak nanti. “
“Tapi  …. Kusen-kusen kita jadi bolong-bolong. Kapan kita ganti Mas ?”
“Sabar dulu, dik. Kita kumpulkan dulu uangnya. Soal mengganti kusen, aku bukan ahlinya. Aku hanya ahli mencari sarang rayap. “
Istriku tertawa geli dan mencubit lenganku mesra.
“Mas Nukin… tetangga bilang, katanya Mas baik sekali mau membantu mereka membasmi rayap. Berarti mereka sayang kita ya Mas ?”
Aku berusaha sedikti tersenyum. Mataku sudah berat.
“Tapi … aku merasa, masih ribuan lagi yang membenci kita Mas ?”
Aku mengeryitkan kening. Apa maksud istriku ?
“Aku yakin, masih banyak ribuan rayap yang belum Mas basmi. Dan kadang aku merasa was-was, mereka akan membalas dendam pada kita…. “
Aku terkekeh di sela kantukku. Mana mungkin, makhluk kecil yang buta itu punya rasa benci pada kami, apalagi membalas dendam. Wajahku saja dia tidak bisa melihatnya. Lagipula, salah mereka sendiri memakan kayu di rumah orang.
Oahmmm …. Sepertinya aku akan tidur lama. Aku butuh istirahat karena sangat ngantuk dan capek.
OoO
Jam tiga dini hari, Pak RT dan beberapa warga bergegas menuju rumah Nukin, salah seorang warganya yang beberapa minggu terakhir menjadi populer di kampungnya sebagai pembasmi rayap.
Hatinya menjadi pilu saat melihat rumah Nukin. Tidak ada bencana alam, gempa apalagi tsunami. Tapi rumah Nukin hancur. Seluruh atapnya ambruk, dan sebagian temboknya runtuh tertimpa atap. Beberapa warga berusaha menyingkirkan pecahan genteng dan serpihan kayu yang habis dimakan rayap. Tidak ada suara Nukin dan istrinya dari dalam reruntuhan rumah, membuat mereka panik.
Ternyata, Nukin tidak sehebat seperti perkiraan orang. Ada yang luput dari perhatiannya. Kuda-kuda rumahnya, habis dimakan rayap. Dan malam itu, rayap-rayap membalaskan dendamnya pada Nukin dan istrinya.
OoO



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...