Sabtu, 11 Agustus 2012

Alhamdulillah Anakku Sekolah di SDIT


Pilah pilih sekolah. Itu sudah pasti. Orang tua mana sih yang tidak ingin anaknya jadi anak yang sholeh dan sholehah ? Walau seorang ibu adalah madrasah keluarga, tapi tetap membutuhkan sebuah sekolah untuk masa depan buah hatinya. Sehebat dan sepintar apa pun ibu, tidak bisa menampik kebutuhannya akan sebuah sekolah.

Beberapa waktu yang lalu, saya menghadiri sebuah talkshow yang mengangkat tema tentang Kecanduan Seksual Pada Anak. Wow, tema yang tidak biasa kan ? Apalagi diselenggarakan di bulan Ramadhan. Hm, apa tidak menjurus ke rafas ( pornografi ) nih, membicarakan hal ini di bulan suci ? Ternyata tidak.

Pembicaranya seorang pemerhati dunia anak dan remaja, Bapak Sanyoto, S.Psi yang berkecimpung di dunia tersebut selama 29 tahun ! Jadi sudah tidak diragukan lagi pengalamannya berurusan dengan kasus-kasus 'seksual' anak dan remaja. Orangnya menyenangkan dan juga lucu. Jadi, penyampaian pada peserta talkshow tentang kasus-kasus seksual pada anak dan remaja yang dia tangani, tidak menjurus pada pornografi dan juga tidak menggurui.

Menurut Bapak Sanyoto, 80 % kecanduan seksual anak dan remaja berasal dari RUMAH ! Wah, bukankah itu basecamp kita sebagai sebuah keluarga ? Our home sweet home ? Ya, karena di rumah anak bisa leluasa menonton televisi dan menggunakan aneka gadget dengan leluasa. Apalagi bila orang tua sibuk bekerja. Tak pelak lagi, interaksi anak terhadap gadget tak terbendung lagi.

Ponsel, televisi, komputer, internet adalah media efektif yang membuat anak mulai berkenalan dengan dunia seksual. Game-game yang ada di internet, tentunya jarang bahkan langka yang tokohnya menggunakan baju koko atau jilbab kan ? Profil gambar facebook yang sensual dan foto-foto yang berusaha menampilkan 'kecantikan' dalam versi outer beauty. Ponsel pun kini dilengkapi dengan fitur canggih, membuat anak merasa semua terhidang di hadapannya dengan mudah.

Berdasarkan riset yang dilakukan bapak Sanyoto terhadap pasien-pasiennya, interaksi yang sering dengan aneka gadget tersebut, akan membuat anak dan remaja gampang 'berimajinasi seksual'. Sebuah awal yang mengerikan akan kecanduan seksual, yang tidak disadari oleh orang tua ! Astaghfirullah ....


Sibuk dengan Gadget

Saya tentu saja manggut-manggut setuju dengan semua yang disampaikan oleh beliau. Bila ada kasus 'seksual' terjadi di sekolah, maka pihak sekolah tentu saja tidak bisa disalahkan. Lha wong di sekolah tidak disetelkan televisi, bahkan ada sekolah yang melarang siswanya membawa ponsel. Lalu darimana kecanduan itu berasal ? Tentu saja dari luar sekolah, utamanya di rumah. Mengingat sekolah adalah lembaga resmi yang menjunjung tinggi etika moral, mustahil mereka mengajarkan tentang pornografi kepada murid-muridnya. Apa mau ditutup itu sekolah ?

So, bernafas legalah diriku, karena telah menyekolahkan anak-anakku di SDIT. Sebuah sekolah yang tidak saja mengedepankan akhlaqul karimah, tapi juga menanamkan pembiasaan dalam beribadah. Kalau nanti anakku mengenal 'Cibi-cibi' ( yang selalu bernampilan genit dan sensual ) dari teman-temannya, aku tidak akan galau. Sebab aku yakin, para ustad dan ustadzah di sana akan membimbing anakku ke jalan yang benar :). Terima kasih para ustadz dan ustadzah. Semoga Allah senantiasa menguatkan dan meneguhkan hati kalian semua dalam mengemban amanah yang tidak ringan ini.

Kembali ke laptop. Hee... gak punya ding. Beberapa solusi diberikan oleh Bapak Sanyoto kepada para peserta talkshow. Lebih sering berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak ! Ya, aku setuju itu. Beliau bahkan memberikan contoh kegiatan yang sebaiknya dilakukan oleh anak di rumah, yaitu main tebak-tebakan, untuk lebih mengoptimalkan daya pikir mereka, sehingga mereka tidak asyik dengan gadget.

Salah satu contoh tebak-tebakannya seperti ini ...

Sebutkan nama pahlawan yang berawalan dengan huruf Y.

  1. Yos Sudarso
  2. Ya Kartini
  3. Ya Pangeran Diponegoro
  4. Ya Imam Bonjol
  5. Ya ...
Semua pahlawan dong ! Hehehe......


So, ayo para orang tua, mari membatasi interaksi anak-anak kita dengan Gadget ! Jangan malu dikatakan ketinggalan jaman, yang penting anak kita aman. Di rumah saya, televisi sudah rusak berat, inet lelet puoolll, hape jadul. Bismillah. Hanya kepada Allah kuserahkan anak-anakku.

Jumat, 10 Agustus 2012

Cara Masak Rendang Yang Paling Gampang

Menjelang Lebaran, bagi keluarga kami identik dengan Rendang. Walau orang jawa asli, tapi berhubung suami orang Minang, Lebaran kuidentikkan dengan rendang, bukan opor ayam. Gak masalah sih, yang penting seisi rumah suka.


Kata orang, bikin rendang itu susah dan payah. Tapi, aku dapat resep dari suami, yang orang asli Padang daerah pedesaan. Jadi resep rendangnya super simple. Yang penting  ada daging dan kelapa ... hehehe.
Yuk, cekidot resepnya !

BAHAN :
1 kg daging
2 butir kelapa ( kalau kelapa mahal, 1 aja gak apa-apa yang penting tua)
1 bonggol bawang putih
1/4 kg cabai merah
bawang merah sejumlah 2 x bawang putih
garam sesuai selera
jahe sebesar telunjuk tangan
kunyit sebesar telunjuk tangan
5 daun jeruk purut
5 daun salam
2 batang sereh

ALAT :
wajan atau penggorengan plus sutilnya
saringan santan
cobek dan ulek-ulek bisa diganti dengan blender

PERSIAPAN :
  1. Daging dipotong melintang alias memotong alur daging. Supaya kalau makan, slilitennya gak terlalu panjang di sela-sela gigi .... hahaha. Terserah mau segede apa motongnya, atau mau dibentuk seperti apa.
  2. Parut Kelapa ( di selep-kan aja cepet ... hehehe, malas marut ) tanpa dikupas, karena kandungan santan terbanyak justru di kulitnya. 
  3. Peras kelapa menjadi 2 episode. Episode pertama akan menghasilkan santan kental. Episode ke-2 menghasilkan santan encer. Ulangi episode 2 ini sampai santannya encer atau agak bening.
  4. Ulek atau blender bumbu : cabai, bawang putih, bawang merah, jahe dan kunyit.

CARA MEMASAK :
  1. Tumis bumbu halus dan jeruk purut, daun salam dan serai. 
  2. Setelah harum, masukkan daging dan ukep sebentar.
  3. Masukkan santan encer, aduk-aduk sampai mendidih.  Kecilkan api ( cukup api biru saja ). Bisa ditinggal menulis atau fesbukan ...qiqiqi, tapi sekali-kali diaduk dong !
  4. Setelah daging agak matang, masukkan santan kental dan garam. Kalau sudah mendidih, jangan ditinggal lagi.
  5. Tanda bahwa rendang sudah jadi, adalah adanya letupan-letupan pertanda minyak sudah terbentuk. Matikan apinya.

Nah, rendang siap disantap. Awas kolesterol !




Kamis, 09 Agustus 2012

Kapok Jualan Takjil


Ramadhan pasti gak lepas dari takjil. Dan takjil bisa didapatkan dengan mudah. Mau yang gratis ? Ngabuburit saja di mesjid atau musholla. Pasti dapat. Mau takjil yang beraneka ragam ? Stand takjil bertebaran dimana-mana. Tinggal sedia kocek tebal kalau mau beli aneka takjil. Mau diantar sampai ke pangkuan tangan ? Tinggal telpon aja ke Layanan Pesan Antar, asal ada pulsa.  Mau yang sesuai selera, ya buat sendiri dong ... hehehe.

Dan, Ramadhan 2009 adalah Ramadhan pertama aku berjualan takjil. Gak ada rencana sebelumnya, karena di setiap Ramadhan, keluargaku selalu membuat takjil sendiri, gak pernah beli. Asal muasalnya adalah, TK tempat aku mengajar, tiba-tiba punya niat untuk jualan takjil. Hasil penjualan akan digunakan untuk kas TK. Walhasil, semua guru wajib menjaga stand takjil.

Dan, rencana pun dibuat dengan matang. Wali murid yang membuat kue, dan guru yang menjaga stand. Lokasi yang dipilih pun sangat strategis. Pas di depan pintu keluar karyawan/buruh Pabrik PT. Kertas Leces ( yang waktu itu masih beroperasi 100 % ). Kabarnya, stand takjil di sana selalu ludes, habis, tandas dagangannya, diserbu para karyawan.

Dan, hari H pun dimulai. Di hari pertama berjualan takjil, aku sendiri gak yakin tumpukan kue dari wali murid di dua meja stand kami bakal laku. Sebab di kanan kiri kami, juga ada penjual takjil dan mereka adalah pedagang lama, yang tidak hanya berjualan di bulan puasa saja. Mereka bahkan sudah mangkal bertahun-tahun di sana. Tapi Bismillah saja deh, toh niat kami demi kebaikan. Menambah kas TK dan akan digunakan sebagian untuk memberi bingkisan lebaran bagi penduduk sekitar TK yang kurang mampu. Jadi kami harus bersemangat ! 

Dan ..... menunggu detik demi detik karyawan keluar dari pintu gerbang. Dan bruuulllll .... seperti gerombolan semut yang ditiup, karyawan pabrik yang keluar langsung menyerbu stand-stand takjil. Tentu saja termasuk stand takjil kami yang terletak tidak jauh dari pintu gerbang. Dan satu hal yang tidak aku perkirakan sebelumnya, mayoritas karyawan itu laki-laki. Gak kebayang kan maluuuuuuuuuuunya !!!! Terutama bagi kami para guru-guru TK yang pemalu ( uhuk ...) dan bening-bening ini ( hueekk .... ). Dan herannya yang menyerbu stang kami adalah laki-laki. Duh, kok pembelinya gak ada yang ibu-ibu sih ?

Dan bertransaksi dengan laki-laki itu kurang menyenangkan ! Jujur saja, nyodorin uang saja pakai mesem-mesem, dan yang ditanya pun macam-macam. Rumahnya di mana kek, naik apa datang ke situ kek, kok rajin jualan kek .... huaaah ! Dalam hati aku menjerit, suamikuuu help me ! Besok aku harus bawa anak kayaknya.

Hari pertama benar-benar membuatku mati kutu karena malu. Dan sudah bisa ditebak, esok hari, guru yang bertugas berjualan mulai berguguran. Siapa yang tahan diserbu semacam itu ? Kami di sekolah biasa diserbu laki-laki imut bin menggemaskan yang gak keberatan sama sekali bila dicubit pipinya, hehehe .... Lah ini ?

Tapi demi kas TK dan bingkisan lebaran untuk kaum Dhuafa, lanjut !

Ternyata tidak semudah itu. Hanya yang kuat malu yang bertahan menjaga stand. Alias yang sudah punya suami seperti aku. Guru yang lain mulai mengajukan daftar alasan supaya tidak menjaga stand. Dan, yang lebih membuat kesal adalah, wali murid mulai berguguran juga menyetorkan takjilnya. Aku maklum juga, siapa sih yang gak capek membuat kue tiap hari ? Apalagi niatan awal memang bukan buat bisnis, tapi menambah kas. Jadi, biar kue laku, harga dibuat sedikit lebih murah.

Akhirnya, direschedule lagi. Guru yang tidak menjaga stand, harus buat kue. Eh malah tidak ada yang jaga. Akhirnya aku dan satu teman yang setia berjaga saja yang membuat kue dan menjaga stand. Huhuhu ....  Terpaksa deh kukeluarkan jurus andalanku, getuk. Paling murah dan mudah membuatnya. Dan, tingkat ke-laku-an alias ke-laris-an kue-kue kami mulai berkurang. Karena ya itu tadi, tidak ada variasi kue di meja kami. Hadeehh. Sepertinya, rencana ini tidak bisa diulang lagi Ramadhan tahun depan. Kapoook.

Kini tiap Ramadhan, aku selalu teringat kisah ini setiap ngabuburit dan berjalan melewati stand takjil. Mupeng juga melihat stand yang ludes takjilnya, pasti dapat duit banyak, hehehe. Yang jelas, aku kini gak jadi guru TK lagi dan kudengar TK-ku gak lagi membuka stand takjil. Memang kalau mau berjualan takjil, harus diluruskan dulu niatnya dan diikat dengan kencang. Karena puasa Ramadhan dan ibadah lain di dalamnya juga membutuhkan energi dan waktu tidak sedikit. Sayang kan kalau Ramadhan terlewat dengan amalan kosong di dalamnya. Kalau bisa berjalan seiring dengan jualan takjil, bisa dobel untung. Kalau tidak, ya seperti kisahku di atas tadi.

Kalau mau berjualan takjil, pikir-pikir dulu deh !



Senin, 23 Juli 2012

Tutorial Membuat Rengginang Mekar

Hari Raya, Idul Fitri, bisa dipastikan Rengginang akan menjadi salah satu hidangan di meja. Walau di luar Hari Raya, produk makanan ringan ini mudah didapat di mana-mana. Dan bagi teman-teman yang ingin membuat sendiri Rengginang, saya akan membagi resep rengginag warisan leluhur yang berbudi pekerti luhur :D.




Sebenarnya proses pembuatan Rengginang sangat mudah. Hanya membutuhkan ketelatenan dan sinar matahari tentu saja. Bagi usaha besar, tentu tidak masalah membuat Rengginang di musim hujan, karena mereka bisa menggunakan pengering untuk mengeringkan Rengginang. Bagi yang ingin membuat Rengginang  dalam skala kecil, sebaiknya konsultasi dulu dengan Team Prakiraan Cuaca. Hehehe.

Oke deh, langsung saja kita masuk ke Tutorial Membuat Rengginang.
Pertama, kita siapkan dulu bahannya. Sebelum pergi ke pasar, catet dulu semua keperluan pembuatan Rengginang.

BAHAN UTAMA :

  • 1 kg beras ketan ( beras ketan yang berkualitas bagus akan menghasilkan Rengginang yang lebih mekar, tapi tentu saja lebih mahal harganya )
  • 1 bonggol bawang putih
  • 1 sendok makan garam halus beryodium ( biar yang makan Rengginang jadi cerdas )
  • air 250 mL ( tergantung jenis ketannya. Kalau ketannya lemas, air bisa dikurangi )

BAHAN TAMBAHAN :
Beberapa orang menyukai bahan tambahan untuk menimbulkan sensasi berbeda saat makan  Rengginang. Beberapa bahan tambahan yang bisa dipakai :

  • Penyedap Rasa
  • Ikan Teri
  • Terasi
  • Lorjuk


Di resep yang akan saya bagikan ini, saya hanya akan memberikan bahan tambahan penyedap rasa saja. Soalnya lebih guampaaannng ....
Yuk, lanjut !

ALAT DAN BAHAN

  • Panci untuk merendam beras ketan
  • Dandang untuk mengukus ketan
  • Centong kayu untuk mengaduk ketan
  • Ulekan atau blender untuk menghaluskan bumbu
  • Baskom untuk mengaduk beras ketan
  • Tempeh dari anyaman bambu atau plastik, terserah, untuk menjemur Rengginang
  • Penggorengan untuk menggoreng Rengginang, jangan lupa sama sutilnya.
  • Kompor jangan sampai ketinggalan di rumah tetangga, hahaha.


Nah, setelah semua siap, sekarang saatnya membuat Rengginang. Saya sendiri lebih suka membuatnya di bulan Ramadhan. Kenapa coba ? Karena, jam-nya cocok dengan masa perendaman Rengginang.

CARA MEMBUAT :

  1. Cuci dan rendam beras ketan selama lebih kurang 5- 6 jam. Kalau bulan Ramadhan, saya rendam selepas taraweh dan ditiris ketika hendak sahur. Pas kan ?
  2. Setelah 6 jam, tiriskan, dan kukus pakai dandang.
  3. Ngukusnya 30 menit saja. 
  4. Sembari mengukus, haluskan bawang putih
  5. Setelah itu, angkat beras ketan dan taruh di baskom. 
  6. Masukkan bumbu yang sudah dihaluskan plus bahan tambahannya plus air. Lalu aduk rata.
  7. Kukus lagi 30 menit.
  8. Rengginang siap dicetak di atas tempeh
  9. Setelah itu dijemur.
Terkadang, Rengginang yang kita buat tidak mekar saat digoreng di atas penggorengan dengan bantuan sutilnya. Itu disebabkan oleh teknik menjemur. Jangan kuatir, saya berikan juga teknik menjemurnya.

TEKNIK MENJEMUR
Setelah Rengginang dicetak di atas tempeh, jemur pas saat matahari baru terbit, di atas genteng. Kesalahan utama yang membuat hasil Rengginang tidak sesuai dengan keinginan adalah karena dijemur di bawah pohon ( ya iyalah pantas gak kering ) atau dijemur di halaman rumah dan siangnya sudah habis dimakan ayam. Ngasih makan ayam, mahal amattt.... !
Nah, pas bedug, balik rengginangnya agar sisi yang menempel di tempeh kering.
Bila cuaca mendung, alamat Rengginang tidak kering dalam sehari dan jadinya kurang mekar, atau malah keras saat digoreng. Makanya, jangan lupa kontak Team Prakiraan Cuaca ya.

Bila teknik-teknik di atas dipenuhi, Insya Allah akan didapatkan Rengginang yang mekar saat digoreng. Asalkan digoreng pakai minyak goreng.

Demikian, resep warisan leluhur yang saya bagikan, agar teman-teman semua menjadi Rengginanger tulen !





Minggu, 01 Juli 2012

Legenda Dustone


Legenda Dustone
Oleh : Syila Fatar

Arkesya menutup buku tuanya perlahan. Tapi debu tetap beterbangan, membuat Gaye dan Maye bersin. Arkesya tersenyum. Dua cucunya itu masih saja memelototinya. Berharap masih ada kelanjutan dari kisah yang dibacanya tadi. Karena bagi mereka berdua, Arkesya selalu menyimpan akhir kisah yang mereka nantikan.
“Sudah malam, tidurlah …” ucap Arkesya seraya membelai kepala keduanya.
“Cerita kakek belum selesai. Siapa pahlawan yang akan menghancurkan Dustone ? Dia sangat jahat. Seharusnya dia musnah.”
Arkesya tersenyum mendengar protes cucunya. Ditatapnya dua pasang mata yang membulat menatapnya penuh harap. Tapi, kisah ini memang tak pernah berakhir bahagia, meski Arkesya sendiri mengharapkannya. Ayahnya, yaitu buyut kedua cucu di hadapannya, pun tak pernah bisa menceritakan akhir kisah Dustone. Buku tua dari kulit papyrus itu hanya diam membisu, menyerap semua rasa penasaran para pembacanya.
“Tidak ada yang bisa menghancurkan dia. Setelah puas, dia akan kembali ke tanah, bersama manusia-manusia itu. Dan manusia yang tersisa harus melanjutkan hidupnya. Belajar untuk tidak lagi menjadi serakah.”
“Tapi dia akan muncul lagi kan, Kek ?” tanya Gaye, “kita harus siap ketika dia muncul. Aku akan membabatnya dengan pedangku. Akan kutendang kakinya hingga dia jatuh terjengkang. “
“Aku akan menyelamatkan dunia !” pekik Maye.
Arkesya terkekeh. Selalu saja kedua cucunya itu memintanya tentang kisah-kisah heroik dari buku tuanya. Dan mereka paling suka dengan kisah Dustone. Kisah yang mengerikan bagi Arkesya, karena kisah ini adalah kisah satu-satunya yang tak berakhir dengan kegagahan para pahlawan. Dan itu sangat selalu mengecewakan kedua cucu kesayangannya. Sehingga mereka selalu meminta dibacakan kisah ini berulang-ulang.
“Lagi ! Lagi ! Cerita lagi ! Kali ini aku akan mencari kelemahannya !” teriak Maye.
“Hmm, dongeng konyol itu lagi ?”
Suara berat itu membuat Gaye dan Maye langsung bangkit dari ranjang kakeknya, menyisakan bunyi berderit ranjang tua itu. Arkesya tersenyum. Sesosok lelaki tinggi besar menutupi cahaya terang yang menerobos melalui pintu.
“Kenapa ayah masih saja menceritakan dongeng itu ? Dongeng yang tak pernah berakhir dengan bahagia. Membuat mereka mati rasa.”
Arkesya tersenyum, “Ini bukan dongeng, Tundrey. Ketika kecil, kau pun seperti kedua anakmu. Selalu meminta diulang-ulang setiap malam. Kau sudah lupa ?”
Tundrey meraih bahu kedua putranya, meminta mereka segera masuk ke kamarnya. Keduanya memprotes tindakan ayahnya, tapi kilatan tajam mata Tundrey membuat mereka menunduk dan melangkah pergi. Tidak ada yang berani membantah ayah.
“Ayah, tolong jangan ceritakan kisah itu lagi, “ pinta Tundrey, “itu terlalu mengerikan bagi mereka. Ayah mungkin tidak tahu, sampai sekarang saja, aku masih membayangkan kengerian bila Dustone bangkit lagi. Aku tidak bisa membayangkan bila hal itu terjadi, manusia hanya tinggal segelintir saja. Itu menyakitkan.”
“Hmm, maka untuk itulah kisah ini selalu dituturkan dari generasi ke generasi. Agar mereka berpikir, untuk mencari jalan menghancurkan Dustone. Atau, bangsa manusia akan punah. Jangankan dirimu, aku saja yang tak lagi mampu berjalan, hanya bisa membayangkan kisah itu kala terjadi. Ramalan itu, kau harus percaya. Bahwa Dustone akan muncul di generasi Maye dan Gaye. Kau harus siap-siap.”
Tundrey meninggalkan ayahnya yang masih memeluk buku tua itu. Entah sudah berapa generasi, buku tua itu selalu dibaca menjelang tidur.  Tapi herannya, debu selalu saja menghiasi sampulnya. Tundrey ingat, dia selalu bersin ketika Arkesya menutup buku itu. Mungkin karena ini tentang kisah Dustone. Yang menanamkan pada anak-anak kecil, tentang musnahnya manusia oleh Dustone.  Oleh legenda debu dan batu. Tanpa ada yang bisa menghalangi dan mencegahnya terjadi. Tapi Arkesya selalu berkata, manusai tidak akan musnah. Karena Dustone membutuhkannya untuk bisa bangkit lagi.
OoO
Tundrey gelisah membaca laporan harian satelit  yang baru diterimanya. Gurun itu bergerak dan memadat. Ingatannya berkelebat pada Dustone. Tapi, bisa jadi ini karena tabiat bumi yang semakin tidak stabil pasca letusan beberapa gunung berapi setahun terakhir. Pergeseran lempeng terjadi di banyak bagian bumi. Tundrey meminta laporan geografis dari beberapa gurun dan sabana. Dan laporan dari Gurun Sahara yang benar-benar membuat jantungnya berdegup kencang. Padatan gurun itu semakin cepat, dan membentuk pola tertentu.
“Tyar, aku ingin bertemu Presiden.”
Tyar, sekretarisnya mengangguk cepat. Seperti dugaannya, ada masalah dahsyat yang diramalkan akan terjadi. Isu itu sudah tersebar di masyarakat. Bahkan banyak komik beredar mengisahkan Dustone.  Koran-koran memberitakannya setiap hari. Sungguh konyol bila harus mempercayai dongeng sebelum tidur seperti Dustone. Tapi, pergerakan gurun itu, mengarah ke sebuah kesimpulan besar. Tyar semula tidak mengira, Tundrey akan mengaitkannya dengan dongeng itu. Tapi, isu itu beredar begitu kencang, lebih kencang dari tornado yang memporak porandakan satu negara bagian. Dongeng yang tidak pernah bisa dibuktikan. Pemerintah tidak bisa mengabaikan isu ini begitu saja, karena sudah begitu meresahkan.
“Presiden siap menerima anda sore ini, pak. “
Tundrey mengangguk. Sepertinya, dia harus meminjam buku Arkesya.
OoO
Kloryeal memainkan bibirnya dengan jempol dan telunjuknnya. Menunjukkan dia berpikir keras. Tundrey bukan Menteri Pertahanan yang bodoh. Prestasinya tak terhitung menyelamatkan bumi ini dari ancaman bencana, baik itu dari bumi sendiri maupun dari luar planet. Prediksi dan perhitungannya selalu matang dan akurat. Isu sekecil apa pun adalah bukti penting bagi Tundrey.
“Aku pernah mendengar kisah ini. Kakekku yang menceritakannya. Ini adalah tradisi dari generasi ke generasi. Tapi, beritahu aku satu hal, Tundrey. Kenapa kamu sekarang lebih percaya pada dongeng ?”
Tundrey mengangguk hormat dan menyerahkan laporannya. Kloryeal mengernyitkan kening, dan mulai tampak panik.
“Pergerakan di gurun dan perpadatan tanahnya, membentuk pola. Coba anda perhatikan, Tuan Presiden. Polanya sudah membentuk sosok Dustone.”
Kloryeal menggigit bibir, menandakan dia mulai gelisah. Akal sehatnya, seperti halnya Tundrey mulai terpengaruh dongeng itu. Dongeng itu, apakah akan terbukti ramalannya ? Tidak ada manusia yang berharap itu akan terjadi.
“Ini tidak mungkin, “ gumamnya, “kirim orang terbaik kita ke sana untuk memastikan dan menangani hal ini. Setidaknya, bukan karena dongeng itu. Tapi, bisa jadi ini bencana dari perut bumi. Kita harus meredakan kegelisahan masyarakat terhadap isu santer itu. Rahasiakan hal ini dari publik. ”
Tundrey mengangguk hormat. Dia yakin, kalimat terakhir Presiden adalah indikasi kesetujuannya. Ini adalah Dustone. Terlepas dia dongeng atau ilmiah. Tapi ini tetap bencana.
OoO
Gaye dan Maye memamerkan keahliannya pada Arkesya. Mereka saling berpegangan tangan dan berputar. Semakin lama semakin cepat, hingga kolam air tempat mereka berdiri membentuk pusaran seperti angin tornado. Gaya dan Maye sudah bisa mengarahkan ujung air itu ke berbagai arah. Mereka bahkan melakukannya sambil tertawa. Terutama bila ujung air yang berputar cepat itu mengenai pepohonan dan mematahkan dahannya.
“Apa yang kalian lakukan ?”
Suara berat itu lagi. Dan … byurrr. Pusaran air itu pun pecah, meluruh bagai hujan. Membasahi Arkesya di kursi rodanya, dan Tundrey yang baru saja datang. Gaye dan Maye menunduk dalam, merasa bersalah melihat ayahnya basah kuyup. Apalagi, Tundrey masih memakai baju dinasnya. Sudah pasti lelaki itu akan marah besar. Dan seperti biasa, bila Tundrey marah besar, Gaye dan Maye akan dihukum, tidak bertemu air beberapa hari. Dan hal itu akan sangat menyiksa bagi keduanya. Gaye dan Maye tak bisa lepas dari air. Arkesya terkekeh seraya mengusap mukanya yang basah.
“Kalian mau membanjiri kota dengan tingkah kalian itu ?”
Nada amarah yang berusaha diredam. Gaye dan Maye dengan cepat tahu diri. Mereka kembali berputar, dan pusaran air kembali terbentuk dari air yang berserakan di mana-mana. Dan perlahan, mereka berdua menurunkan kecepatan pusaran air, hingga airnya meluruh perlahan, kembali mengisi kolam. Baju Tundrey kembali kering seperti semula. Air tadi telah terhisap pusaran dan kembali ke kolam.
Tundrey geleng-geleng kepala. Arkesya bertepuk tangan.
“Kalian berdua, masuk ruang hukuman !” bentak Tundrey.
Gaye dan Maye keluar dari kolam dan berjalan menundukkan kepala. Dalam 3 bulan terakhir, ini sudah kedua kalinya Tundrey memergoki Gaye dan Maye melakukan Circling. Dan selalu, membuat Tundrey basah kuyup. Tapi kali ini, mereka berhasil membuat Tundrey kembali kering. Dan herannya, kemajuan itu tidak membuat Tundrey memuji mereka. Padahal, Gaye dan Maye telah belajar melakukannya selama dua bulan, dengan bimbingan Arkesya.
OoO
Makan malam hanya dihadiri Tundrey dan Arkesya. Gaye dan Maye harus makan malam di kamar hukuman. Sebuah kamar berukuran 10 x 10 yang terbuat dari kaca. Mereka tidak boleh keluar selama beberapa hari dan Tundrey dapat mengawasi mereka dengan mudah. Kamar hukuman itu tepat terletak dia atas kolam ikan. Jadi, Gaye dan Maye akan merasa sangat tersiksa karena milihat air tapi tak bisa menyentuhnya. Hal ini akan membuat mereka jera melakukan Circling lagi selama beberapa hari. Tapi, bila Tundrey bekerja, mereka akan melakukannya lagi, diam-diam.
“Seharusnya, kau bangga pada Gaye dan Maye. Hanya mereka di planet ini yang mewarisi pengendalian air. Malah sekarang mereka bisa mengeringkan air.”
Tundrey hanya menatap ayahnya sekilas, lalu melanjutkan makan malamnya. Dia berpura-pura tidak mendengar kalimat ayahnya.
“Tundrey, kita harus mendatangkan seorang guru khusus bagi mereka.”
Tundrey membanting sendoknya, mengejutkan Arkesya. Rupanya, Tundrey masih marah atas kejadian tadi.
“Aku tidak akan melakukannya, ayah, “ ucap Tundrey manahan emosi, “aku tidak akan membuat mereka mengalami nasih seperti ibunya. Sudah cukup aku kehilangan Meiya. Aku tidak mau kehilangan Gaye dan Maye !”
Kedua anak kembarnya memang spesial. Tapi Tundrey tidak ingin, banyak orang mengetahui kelebihan mereka. Banyak pihak akan memanfaatkan keahlian tersebut. Apalagi bila orang-orang di Departemen Pertahanan mengetahuinya. Tundrey bisa kehilangan Gaye dan Maye, selamanya. Dia tidak akan punya hak lagi terhadap Gaye dan Maye. Bahkan mungkin tidak akan bisa lagi bertemu selamanya. Seperti halnya Meiya. Saat Presiden mengetahui Meiya memiliki kemampuan mengendalikan air, pemerintah memeras tenaganya untuk mengendalikan banjir di salah satu negara bagian. Memindahkan air bah sebanyak itu ke laut. Lalu menggerakkan kincir air untuk pembangkit listrik tenaga air laut di sebuah negara bagian yang mengalami krisis energi.  Dan Meiya pergi setelah kehilangan begitu banyak energi. Tidak sedikit orang seperti Meiya. Dimanfaatkan pemerintah karena mereka membutuhkan keistimewaannya. Tapi pemerintah selalu ingkar janji. Dan Tundrey tahu benar akan hal itu, karena dia berkecimpung di dalamnya. Dalam setiap tugas-tugasnya, dia kerap bertemu dengan anak-anak yang memiliki keistimewaan pengendalian. Tapi, Tundrey tidak pernah melaporkannya ke Departemen.
“Gaye dan Maye diperuntukkan untuk jaman ini, Tundrey. Kamu harus siap. Kamu tidak akan mengira, jiwa mereka penuh berisi kepahlawanan.”
“Itu karena ayah selalu mencekoki mereka dengan dongeng-dongeng konyol !”
Tundrey bangkit dari kursinya kesal. Pikirannya begitu kalut. Pergerakan gurun di Sahara itu semakin nyata. Dan Tundrey tidak yakin kali ini dia bisa bencana ini. Dustone. Gaye dan Maye. Dan Meiya. Tundrey tak ingin kehilangan miliknya yang paling berharga.
OoO
Tundrey mengguncang tubuh Arkesya perlahan. Dia membangunkan ayahnya tanpa ingin mengejutkannya. Arkesya membuka mata perlahan.
“Waktunya sudah tiba, ayah. Kita harus pergi.”
“Pergi ? Ke mana ?”
“Ayah, ikut saja. Para pembantu sedang mempersiapkan bekal untuk kita. Juga anak-anak.”
“Dustone. Ya kan ? Dia sudah bangkit. ”
Tundrey tidak menjawab. Tapi bunyi sirene meraung-raung di luar adalah jawaban bagi Arkesya. Presiden memerintahkan evakuasi. Beberapa pesawat antariksa sudah dipersiapkan untuk evakuasi sebagian besar penduduk bumi. Juga kapal-kapal besar untuk berlayar di samudra. Dan itu, tidak mencukupi. Hanya orang-orang kaya yang mampu membayar biayanya. Orang-orang yang tidak mempunyai uang untuk menyelamatkan jiwa mereka, berlarian ke hutan-hutan, berharap bisa selamat. Kisah itu akan kembali terulang.
“Tidak ada yang bisa selamat dari Dustone, Tundrey. Meskipun kita pergi ke tengah laut atau ke antariksa. Kita tetap harus kembali ke bumi. Kau tahu itu, kan ? Penduduk bumi tidak pernah mempersiapkan evakuasi dengan matang sebelumnya, padahal mereka sudah tahu ramalan itu akan terjadi. “
“Aku harap ayah tidak membuat Gaye dan Maye ketakutan. Kita hanya berlibur sementara.”
Tundrey mendorong kursi roda Arkesya. Di ruang tengah, Gaye dan Maye berdiri tegak menatap layar televisi selebar satu setengah meter. Dan dengan layar sebesar itu, keduanya bisa melihat liputan mengerikan itu disiarkan dengan sangat gamblang.
Dustone. Dongeng itu benar adanya. Dia telah bangkit dari gurun. Sekujur tubuhnya, adalah padatan debu dan batu, membentuk sosok mirip manusia raksasa. Tangannya menjamah manusia-manusia yang tampak seperti ujung kukunya, dan melemparkannya ke mulut besarnya. Dia tidak bermata. Hanya kepala dengan mulut terbuka lebar. Tempat dia memasukkan manusia-manusia yang dia tangkap dengan kedua tangannya. Langkahnya mendebam, mengguncang dan meruntuhkan gedung. Dia meraup begitu saja manusia-manusia yang berlarian seperti semut, lalu menelannya. Gedung-gedung itu dia patahkan, dia angkat ke udara dan mengguncang-guncangnya. Hingga manusia-manusia berjatuhan ke mulutnya. Tak satu pun luput. Dia begitu telaten menyibak hutan dan mencomot manusia yang histeris di dalamnya. Kendaraan dan pesawaat yang berlari menjauhinya, dia hantam dengan gumpalan batu dan debu hingga. Hingga tak ada yang selamat dari dia. Semua manusia ditelannya.
Tundrey langsung mematikan televisi.
“Nonton filmnya lain kali saja ya ?” kata Tundrey dengan senyum lebar.
“Itu bukan film, ayah. Itu berita !” protes Gaye.
“Dustone telah bangkit dan dia akan memakan kita semua !” teriak Maye.
Tundrey tahu dia tidak bisa membohongi si kembar. Tapi dia berusaha menutupi apa yang telah terjadi di muka bumi. Dia tidak ingin, si kembar mempunyai pikiran aneh tentang akhir kisah Dustone yang selama ini meraka harap dari buku tua dari papyrus itu.
“Ayo, semua masuk ke mobil. Kita akan pergi ke bulan !”
Gaye dan Maye diam mematung. Tundrey tak bisa lagi bicara.
“Sampai kapan kau akan membohongi mereka, Tundrey. Gaye dan Maye adalah bagian dari dongeng itu, “ ucap Arkesya seraya menangkup kedua tangannya ke dagunya, tanda dia hendak memberikan nasehat bijaksana.
“Tidak ! Tidak !” teriak Tundrey, matanya memerah, “kalian semua, ayo cepat naik.”
Para pembantu bergegas keluar dan naik ke dalam mobil yang sudah disiapkan Presiden. Tundrey adalah Menteri Pertahanan yang tak boleh ditelan oleh Dustone. Dia dan keluarganya harus diselamatkan seperti halnya Presiden.
“Ayah, kami akan menyelamatkan dunia, “ ucap Gaye dan Maye serempak, “kata kakek, hanya kami yang bisa.”
“Tidak, sayang … tidak…”
Tundrey menubruk kedua anaknya dan memeluknya erat. Dia tidak ingin kehilangan keduanya. Kekuatan mereka berdua sudah diramalkan. Dan kedukaan bagi Tundrey ketika mengetahui bahwa kemampuan mereka sudah semakin terasah.
“Ayah … tolong, hentikan !” pekik Tundrey pada Arkesya.
Arkesya terpaku di kursi rodanya. Ini adalah takdir bagi seorang pahlawan.
OoO
Tundrey dan beberapa pasukan berhasil memancing Dustone mendekati pantai. Tempat yang selalu dijauhi makluk mengerikan itu. Dan sesuai prediksi Tundrey, Dustone tidak berani mendekat, ketika jaraknya satu kilometer dari pantai. Tapi dia mulai melemparkan batu dan tanah di sekitar pantai. Batu dan tanah itu langsung memadat ketika menyentuh pantai, membuat langkah Dustone semakin maju mendekati garis pantai.
Gaye dan Maye berdiri di sebilah papan, yang tergantung di helikopter milik Departemen Pertahanan. Tubuh mereka terikat erat. Dan hanya Tundrey yang memperbolehkan dirinya mengendarai helicopter tersebut. Tak dipedulikannya teriakan Presiden di radionya. Bagaimanapun juga, Tundrey tidak akan mengorbankan kedua anaknya begitu saja. Setidaknya, dia pun harus ikut bersama Gaye dan Maye menjadi korban Dustone. Lemparan gumpalan batu dan debu dari Dustone berhasil dihindari oleh helikopter Tundrey dengan tangkas.
Gaye dan Maye mulai berputar.  Saat tangan Dustrone menyambar mereka berdua dan siap menelannya, kekuatan mereka menyambar air laut dan membentuk pusaran. Tundrey berusaha mempertahankan kendali helikopternya, di dalam pusaran air. Mereka tepat berada di atas mulut Dustrone yang terbuka. Dan dalam hitungan detik, Tundrey melepaskan tali penahan papan Gaye dan Maye. Kedua anaknya itu jatuh meluncur ke mulut Dustrone, dan pusaran air laut mengikuti mereka.
“Aku mencintaimu, Gaye … Maye !” bisik Tundrey.
Helikopternya berputar tanpa kendali, terkena pusaran air laut. Pusaran air laut itu tertarik oleh kekuatan Gaye dan Maye, masuk ke dalam mulut Dustrone. Terdengar suara bergemuruh yang dahsyat. Mulut Dustone mulai meleleh terkena air laut. Perlahan lelahan itu merambat ke seluruh kepala. Pusaran air laut semakin besar. Tundrey berhasil keluar dari pusaran air, dan mendaratkan helikopternya di tepi pantai. Masih dalam helikopter, Tundrey mengkomando untuk merudal Dustone. Rudal-rudal air mendera tubuh Dustone. Semula, rudal-rudal itu hanya tertelan oleh tubuh Dustone dan tak ada reaksi apa pun. Tapi, seriring dengan melelehknya kepala dan leher Dustone, kedua kaki raksasanya tak bisa lagi menahan beban tubuhnya. Rudal-rudal air membuat sebagian besar kakinya menjadi lumpur. Perlahan Dustone ambruk diiringi suara gemuruh. Dan pusaran air Gaye dan Maye menjadi hujan air laut, luruh, menyiram gurun.
Terdengar sorak sorai para tentara.  Legenda itu tak akan pernah lagi tertutur ke generasi selanjutnya. Dustone sudah musnah. Tundrey menatap debu dan batu yang berterbangan, yang kemudian luruh ke bumi. Yang dilakukannya kemudian hanya satu, menemukan Gaye dan Maye dalam reruntuhan batu itu. Maka dia pun berlari, diikuti para tentaranya, mengobarak-abrik lumpur dan batu. Dan sungguh aneh, sudah jutaan orang yang ditelan Dustone, tapi tak satu pun bekasnya ada dalam tubuhnya. Dustone benar-benar memusnakah manusia dalam gerusan debu dan batu di tubuhnya. Maka, tak heran, legenda itu tak pernah lekang oleh jaman. Tertutur dan ingin dilupakan, tapi tak pernah bisa terlupa.
Tundrey memukul-mukul lumpur di hadapannya.  Berteriak memanggil Gaye dan Maye. Legenda itu telah musnah, bersama kedua putra tercintanya. Keduanya terlahir dan pergi sebagai pahlawan.
OoO

 Cerpen ini diikut sertakan di Lomba Cerpen Fantasy Fiesta 2012



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...