Jumat, 07 September 2012

Menyusui 4 Bayi Sekaligus

Pernah mendengar istilah sepersusuan atau saudara susu ? Dua bayi yang disusui oleh satu orang wanita dalam waktu bersamaan, minimal 5 kali menyusu. Maka keduanya akan menjadi saudara susu, dan diharamkan menikah ( bila laki-laki dengan perempuan ). Di jaman Rasulullah, beliau juga mempunyai saudara sepersusuan.

Saya termasuk orang yang awam tentang hal ini. Dalam arti, di jaman sekarang, sangat jarang bahkan tidak pernah saya menjumpai wanita yang menyusui dua bayi ( kecuali bayi kembar lo ya ), yang salah satu bayinya bukan anak yang dia lahirkan dari rahimnya sendiri.

Adalah istri dari sepupu saya, seorang wanita karir ( bekerja sebagai PNS di sebuah Kantor Pajak ) yang bisa menyusui 4  bayi sekaligus. Bayinya sendiri dan 3 bayi lain yang ibunya meninggal dunia. Subhanallah, membuat saya geleng-geleng hanya mendengar cerita dari suaminya, belu melihatnya secara langsung.

Bagaimana cara dia melakukannya ? Dia memerah ASI-nya dan menyimpannya di freezer, sebagaimana yang dilakukan oleh wanita karir pada umumnya. Lalu dia memberikannya pada 3 bayi lain TANPA BIAYA. Dan Subhanallah, produksi ASI-nya memang luar biasa, hingga bisa memenuhi kebutuhan 4 orang bayi. Dia melakukannya atas dasar rasa iba, karena sang bayi pasti masih sangat membutuhkan ASI.

Mengenai saudara sepersusuan, dia mengambil fatwa dari Yusuf Qordowi. Bahwa selama tidak mensesap langsung dari puting sang ibu, hukumnya sama dengan minum susu formula. Toh, bayi-bayi yang minum susu formula tidak dianggap menjadi anak sapi dan dilarang kawin sama sapi ( memang gak boleh yee ), karena tidak mensesap langsung ke puting sapinya.
Tapi, wanita ini tetap meminta kartu keluarga dari ketiga bayi yang disusuinya. Dengan maksud, di masa depan, dia pun tidak menginginkan terjadi perkawinan di antara keempat anak yang disusuinya.

Subhanallah, hukum Islam memang Rahmatan lil Alamin. Tidak peduli hidup di jaman yang mana pun di muka bumi ini.

Kamis, 06 September 2012

Persona Non Grata, Novel Yang Membuatku Kehausan

Pengalaman membaca novelku tidak banyak. Aku tahu beberapa teman mampu menamatkan sebuah novel tebal dalam semalam, yang bila aku membacanya baru akan tuntas dalam seminggu. Selain kesibukanku mengurus rumah tangga dan aktifitas di luar rumah (keduanya tidak bisa disambi dengan membaca buku, hehehe), mata minusku akan perih dan berair bila membaca terlalu lama, terutama di malam hari. Tapi selama ini ada dua novel yang membuatku mampu menyelesaikannya dalam 24 jam, dengan meluangkan pekerjaan rumah sekedarnya saja ( atau malah ditunda ...hihihi ) dan mengindahkan pedihnya mata. Ternyata bisa juga kalau dinekadkan ya ?

Novel yang pertama tak perlu kusebutkan di sini, berhasil aku selesaikan dalam satu malam karena aku meminjam dari anak seorang teman yang esok harinya dia sudah harus balik ke kota lain untuk kuliah. 

Dan yang kedua adalah novel Persona Non Grata karya Riawany Elyta, yang menjadi pemenang II Sayembara Menulis Novel Inspiratif Indiva 2010.
Jujur, bukan karena aku mengenal penulisnya, yang membuatku menyelesaikan membaca novel ini dalam 24 jam. Tapi karena kekuatan di bab awalnya telah membuatku kehausan. Memang benar, bab pertama adalah bab penentu pembaca akan meneruskan membaca sampai kata 'the end' atau tidak. Dan aku telah membuktikannya sendiri.








Judul       : Personan Non Grata
Penulis    : Riawany Elyta
Penerbit  : Gizone, Kelompok Indiva Media Kreasi
Tahun     : 2011
Tebal      : 256 halaman


Alur novel ini melompat-lompat. Berpindah dari satu fragmen ke fragmen lainnya. Namun menjelang akhir cerita, semua fragmen yang tersusun, membuat sebuah rangkaian yang unik, yang mementahkan pradugaku tentang ending cerita apalagi dugaan mengalirnya alur. Maka tak heran, sejak bab awal, novel ini membuatku benar-benar kehausan. Tak lega rasanya bila mata ini tidak menuntaskan rasa haus. Dan pedihnya mata karena dipaksa rasa untuk maraton membaca, terbayar dengan bilasan air mata di akhir novel. Halah ... kumat cemennya.

Jadi, ceritanya ada seorang lelaki anak pengusaha kelas wahid di negeri ini bernama Dean Pramudya. Dia hidup dalam kemegahan orang tuanya, tapi memilih jalan yang berbeda. Menjadi leader di sebuah jaringan rahasia, yang meretas rekening-rekening milyader. Memacu adrenalin adalah salah satu tujuannya untuk membentuk Cream Crackers, jaringan yang merekrut mahasiswa-mahasiswa cerdas untuk menyusup ke jaringan internet perbankan dan membobolnya.

Dan sosok Sarah, seorang pelacur korban traficking, adalah tempat Dean menambatkan hati. Sedikit banyak, Sarah mengetahui tentang pekerjaan Dean. Tapi rasa membutuhkan perlindungan laki-laki itu dalam pelariannya, membuatnya tak memprotes tindak kriminal Dean. Well, penulis memang piawai berkisah, hingga tokoh utama yang seorang kriminal, tidak digambarkan sebagai sosok yang kejam dan bengis, tapi menjadi tokoh protagonis yang menawan hati pembaca, termasuk saia ... hehehe. Eh, tapi bukan berarti saya mendukung cyber crime lo yaa.

Dalam pelariannya dari germo, Sarah terdampar di sebuah kawasan kumuh, tempat para pemulung mengais rejeki. Sebuah kejadian, menyebabkan dia mendapat musibah dan dirawat di Rumah Sakit. Yayasan Pelita, tempat Lutfi dan Malika mengabdikan diri, bersedia menampung Sarah yang saat itu diduga menderita amnesia sehingga tidak mengetahui siapa dirinya.
Sementara itu, ada Tante Rowena yang sedang mencari anaknya yang telah lama hilang. Polisi menduga, Sarah adalah anak Tante Rowena. Namun sebelum mereka berdua diperjumpakan, Sarah kembali kabur. Sarah berhasil menghubungi Dean dan Dean membawanya ke sebuah rumah yang akan mereka tempati bersama.
Namun rencana dua sejoli ini berantakan karena Dean ditangkap polisi. Tindak kriminalnya berhasil dibongkar dan Sarah dianggap menjadi saksi kunci yang mengetahui aktifitas Dean.

Hm, hukum memang bisa dibeli di tanah air kita. Demikan pula kisah dalam novel ini. Orang-orang berpengaruh dan berduit tebal, bisa dengan mudah lolos dari jeratan hukum. Dan orang-orang yang tak berdaya, tak bisa berbuat  apa-apa selain menangisi nasibnya di balik jeruji besi.

Novel ini banyak bertutur tentang cyber crime dengan berbagai teknis dan istilah di dalamnya. Walau bagi pembaca awam seperti saya, cukup mengerutkan kening untuk memahaminya, namun kisah serupa kerap saya dengar di dunia nyata. Tentang mahasiswa cerdas tapi nakal yang kerap memusingkan aparat. Bisa menghafal nomor credit card hanya dalam 2 detik. Mencuri mesin telepon kartu ( masih ingat gak jaman telepon kartu ?) dan membuat kartunya sendiri dan dijual murah. Belum lagi sindikat joki yang bisa menghasilkan ratusan juta dalam 2 hari masa UMPTN. Mereka adalah teman-teman dari adik saya sendiri. Mereka hanya semalam saja mendekam di bui. Dan itu tidak sekali, tapi berkali-kali. Sehingga aparat dan mereka seperti layaknya teman. Polisi datang, tangkap, BAP, nginap di bui, besoknya keluar, makan siang bareng, buat ulah lagi.

Kisah tentang ODHA adalah kisah yang selalu menggugah, dan kisah ini memberi warna berbeda di novel ini. Seorang teman di dumay pernah membuat status, apabila ada ODHA sedang berbuat mesum di sebelah anda, anda tidak akan ketularan. Tapi bila ada orang merokok di sebelah anda, anda akan dibunuhnya perlahan-lahan. Jadi, merokok lebih berbahaya daripada HIV. Tapi justru kisah-kisah penyandang HIV lebih mengasah jiwa daripada kisah-kisah perokok. Karena banyak dari mereka yang menjadi ODHA bukan karena dunia asusila mereka, tapi Allah berkehendak demikian melalui jalan yang tak bisa diduga siapa pun.

Hm, bila anda ingin mengetahui tentang cyber crime dan kisah penyandang ODHA, bacalah novel ini. Gak rugi, benerr !


Cinta Yang Sulit


Aku ingin mencintaimu dengan cara yang sulit
Seperti semak-semak yang tumbuh di tebing
Tanpa tanah gembur hanya air yang mengalir deras
Tapi dia tetap tumbuh dan bertahan

Aku ingin mencintaimu dengan cara yang rumit
Seperti konfigurasi atom
Yang melepas dan menangkap elektron
Demi terbentuknya sebuah materi meski sederhana

Aku ingin mencintaimu dengan cara yang pelit
Hanya untukmu
Hanya dirimu
Tidak ada yang lain

Selasa, 04 September 2012

Berorganisasi, perlukah ?

Siapa yang mengenyam bangku pendidikan formal, pasti mengenal kedua logo di samping. Yang coklat sebelah kiri saat duduk di bangku SMA dan yang sebelah kanan saat duduk di bangku SMP.

Postinganku tentang OSIS alias Organisasi Siswa Intra Sekolah ini bukan bermaksud mengenang masa jadul yang sarat kenangan manis, halah .... Tapi karena sebuah permintaan ijin dari anak sulungku yang sudah duduk di kelas 2 SMP (sekarang disebut dengan kelas 8).

"Bu, aku ikut OSIS boleh gak ?"
Dua jawaban berbeda muncul dari mulut berbeda, spontan pula.

Aku menjawab, "Gak usah.".
Suamiku menjawab, "Ya, boleh !"

Loh ? Kok bisa kami tidak kompak menjawab permintaan ijin sulung kami, di depan anaknya pula. Maka argumen singkat pun meluncur, kebiasaanku dan suami bila berbeda pendapat.

Pendapatku : OSIS itu sibuk. Anakku tidak akan punya waktu untuk menambah hafalan Qur'an-nya. Sejak tahun ajaran baru ini, kami berdua memang memasukkan si sulung ke Rumah Tahfidz. Target hafalan Qur'an-nya lumayan banyak, maka aku kasihan pada kondisi fisiknya. Anak-anak OSIS banyak kegiatan, apalagi jaman sekarang gak seperti jaman dulu, kan ?

Tapi pendapat suamiku membuatku tertegun : Jangan seperti ayah. Ayah dulu gak pernah ikut organisasi. Sekarang menyesal. Ikut saja, pasti nanti ada manfaatnya.

Berorganisasi, bagiku memang identik dengan kesibukan. Dan jadinya ingatan jadul tentang OSIS kembali melintas. Bahwa aku pernah menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS. Dulu, memang tidak sesibuk sekarang. Tapi, dulu kami pernah mengadakan kunjungan ke sebuah Panti Asuhan dan memberikan sumbangan. Mengerjakan proposal bareng-bareng dengan meminjam mesin ketik sekolah. Fotocopy bareng-bareng. Semuanya bareng-bareng dan menyenangkan. Dan baru kusadari, bisa mengadakan kegiatan seperti itu bagi anak sekolah, sudah lumayan bagus, keren malah. Hihihi ....

Ternyata apa yang dikatakan suamiku itu benar. Kini, pengalaman berorganisasi walau seuprit itu, bermanfaat dalam organisasi dakwah tempat aku berkecimpung saat ini. Yang mana dalam organisasi ini, suamiku mengambil posisi sebagai anggota pasif. Ya, karena itu tadi. Dia merasa tidak nyaman dengan berorganisasi.

Ternyata berorganisasi membuat kita belajar banyak hal.

Beramal Jama'i
Sebuah organisasi pasti mempunyai visi dan misi. Visi dan misi ini tidak bisa diwujudkan oleh satu orang saja. Perlu banyak orang dengan hak dan kewajiban masing-masing. Dari sinilah kita belajar bagaimana bekerja sama, melakukan amal secara berjama'ah. Sebuah pekerjaan yang dikerjakan berjamaah akan terasa lebih ringan bila dikerjakan seorang diri. Dan lebih menyenangkan, tentu saja. Jamaah oh jamaah ....

Berlelah-lelah demi sebuah tujuan
Ya, pasti kesibukan akan menguras tenaga. Tapi lihatlah, orang yang aktif dalam sebuah organisasi. Dia seperti punya lebih banyak waktu untuk mengurus organisasinya. Rela berlelah-lelah, mengorbankan waktu dan tenaga, bahkan biaya. Kadang demi sebuah kegiatan sederhana, demi orang lain, tidak diliput media, tidak ada reward atau penghargaan dari siapa pun. Hal yang tidak terbiasakan pada orang yang tidak berorganisasi.

Terbiasa dengan Musyawarah
Kelihatan sekali memang, orang yang tidak berorganisasi atau kurang aktif berorganisasi. Contoh sederhana adalah suamiku sendiri. Dalam organisasi dakwah, sedikit saja hal yang kurang sreg di hatinya, dia akan menarik diri, memilih untuk pasif. Sedangkan aku cenderung untuk .. ayo, gimana caranya agar masalah ini cepat selesai ...
Musyawarah adalah cara yang tepat untuk mengasah keegoisan pendapat pribadi menjadi menerima pendapat orang lain. Beda kepala, beda isi beda keinginan. Nafsu memang cenderung untuk mementingkan isi kepala sendiri. Tapi, dengan musyawarah, belajar bertenggang rasa. Jadi ingat butir-butir Pancasila, tapi lupa sila berapa, butir berapa ...hehehe.

Terbiasa dengan birokrasi dan berpikir taktis
Organisasi pasti akan bersinggungan dengan birokrasi, terutama bila berkaitan dengan proposal dana. Pasti deh, terbentur ini dan itu. Memasang muka tebal ketika menyorongkan berkas proposal. Ditolak halus atau kasar sudah biasa. Tapi semua itu akan membuat kita berpikir taktis. Mencari ide atau gagasan yang tepat dan kreatif agar sebuah kegiatan dapat terselenggara.

Akhirnya, aku pun setuju si sulung ikut OSIS. Dengan keyakinan yang aku tuangkan di tulisan ini, bahwa hal itu akan bermanfaat bagi dia kelak. Walau tak pelak nanti dia akan lelah fisiknya atau habis waktunya. Toh, dia punya back-up besar, hafalan Qur'an-nya. Aamiin.

Tinggal aku yang sekarang tercenung melihat daftar barang yang harus anakku siapkan untuk ospek OSIS. Tentu saja, dia tetap lari ke ibunya, meminta disiapkan semuanya. Sekarang jadi pengurus OSIS saja ada ospeknya. Berikut daftar barangnya, yang membuat aku berpikir keras. Karena setahuku, kalau ospek disuruh membawa barang-barang seperti ini, pasti ada jebakannya.

  1. Nasi tiga warna
  2. Ayam sepupu
  3. Aqua bersegel 1770 mL
  4. 3 butir telur militer
  5. 3 biji salak
  6. Sayur asam
Kalau salah membawa akan dihukum. Tapi biar sajalah. Toh hukuman akan membuat anakku tersayang akan semakin kreatif .... hehehe.


Senin, 03 September 2012

Giveaway Novel Cinderella Syndrom


Dalam rangka Giveaway novel Cinderella Syndrom, maka tokoh yang kupilih : Annisa 28 tahun, Guru TK yang karier gak beres, jodoh pun gak ada, merasa seperti pecundang dan jatuh cinta dengan wali muridnya sendiri, yang sepertinya juga menyukainya.

SINOPSIS 

Annisa seorang guru TK yang sudah tujuh tahun mengajar. Dia selalu bermasalah dengan Bu Dewi, Kepala Sekolahnya. Bu Dewi sendiri seorang janda, adik dari pemilik Yayasan. Ada saja pekerjaan Annisa yang selalu tidak beres di mata Bu Dewi. Dari kelima guru di TK As Salam, hanya Annisa yang masih membujang. Sehingga, tugas-tugas administrasi selalu dibebankan kepada Annisa, karena guru-guru yang lain selalu disibukkan dengan anaknya sendiri, yang juga bersekolah di TK AsSalam. Bu Dewi selalu menuntut Annisa menyelesaikan tugas administrasi dengan cepat, tapi tidak mau tahu dengan tugas Annisa yang lain, yaitu mengajar.

Dalam acara rekreasi sekolah, Annisa selalu menjadi guru yang paling sibuk. Mulai urusan kendaraan, konsumsi, sampai spanduk. Karena jomblo, Bu Dewi menyerahkan hampir semua tugas pada Annisa. Guru yang lain hanya membantu sekedarnya. Karena semua guru juga membawa keluarga masing-masing. Bu Dewi yang merasa sebagai pimpinan, merasa wajib untuk selalu bercengkrama dengan wali murid. Walhasil, di tengah kegemberiaan rekreasi, Annisa menyusut air mata di balik tumpukan kotak konsumsi.

Tak dinyana, kesibukannya membuat Hideko, salah seorang wali muridnya justru membantunya. Annisa sudah tahu kalau Hideko adalah seorang duda yang lumayan berada. Wajah menawannya seperti rembulan di langit, selalu tersenyum ramah pada siapa saja. Didekati Hideko membuat Annisa salah tingkah. Apalagi, sepulang rekreasi Hideko malah menawarinya menumpang mobil dan diantarkan sampai ke rumah.
Tak dinyana, kejadian sepulang rekreasi itu, membuat Bu Dewi semakin sering memarahi Annisa tanpa alasan. Menurutnya, tingkah Annisa tidak memberikan pendidikan moral yang baik pada murid-muridnya. Apalagi, sejak kejadian itu, Hideko kerap menelpon Annisa, hanya sekedar menanyakan anaknya sudah dijemput pembantunya atau belum. Kalau belum dijemput, Hideko langsung menjemputnya dan berlama-lama berbincang dengan Annisa di depan pagar sekolah.

Para guru yang merasa iba pada Annisa pun melakukan penyelidikan. Dan mereka menyampaikan hasil penyelidikan pada Annisa, bahwa sebenarnya sudah setahun ini Bu Dewi ngecengin Hideko. Itu sebabnya, Bu Dewi rajin main ke Kantor Dinas Pendidikan dengan alasan mencari info tunjungan insentif untuk para guru dan Hideko bekerja di sana. Alasan Bu Dewi kerap memarahi Annisa, karena  kok malah Annisa yang kejatuhan bulan rupawan itu.

Annisa merasa di atas angin, apalagi teman-temannya mendukungnya. Mereka sudah gerah dengan tingkah Bu Dewi. Bu Dewi adalah Kepala Sekolah yang rajin menyunat uang insentif dari pemerintah yang seharusnya diterima 100 % oleh para guru  Katanya untuk uang jasa Yayasan yang telah mengusahakan cairnya uang insentif. Para guru juga mensinyalir, Bu Dewi ‘menghalal’kan segala cara agar para guru mendapatkan uang insentif dari berbagai sumber, sehingga Yayasan tidak perlu menggaji guru.
Annisa meminta bantuan pada Hideko bagaimana cara menghentikan kecurangan Bu Dewi. Hideko berjanji membantu, karena dia juga mengenal seluk beluk alur insentif para guru. Di luar dugaan Annisa, tak lama kemudian dia dipecat oleh Yayasan dengan alasan pekerjaan yang tak pernah beres. Harapannya kini hanya satu, Hideko. Lelaki yang kini mengisi hatinya, yang diimpikannya akan membawanya ke kehidupan yang lebih baik.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...